Fenomena kegaduhan di ruang publik digital saat ini sering kali menampilkan wajah yang jauh dari kesejukan agama. Perbedaan pendapat, yang seharusnya menjadi ladang dialektika untuk mencari kebenaran, justru berubah menjadi ajang penghakiman dan caci maki. Kita sering terjebak dalam rasa merasa benar sendiri, sehingga lupa bahwa di atas setiap ilmu ada adab yang harus dijaga. Tanpa akhlak, argumentasi yang paling logis sekalipun hanya akan menjadi alat untuk merendahkan sesama manusia dan menciptakan perpecahan yang tidak perlu.
Islam memandang keberagaman sebagai ketetapan Tuhan yang tidak bisa dihindari atau sunnatullah. Perbedaan suku, bangsa, hingga cara pandang adalah sarana untuk saling mengenal, bukan untuk saling meniadakan. Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا
Ayat ini mengisyaratkan bahwa tujuan utama dari keragaman adalah lita'arafu atau saling mengenal. Mengenal di sini bukan sekadar mengetahui nama, melainkan memahami latar belakang, menghargai perspektif, dan membangun empati di tengah perbedaan yang ada. Ketika kita menolak untuk memahami orang lain, kita sebenarnya sedang melawan fitrah kemanusiaan yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta.
Persoalan besar muncul ketika fanatisme buta terhadap satu pendapat menutup pintu dialog. Banyak di antara kita yang lebih mendahulukan ego daripada substansi kebenaran. Padahal, para ulama salaf terdahulu telah memberikan teladan luar biasa dalam mengelola perbedaan. Imam Syafi'i pernah memberikan kaidah bahwa pendapatnya benar namun mengandung kemungkinan salah, sementara pendapat orang lain salah namun mengandung kemungkinan benar. Sikap rendah hati inilah yang kini mulai luntur dan digantikan oleh arogansi intelektual yang destruktif di media sosial.
Akhlakul karimah bukanlah aksesori dalam beragama, melainkan inti dari risalah kenabian yang paling fundamental. Rasulullah SAW diutus ke muka bumi untuk menyempurnakan tatanan perilaku manusia agar lebih bermartabat. Beliau bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
Jika misi utama kenabian adalah menyempurnakan akhlak, maka setiap klaim keberagamaan yang diiringi dengan lisan yang kotor dan perilaku yang kasar patut dipertanyakan keabsahannya. Bagaimana mungkin seseorang mengaku sedang membela agama namun di saat yang sama ia mengoyak kehormatan saudaranya hanya karena perbedaan pilihan politik atau pemikiran keagamaan?
Kritik yang beradab adalah kritik yang fokus pada ide, bukan menyerang pribadi atau karakter seseorang. Di era banjir informasi ini, batas antara kritik dan fitnah sering kali kabur akibat hilangnya rasa hormat. Akhlak mengajarkan kita untuk senantiasa bertabayyun atau melakukan klarifikasi sebelum menghakimi sebuah pernyataan. Tanpa budaya tabayyun, perbedaan pendapat akan terus memicu konflik sosial yang berkepanjangan. Kita perlu menyadari bahwa setiap kata yang kita ketik atau lontarkan akan dimintai pertanggungjawabannya kelak.

