Dewasa ini, kita menyaksikan sebuah fenomena sosial yang cukup memprihatinkan di ruang publik, terutama di media sosial. Perbedaan pendapat yang seharusnya menjadi rahmat dan sarana memperkaya perspektif, justru sering kali berubah menjadi ajang caci maki, perundungan, hingga pemutusan tali silaturahmi. Seolah-olah, kebenaran hanya milik satu kelompok, sementara yang lain dianggap sebagai musuh yang harus ditundukkan. Padahal, Islam telah memberikan panduan yang sangat komprehensif mengenai bagaimana seorang Muslim seharusnya bersikap ketika berhadapan dengan pandangan yang tidak sejalan dengan pemikirannya.

Keberagaman pemikiran adalah sebuah keniscayaan sejarah dan sunnatullah yang tidak bisa kita hindari. Namun, yang menjadi persoalan besar saat ini bukanlah perbedaan itu sendiri, melainkan hilangnya adab dalam menyikapinya. Kita sering melupakan bahwa sebelum ilmu, ada adab yang harus dikedepankan. Tanpa landasan akhlakul karimah, kecerdasan intelektual hanya akan melahirkan kesombongan yang memecah belah. Allah SWT telah memberikan arahan yang jelas dalam Al-Qur'an mengenai pentingnya menjaga lisan dan tutur kata dalam berinteraksi dengan sesama manusia.

Dalam Artikel

وَقُل لِّعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنزَغُ بَيْنَهُمْ

Artinya: Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. (QS. Al-Isra: 53). Ayat ini menegaskan bahwa pemilihan diksi yang santun adalah kunci untuk menutup pintu-pintu provokasi setan yang ingin merusak ukhuwah Islamiyah.

Dalam sejarah keilmuan Islam, para ulama salaf telah mencontohkan betapa tingginya toleransi mereka terhadap perbedaan ijtihad. Imam Syafi'i pernah berujar bahwa pendapatnya benar namun mengandung kemungkinan salah, sementara pendapat orang lain salah namun mengandung kemungkinan benar. Sikap tawadhu atau rendah hati seperti inilah yang mulai terkikis di tengah masyarakat kita. Banyak orang saat ini lebih mengutamakan kemenangan dalam berdebat daripada mencari titik temu atau kebenaran sejati. Padahal, memenangkan perdebatan dengan cara merendahkan martabat orang lain adalah sebuah kekalahan moral yang nyata.

Rasulullah SAW telah memberikan peringatan keras sekaligus janji yang indah bagi mereka yang mampu menahan diri dari perdebatan yang tidak produktif, meskipun mereka berada di pihak yang benar secara argumen. Beliau bersabda:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا

Artinya: Aku menjamin sebuah rumah di pinggir surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia benar. (HR. Abu Dawud). Hadis ini mengajarkan kita bahwa menjaga kedamaian dan hati sesama Muslim jauh lebih mulia daripada sekadar pengakuan intelektual yang sering kali hanya memuaskan ego pribadi.

Kritik sosial yang perlu kita renungkan adalah bagaimana ruang digital kita telah bertransformasi menjadi medan perang kata-kata yang nir-etika. Jarinya lebih cepat daripada akalnya, dan emosinya lebih dominan daripada imannya. Kita perlu mengembalikan fungsi diskusi sebagai sarana tabayyun, bukan sarana penghakiman. Jika kita merasa perlu meluruskan sebuah kekeliruan, lakukanlah dengan cara yang elegan, berbasis data, dan tetap menghormati sisi kemanusiaan lawan bicara kita. Dakwah dan diskusi harus disampaikan dengan hikmah, bukan dengan amarah.