Fenomena jagat digital dan ruang publik kita hari ini sering kali terjebak dalam riuh rendah perdebatan yang kehilangan substansi. Perbedaan pendapat yang sejatinya merupakan rahmat dan keniscayaan sosiologis, justru kerap berubah menjadi amunisi untuk saling menjatuhkan, mencaci, hingga memutus tali silaturahmi. Sebagai bangsa dengan napas religius yang kuat, sangat ironis jika kita melihat bagaimana etika berkomunikasi seolah tergerus oleh egoisme kebenaran tunggal. Kita perlu merenungkan kembali bahwa dalam Islam, cara kita menyampaikan kebenaran sama pentingnya dengan kebenaran itu sendiri.

Islam memandang perbedaan sebagai instrumen untuk saling mengenal dan melengkapi, bukan alasan untuk berseteru. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menegaskan dalam Al-Qur'an bahwa keragaman adalah desain ilahiah agar manusia saling belajar. Tanpa adanya kesadaran akan persaudaraan, perbedaan pendapat hanya akan berujung pada perpecahan yang melemahkan sendi-sendi kemasyarakatan. Oleh karena itu, prinsip dasar yang harus dipegang adalah menjaga ikatan persaudaraan di atas kepentingan memenangkan argumen pribadi, sebagaimana firman-Nya:

Dalam Artikel

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ

Artinya: Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu yang berselisih. (QS. Al-Hujurat: 10).

Sikap kritis memang diperlukan dalam mengawal isu sosial, namun kekritisan yang tanpa dibarengi dengan akhlakul karimah hanya akan melahirkan kebencian baru. Banyak orang merasa memiliki otoritas untuk menghakimi pihak lain hanya karena merasa lebih berilmu atau lebih benar secara moral. Padahal, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah memberikan peringatan keras terhadap perdebatan yang tidak berujung pada kebaikan, meskipun seseorang berada di pihak yang benar. Beliau menjanjikan kemuliaan bagi mereka yang mampu menahan diri demi menjaga keharmonisan.

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا

Artinya: Aku menjamin sebuah rumah di pinggir surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia berada di pihak yang benar. (HR. Abu Dawud).

Sejarah para ulama salaf terdahulu memberikan kita teladan luar biasa tentang bagaimana menyikapi perbedaan. Imam Syafi'i pernah berujar bahwa pendapatnya benar namun mengandung kemungkinan salah, sedangkan pendapat orang lain salah namun mengandung kemungkinan benar. Sikap rendah hati atau tawadhu inilah yang hilang dari diskursus publik kita saat ini. Kita terlalu sering merasa paling suci dan paling tahu, sehingga menutup pintu dialog yang sehat. Padahal, esensi dari sebuah diskusi adalah mencari titik temu demi kemaslahatan bersama, bukan untuk menunjukkan siapa yang paling dominan.

Lebih jauh lagi, cara kita berinteraksi dengan mereka yang berbeda pandangan haruslah didasari pada prinsip dakwah yang merangkul, bukan memukul. Menghujat lawan bicara dengan kata-kata kasar atau label negatif hanya akan menjauhkan mereka dari hidayah dan kebenaran yang ingin kita sampaikan. Islam mengajarkan metode dialektika yang elegan, yaitu dengan hikmah dan nasihat yang baik. Jika pun harus berdebat, maka lakukanlah dengan cara yang paling santun agar martabat kemanusiaan tetap terjaga.