Dewasa ini, ruang publik kita sering kali bising oleh silang sengkarut pendapat yang jauh dari nilai-nilai kesantunan. Perbedaan pandangan, baik dalam ranah politik, sosial, maupun pemahaman keagamaan, kerap kali berujung pada caci maki dan pemutusan tali silaturahmi. Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran paradigma, di mana kebenaran tidak lagi dicari melalui dialog yang sehat, melainkan dipaksakan melalui dominasi narasi dan penghancuran karakter lawan bicara. Sebagai umat yang mengaku mengikuti risalah langit, kita perlu merenung kembali apakah cara kita berinteraksi sudah mencerminkan kemuliaan ajaran yang kita bawa.

Sesungguhnya perbedaan adalah keniscayaan yang telah digariskan oleh Sang Pencipta dalam harmoni alam semesta. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Quran:

Dalam Artikel

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا

Ayat tersebut menegaskan bahwa keberagaman diciptakan agar manusia saling mengenal, bukan saling meniadakan. Kata lita’arafu atau saling mengenal mengandung makna yang dalam, yakni upaya untuk memahami latar belakang, sudut pandang, dan alasan di balik pemikiran orang lain. Tanpa semangat untuk mengenal, perbedaan hanya akan menjadi pemantik api permusuhan yang menghanguskan bangunan persaudaraan yang telah lama kita bangun.

Krisis yang kita hadapi saat ini sebenarnya bukanlah krisis ilmu, melainkan krisis adab. Banyak orang yang merasa memiliki segudang dalil namun kehilangan kemuliaan perilaku saat menyampaikannya. Padahal, misi utama diutusnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia. Beliau bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

Jika dakwah dan diskusi kita justru melahirkan kebencian dan perpecahan, maka kita perlu mempertanyakan kembali orientasi hati kita. Apakah kita sedang membela kebenaran Tuhan, ataukah kita sekadar sedang memuaskan ego pribadi yang ingin terlihat paling benar dan paling pintar di mata manusia lainnya?

Menyikapi perbedaan dengan Akhlakul Karimah menuntut adanya kerendahan hati atau tawadhu. Kita harus menyadari bahwa akal manusia memiliki keterbatasan dalam menangkap kebenaran yang absolut. Imam Syafii, seorang ulama besar, memberikan teladan luar biasa dengan prinsipnya yang terkenal bahwa pendapatnya benar namun mengandung kemungkinan salah, sedangkan pendapat orang lain salah namun mengandung kemungkinan benar. Sikap mental seperti inilah yang mulai hilang dalam diskursus sosial kita, di mana setiap individu merasa memegang kunci tunggal pintu kebenaran.

Di era digital, tantangan ini semakin berat karena anonimitas sering kali melunturkan rasa malu dan kontrol diri. Jari-jemari begitu mudah mengetik kata-kata kasar yang menyakiti hati, seolah-olah tidak ada malaikat yang mencatat setiap ketikan tersebut. Kita sering lupa bahwa menjaga lisan, termasuk tulisan di media sosial, adalah bagian integral dari iman. Akhlakul Karimah seharusnya menjadi filter utama sebelum sebuah opini dilemparkan ke ruang publik, memastikan bahwa apa yang kita sampaikan membawa kemaslahatan, bukan kegaduhan yang tidak produktif.