Fenomena riuh rendahnya ruang publik digital belakangan ini sering kali berubah menjadi medan pertempuran ego daripada ruang pertukaran gagasan yang sehat. Kita menyaksikan bagaimana perbedaan pandangan politik, mazhab, hingga pilihan gaya hidup menjadi sumbu ledak kebencian yang menghanguskan tali persaudaraan. Padahal, Islam memandang keberagaman sebagai kehendak Tuhan atau sunnatullah yang semestinya menjadi rahmat, bukan laknat. Kehilangan kendali atas lisan dan tulisan menunjukkan adanya krisis spiritualitas yang mendalam di tengah masyarakat kita yang mengaku religius.
Perbedaan pendapat atau ikhtilaf adalah keniscayaan dalam sejarah panjang pemikiran Islam. Para ulama terdahulu telah memberikan keteladanan luar biasa bahwa ketajaman argumen tidak harus tumpul oleh caci maki. Persoalannya, hari ini kita sering mencampuradukkan antara pencarian kebenaran substantif dengan pembenaran diri yang dibungkus oleh kesombongan intelektual. Kita lebih sibuk membangun benteng pertahanan opini daripada membuka jendela pemahaman untuk melihat perspektif orang lain secara adil dan jernih.
Allah SWT telah memberikan panduan eksplisit dalam berinteraksi dengan sesama manusia, terutama saat terjadi gesekan komunikasi atau perbedaan pandangan. Perintah untuk bertutur kata baik adalah fondasi utama dalam membangun jembatan pemahaman di tengah jurang perbedaan. Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur'an:
وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا
Artinya: Dan bertuturlah kata yang baik kepada manusia. (QS. Al-Baqarah: 83). Perintah ini tidak hanya berlaku saat kita bersepakat, namun justru menjadi ujian terberat ketika kita berada dalam posisi yang berseberangan dengan orang lain.
Ironisnya, di era banjir informasi ini, banyak orang merasa memiliki otoritas instan untuk menghakimi tanpa proses tabayyun yang memadai. Kritik yang disampaikan sering kali bersifat personal dan menyerang martabat, bukan lagi menguliti esensi masalah yang diperdebatkan. Kita perlu menyadari bahwa memenangkan perdebatan dengan cara menjatuhkan kehormatan orang lain adalah sebuah kekalahan moral yang nyata di hadapan Sang Khalik. Kebenaran yang disampaikan dengan cara yang kasar sering kali justru menjauhkan orang dari kebenaran itu sendiri.
Imam Syafi’i pernah memberikan sebuah pelajaran berharga tentang kerendahan hati dalam berdiskusi. Beliau berujar bahwa beliau tidak pernah berdebat dengan seseorang kecuali berharap agar kebenaran muncul dari lisan lawannya. Ini adalah puncak dari akhlakul karimah dalam berpendapat. Beliau menyadari bahwa kebenaran adalah milik Allah semata, dan manusia hanyalah pencari yang sangat mungkin melakukan kesalahan. Sikap ini kontras dengan mentalitas kita sekarang yang cenderung merasa paling benar dan memandang rendah mereka yang berbeda jalur.
Rasulullah SAW juga mengingatkan kita untuk menjauhi perdebatan yang tidak berujung pada kebaikan, meskipun kita berada di pihak yang benar secara argumen. Beliau bersabda:
أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِيًّا

