Fenomena jagat digital saat ini seringkali menampilkan wajah perdebatan yang jauh dari nilai-nilai kesantunan. Perbedaan pendapat, yang seharusnya menjadi ruang untuk memperkaya khazanah pemikiran, justru kerap berubah menjadi medan pertempuran ego yang penuh dengan caci maki. Sebagai umat yang dibekali tuntunan wahyu, kita perlu merenungkan kembali apakah cara kita berinteraksi sudah mencerminkan identitas sebagai pengikut Nabi Muhammad SAW yang diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Dalam kacamata Islam, perbedaan adalah sebuah keniscayaan yang telah diatur oleh Allah SWT sebagai bagian dari sunnatullah. Namun, perbedaan tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk memutus tali persaudaraan atau menciptakan sekat permusuhan. Allah SWT menegaskan prinsip dasar ini dalam Al-Quran Surah Al-Hujurat ayat 10:

Dalam Artikel

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ

Artinya: Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu. Ayat ini menjadi pengingat bahwa fondasi utama dalam berinteraksi dengan sesama Muslim adalah persaudaraan, bukan permusuhan, meskipun terdapat silang pendapat yang tajam di dalamnya.

Seringkali, akar dari perpecahan saat berbeda pendapat bukanlah terletak pada substansi masalahnya, melainkan pada penyakit hati yang bernama kesombongan. Ketika seseorang merasa pendapatnya paling benar dan merendahkan orang lain, ia sebenarnya sedang terjebak dalam sifat warisan iblis yang merasa lebih baik dari sesamanya. Akhlakul karimah menuntut kita untuk tetap rendah hati dan menyadari bahwa kebenaran mutlak hanya milik Allah, sementara pemahaman manusia bersifat nisbi dan terbatas.

Islam tidak melarang diskusi atau tukar pikiran, namun Islam memberikan rambu-rambu yang sangat jelas mengenai metode penyampaiannya agar tidak melukai martabat manusia. Dakwah dan diskusi harus dilandasi dengan kebijaksanaan dan tutur kata yang menyejukkan. Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 125:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Ayat ini menekankan bahwa cara kita menyampaikan kebenaran sama pentingnya dengan kebenaran itu sendiri.

Etika dalam berbeda pendapat juga mencakup kemampuan untuk mendengarkan secara objektif sebelum memberikan tanggapan. Banyak konflik terjadi karena kita terlalu sibuk menyiapkan bantahan sebelum benar-benar memahami argumen lawan bicara secara utuh. Dengan mengedepankan tabayyun atau klarifikasi dan berusaha melihat perspektif orang lain dengan empati, kita telah menjalankan salah satu pilar akhlakul karimah yang dapat mendinginkan suasana yang memanas.