Ilmu Tauhid merupakan fondasi paling mendasar dalam bangunan syariat Islam. Mengenal Allah Swt (Ma’rifatullah) bukan sekadar mengetahui nama-Nya, melainkan memahami dengan keyakinan yang menghujam ke dalam sanubari mengenai sifat-sifat keagungan yang melekat pada Dzat-Nya. Para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah, khususnya dalam tradisi Asy’ariyah dan Maturidiyah, telah merumuskan sistematika pemahaman sifat-sifat Allah guna memagari akidah umat dari pemahaman yang menyimpang seperti tasybih (penyerupaan) maupun ta’thil (peniadaan sifat). Sifat wajib bagi Allah adalah sifat yang secara akal mustahil tidak ada pada Dzat Allah Swt. Pembahasan ini mencakup sifat Nafsiyah, Salbiyah, Ma’ani, hingga Ma’nawiyah yang menjadi pilar dalam memahami keesaan-Nya.
Sifat pertama yang menjadi titik tolak keimanan adalah Wujud. Keberadaan Allah Swt bersifat mutlak dan mandiri (Wajib al-Wujud), berbeda dengan keberadaan makhluk yang bersifat mungkin (Jaiz al-Wujud) dan bergantung pada sebab lain. Secara argumentasi logis, adanya keteraturan alam semesta ini merupakan dalil yang tak terbantahkan atas eksistensi Sang Pencipta.
هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Terjemahan & Tafsir Mendalam: Dialah Allah, tidak ada Tuhan selain Dia. Maharaja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Menjaga Keamanan, Pemelihara Keselamatan, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan (QS. Al-Hasyr: 23-24). Dalam tinjauan tafsir, ayat ini menegaskan bahwa sifat Wujud Allah diikuti dengan sifat-sifat kesempurnaan lainnya. Eksistensi-Nya tidak memerlukan ruang dan waktu karena Dialah yang menciptakan keduanya. Para mufassir menekankan bahwa penyebutan Al-Khaliq (Maha Pencipta) dan Al-Bari (Maha Mengadakan) menunjukkan bahwa wujud Allah adalah asal mula dari segala yang ada, dan ketidadaan-Nya adalah suatu kemustahilan akal yang mutlak.
Setelah menetapkan Wujud, maka wajib bagi Allah memiliki sifat Qidam (Terdahulu) dan Baqa (Kekal). Allah Swt tidak didahului oleh ketiadaan dan tidak akan diakhiri oleh kepunahan. Sifat ini membedakan secara tegas antara Sang Pencipta dengan ciptaan-Nya yang terikat oleh dimensi temporal awal dan akhir.
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ لَا يَعْزُبُ عَنْهُ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَلَا أَصْغَرُ مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْبَرُ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ لِيَجْزِيَ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
Terjemahan & Tafsir Mendalam: Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. Al-Hadid: 3). Secara terminologi akidah, Al-Awwal dalam ayat ini bermakna Qidam, yakni keberadaan-Nya tanpa permulaan. Sedangkan Al-Akhir bermakna Baqa, yakni keberadaan-Nya tanpa kesudahan. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa sifat ini meniscayakan Allah sebagai penyebab pertama (Al-Illah al-Ula) yang tidak membutuhkan penyebab lain. Jika Allah memiliki permulaan, maka Dia adalah makhluk, dan itu mustahil. Kekekalan Allah bersifat esensial (Baqa Dzat), berbeda dengan kekekalan surga atau neraka yang bersifat pemberian (Baqa bi Iradatillah).
Selanjutnya adalah sifat Mukhalafatuhu lil-Hawadithi yang berarti Allah berbeda dengan makhluk-Nya dalam segala hal, baik dalam Dzat, Sifat, maupun Perbuatan. Sifat ini merupakan pilar tanzih (penyucian Allah) dari segala bentuk materialisme dan antropomorfisme. Allah tidak bertangan, tidak bermata dalam makna fisik, dan tidak membutuhkan tempat (makan).
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْواجًا يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

