Di era digital saat ini, ruang publik kita kerap kali berubah menjadi medan pertempuran kata-kata yang bising dan melelahkan. Perbedaan pendapat, yang sejatinya merupakan sunnatullah dan rahmat, kini sering kali disikapi dengan permusuhan, caci maki, dan saling menjatuhkan kehormatan. Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran nilai yang mengkhawatirkan dalam masyarakat kita, di mana ego dan keinginan untuk menang mengalahkan pencarian akan kebenaran. Sebagai umat yang dianugerahi tuntunan wahyu, kita perlu bertanya pada diri sendiri, ke mana perginya akhlak mulia yang diajarkan oleh Rasulullah SAW ketika kita berbeda pandangan?
Islam tidak pernah melarang perbedaan pendapat. Sejarah mencatat bagaimana para sahabat nabi dan ulama mazhab saling berbeda ijtihad, namun mereka tetap saling menghormati dan mencintai. Al-Quran memberikan panduan yang sangat jelas tentang bagaimana berinteraksi dan berdiskusi, terutama ketika menghadapi perbedaan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
Ayat ini menegaskan bahwa dakwah dan diskusi harus dilakukan dengan hikmah, nasihat yang baik, dan jika harus mendebat, maka debatlah dengan cara yang terbaik. Cara yang terbaik di sini tentu saja melibatkan tutur kata yang santun, argumen yang logis, serta penghormatan terhadap lawan bicara.
Namun, realitas yang kita saksikan di media sosial hari ini sangat jauh dari tuntunan tersebut. Jempol netizen begitu mudah mengetik kalimat-kalimat sarkas, merendahkan, bahkan mengafirkan sesama Muslim hanya karena perbedaan pilihan politik, mazhab fikih, atau pandangan sosial. Kita seolah lupa bahwa di balik layar gawai yang kita genggam, ada manusia lain yang memiliki kehormatan yang wajib dijaga. Kebebasan berpendapat telah disalahartikan sebagai kebebasan untuk menghujat, seolah-olah kebenaran hanya milik kelompok sendiri dan orang lain mutlak bersalah.
Dalam sebuah hadis yang sangat populer, Rasulullah SAW memberikan kriteria yang sangat mendasar mengenai identitas seorang Muslim sejati. Beliau bersabda:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
Artinya, seorang Muslim yang sejati adalah dia yang membuat orang-orang Muslim lainnya selamat dari bahaya lisan dan tangannya. Di zaman modern ini, tangan tidak lagi hanya merujuk pada kekerasan fisik, melainkan juga ketikan jari di layar ponsel yang bisa menyebarkan fitnah, adu domba, dan ujaran kebencian. Jika kita belum bisa memberikan manfaat kepada orang lain, setidaknya pastikan bahwa lisan dan tulisan kita tidak menjadi sumber luka bagi hati sesama.
Para ulama terdahulu senantiasa menekankan pentingnya adab sebelum ilmu. Seseorang yang memiliki ilmu yang luas namun hampa dari adab akan cenderung menggunakan ilmunya untuk menyombongkan diri dan merendahkan orang lain. Akhlakul karimah adalah benteng yang menjaga agar ilmu yang kita miliki tidak berubah menjadi racun yang merusak ukhuwah. Ketika kita berbeda pendapat, adab menuntut kita untuk mendengarkan dengan saksama, berusaha memahami sudut pandang orang lain, dan tidak terburu-buru menghakimi niat di balik ucapan mereka.

