Pergeseran panggung dakwah dari mimbar masjid ke layar gawai adalah keniscayaan zaman yang tak terelakkan. Generasi Z, sebagai penduduk asli dunia digital, tumbuh dalam kepungan arus informasi yang amat deras, serba cepat, dan sering kali dangkal. Agama tidak lagi diserap melalui duduk berlama-lama di majelis taklim, melainkan lewat potongan video singkat berdurasi belasan detik. Fenomena ini menghadirkan peluang sekaligus tantangan besar bagi keberlanjutan pesan Islam yang menghadirkan kedamaian.
Tantangan utama dakwah digital hari ini terletak pada komodifikasi ilmu dan pendangkalan pemahaman. Algoritma media sosial cenderung menguntungkan konten yang provokatif, emosional, dan kontroversial demi mengejar tingkat keterlibatan pembaca. Akibatnya, pemahaman agama kerap tersederhanakan menjadi kutub hitam-putih tanpa kedalaman fiqih dan konteks historis. Generasi Z berisiko terjebak dalam romantisme agama yang instan, tetapi rapuh saat menghadapi kompleksitas kehidupan nyata.
Islam sejatinya telah meletakkan fondasi metodologis dalam bertukar pesan dan mengajak kepada kebaikan. Allah SWT menegaskan pentingnya hikmah dan tutur kata yang santun melalui firman-Nya:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
Ayat ini menegaskan bahwa dakwah bukan sekadar menyampaikan kebenaran secara telanjang, melainkan bagaimana kebenaran itu dikemas dengan kebijaksanaan dan pengajaran yang baik. Di panggung digital, hikmah ini sering kali terabaikan demi memenuhi selera algoritma dan pencarian ketenaran semata.
Selain persoalan kedalaman materi, pergeseran ini juga menguji akhlak para pendakwah maupun penikmatnya. Ruang komentar media sosial kerap berubah menjadi arena penghakiman massal, caci maki, dan tuduhan fasik yang dikemas atas nama amar ma'ruf nahi munkar. Semangat memperbaiki masyarakat yang kehilangan kesantunan justru menjauhkan Generasi Z dari keindahan Islam itu sendiri. Agama yang seharusnya menjadi peneduh jiwa justru tampil sebagai sosok yang garang dan tidak toleran.
Untuk membentengi diri dari jebakan disinformasi dan narasi keagamaan yang menyesatkan, Islam mengajarkan tradisi verifikasi yang sangat ketat. Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qur'an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Prinsip tabayyun ini menjadi instrumen kritis bagi Generasi Z di era banjir informasi. Sebelum membagikan ulang sebuah potongan video dakwah atau narasi keagamaan, setiap individu Muslim wajib memeriksa kesahihan sumber dan dampak sosial dari penyebaran informasi tersebut.

