Kehadiran teknologi digital telah mengubah lanskap dakwah secara fundamental. Generasi Z, sebagai penduduk asli dunia digital, kini mendapatkan asupan spiritual mereka melalui layar gawai, mulai dari video pendek di TikTok hingga utas di platform X. Namun, di balik kemudahan akses ini, muncul sebuah tantangan besar yang mengancam esensi ajaran Islam, yakni pendangkalan makna. Dakwah sering kali terjebak dalam tuntutan algoritma yang mengutamakan durasi singkat dan visual yang menarik, sehingga pesan-pesan agama yang seharusnya mendalam justru disajikan secara instan dan tanpa konteks yang utuh.

Fenomena dakwah yang hanya mengejar viralitas sering kali mengabaikan prinsip hikmah dalam menyampaikan pesan Tuhan. Padahal, Islam mengajarkan bahwa metode penyampaian haruslah tepat sasaran dan penuh kebijaksanaan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:

Dalam Artikel

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik. Ayat ini mengingatkan kita bahwa dakwah bukan sekadar soal seberapa banyak jumlah penonton atau pengikut, melainkan seberapa jauh pesan tersebut mampu menyentuh relung hati dan mengubah perilaku audiens menjadi lebih baik sesuai tuntunan syariat.

Tantangan kedua yang tidak kalah berat adalah masalah verifikasi data atau tabayyun di tengah banjir informasi. Generasi Z sering kali terpapar pada potongan video ceramah yang sudah dipotong sedemikian rupa untuk kepentingan provokasi atau sekadar mencari sensasi. Tanpa kemampuan literasi agama yang mumpuni, mereka rentan terjebak dalam pemahaman yang ekstrem atau bahkan keliru. Penting bagi setiap Muslim digital untuk memegang teguh perintah Allah dalam surat Al-Hujurat:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti. Sikap kritis dalam menerima konten dakwah adalah bentuk dari akhlakul karimah agar kita tidak menjadi penyebar fitnah di ruang siber.

Selain itu, ruang digital sering kali menjadi medan tempur ego yang melunturkan adab. Kolom komentar sering kali penuh dengan perdebatan kasar yang jauh dari nilai-nilai kesantunan Islam. Dakwah digital bagi Generasi Z harus mampu mengembalikan fungsi komunikasi sebagai sarana menyambung silaturahmi, bukan memutusnya. Kita perlu merenungkan kembali perintah Allah untuk senantiasa bertutur kata yang baik kepada siapa pun tanpa terkecuali:

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا