Tauhid merupakan poros utama dalam seluruh bangunan syariat Islam. Ia bukan sekadar pengakuan lisan, melainkan sebuah realitas ontologis yang mendasari eksistensi alam semesta. Di antara sekian banyak wahyu yang turun, Surah Al-Ikhlas menempati posisi yang sangat istimewa karena ia murni berbicara tentang jati diri Sang Pencipta tanpa tercampur dengan hukum fiqih atau kisah sejarah. Secara etimologis, Al-Ikhlas berarti memurnikan, yang mengisyaratkan bahwa memahami surah ini akan memurnikan akidah seorang hamba dari noda syirik, baik yang nyata maupun yang tersembunyi. Para ulama salaf menyebut surah ini sebagai Asasul Quran karena di dalamnya terkandung intisari ketuhanan yang menjadi fondasi bagi seluruh cabang ilmu agama.

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ . اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ . لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْۙ . وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ

Dalam Artikel

Terjemahan dan Syarah Mendalam: Katakanlah (Muhammad), Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia. Dalam ayat pertama, perintah Qul (Katakanlah) ditujukan kepada Rasulullah SAW untuk menjawab tantangan kaum musyrikin yang meminta deskripsi tentang nasab Tuhan. Penggunaan kata Ahad di sini berbeda secara fundamental dengan kata Wahid. Jika Wahid merujuk pada angka satu yang bisa diikuti oleh angka dua, maka Ahad adalah keesaan mutlak yang meniadakan keberbilangan dalam dzat, sifat, dan perbuatan-Nya. Ini adalah penegasan bahwa Allah tidak tersusun dari bagian-bagian (juz) dan tidak ada entitas lain yang berbagi hakikat ketuhanan dengan-Nya.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا فِي قَوْلِهِ تَعَالَى اَللّٰهُ الصَّمَدُ قَالَ هُوَ السَّيِّدُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي سُؤْدُدِهِ وَالشَّرِيفُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي شَرَفِهِ وَالْعَظِيمُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي عَظَمَتِهِ وَالْحَلِيمُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي حِلْمِهِ وَالْعَلِيمُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي عِلْمِهِ وَالْحَكِيمُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي حِكْمَتِهِ وَهُوَ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي أَنْوَاعِ الشَّرَفِ وَالسُّؤْدُدِ وَهُوَ اللّٰهُ سُبْحَانَهُ هَذِهِ صِفَتُهُ لَا تَنْبَغِي إِلَّا لَهُ

Terjemahan dan Syarah Mendalam: Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma mengenai firman-Nya Allahus Samad, beliau berkata: Dia adalah Penguasa yang telah sempurna dalam kekuasaan-Nya, Yang Maha Mulia yang telah sempurna dalam kemuliaan-Nya, Yang Maha Agung yang telah sempurna dalam keagungan-Nya, Yang Maha Penyantun yang telah sempurna dalam kesantunan-Nya, Yang Maha Mengetahui yang telah sempurna dalam pengetahuan-Nya, dan Yang Maha Bijaksana yang telah sempurna dalam kebijaksanaan-Nya. Dialah yang sempurna dalam segala bentuk kemuliaan dan kekuasaan, dan Dialah Allah Subhanahu wa Taala, sifat ini tidak layak disandang kecuali bagi-Nya. Penjelasan Ibnu Abbas ini memberikan dimensi luas bagi kata As-Samad. Secara bahasa, As-Samad berarti sesuatu yang padat dan tidak berongga, yang dalam konteks teologis bermakna Allah tidak membutuhkan makan, minum, atau bantuan apa pun, sementara seluruh makhluk bergantung sepenuhnya kepada-Nya dalam setiap tarikan napas mereka.

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ . وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ . هَذَا نَفْيٌ لِجَمِيعِ أَنْوَاعِ الْمُمَاثَلَةِ وَالْمُجَانَسَةِ وَالْوِلَادَةِ لِأَنَّ الْوِلَادَةَ تَقْتَضِي انْفِصَالَ جُزْءٍ مِنَ الْوَالِدِ وَاللّٰهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مُنَزَّهٌ عَنِ التَّبَعُّضِ وَالتَّجَزُّؤِ وَالْمُشَابَهَةِ لِلْمَخْلُوقَاتِ فِي الذَّاتِ وَالصِّفَاتِ وَالْأَفْعَالِ

Terjemahan dan Syarah Mendalam: Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya. Ayat ini merupakan penafian (peniadaan) terhadap segala bentuk keserupaan, sejenis, dan kelahiran. Sebab, kelahiran meniscayakan adanya bagian yang terpisah dari induknya, sedangkan Allah Subhanahu wa Taala Maha Suci dari sifat terbagi-bagi, memiliki bagian, atau menyerupai makhluk baik dalam dzat, sifat, maupun perbuatan-Nya. Kalimat Walam yakun lahu kufuwan ahad menutup surah ini dengan sebuah deklarasi kemustahilan adanya tandingan bagi Allah. Kata Kufuwan mencakup makna kesetaraan dalam derajat, kekuatan, maupun hak disembah. Ini adalah bantahan telak bagi ideologi dualisme, trinitas, maupun panteisme yang mencoba menyamakan Khalik dengan makhluk.

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا سَمِعَ رَجُلًا يَقْرَأُ قُلْ هُوَ اللّٰهُ أَحَدٌ يُرَدِّدُهَا فَلَمَّا أَصْبَحَ جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ وَكَأَنَّ الرَّجُلَ يَتَقَالُّهَا فَقَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ

Terjemahan dan Syarah Mendalam: Dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu anhu, ada seorang laki-laki mendengar orang lain membaca Qul Huwallahu Ahad dengan berulang-ulang. Ketika pagi hari, ia mendatangi Rasulullah SAW dan menceritakan hal itu, seolah-olah ia menganggap remeh surah tersebut. Maka Rasulullah SAW bersabda: Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya surah itu sebanding dengan sepertiga Al-Quran. Mengapa sepertiga Al-Quran? Para ulama menjelaskan bahwa isi Al-Quran terbagi menjadi tiga pilar besar: Hukum-hukum (Ahkam), Berita dan Kisah (Akhbar wa Qashash), serta Tauhid (Sifatullah). Karena Surah Al-Ikhlas sepenuhnya memuat pilar Tauhid secara murni dan padat, maka ia merepresentasikan sepertiga dari keseluruhan pesan wahyu Ilahi.