Fenomena riuh rendahnya jagat digital hari ini sering kali menampilkan wajah yang kurang elok dalam berinteraksi. Perbedaan pandangan, yang sejatinya merupakan fitrah kemanusiaan, justru kerap menjadi sumbu ledak bagi caci maki dan permusuhan yang tak berkesudahan. Kita seolah lupa bahwa kebenaran yang kita yakini tidak memberikan hak bagi kita untuk merendahkan martabat sesama manusia. Di sinilah letak ujian sesungguhnya bagi seorang Muslim, yakni bagaimana ia tetap memegang teguh prinsipnya tanpa harus kehilangan kemuliaan budi pekertinya.

Dalam kacamata Islam, perbedaan atau ikhtilaf bukanlah sebuah aib, melainkan rahmat yang memperkaya khazanah pemikiran. Allah Subhanahu wa Ta'ala menciptakan manusia dengan latar belakang dan kapasitas intelektual yang berbeda-beda agar kita saling mengenal dan belajar satu sama lain. Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Quran:

Dalam Artikel

لِتَعَارَفُوا

Artinya: Agar kamu saling mengenal. (QS. Al-Hujurat: 13). Namun, realita sosial menunjukkan adanya kecenderungan untuk memaksakan kehendak dan merasa paling benar sendiri. Sikap eksklusif ini sering kali menutup pintu dialog dan memutus tali persaudaraan yang telah dibangun dengan susah payah.

Al-Quran telah memberikan tuntunan yang sangat jelas mengenai bagaimana kita seharusnya berinteraksi dengan sesama, terutama dalam menyampaikan kata-kata di ruang publik. Allah berfirman:

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

Artinya: Dan bertutur katalah yang baik kepada manusia. (QS. Al-Baqarah: 83). Perintah ini bersifat umum, mencakup siapa saja, terlepas dari apakah mereka sejalan dengan pemikiran kita atau tidak. Menggunakan kata-kata yang santun bukan berarti kita lemah dalam prinsip, melainkan menunjukkan kematangan jiwa dan kedalaman pemahaman agama yang inklusif.

Salah satu penghambat utama dalam menyikapi perbedaan dengan bijak adalah penyakit kesombongan intelektual. Sombong dalam berpendapat muncul ketika seseorang merasa ilmu yang dimilikinya telah mencapai puncak, sehingga ia memandang rendah orang lain yang berbeda pandangan. Padahal, esensi dari ilmu adalah melahirkan rasa takut kepada Allah dan kerendahhatian di hadapan makhluk-Nya. Jika ilmu yang kita miliki justru membuat kita semakin kasar dan gemar menghujat, maka ada yang perlu dievaluasi dari niat dan cara kita belajar.

Rasulullah Muhammad SAW diutus ke dunia ini dengan misi utama yang sangat mulia, yaitu memperbaiki dan menyempurnakan akhlak manusia. Beliau bersabda dalam sebuah hadis: