Ilmu Tauhid merupakan fondasi utama dalam bangunan keislaman seorang hamba. Tanpa pemahaman yang benar mengenai siapa Tuhan yang disembahnya, maka seluruh amal ibadah kehilangan ruh dan orientasinya. Dalam tradisi keilmuan Ahlussunnah wal Jamaah, khususnya mazhab Asy-syairah dan Maturidiyah, para ulama telah merumuskan metodologi sistematis untuk mengenal Allah melalui sifat-sifat-Nya. Rumusan dua puluh sifat wajib ini bukanlah upaya membatasi kesempurnaan Allah yang tak terhingga, melainkan sebuah perangkat epistemologis bagi akal manusia agar mampu membedakan antara Sang Khalik yang bersifat Qadim dengan makhluk yang bersifat Huduts. Pembahasan ini mencakup dimensi Nafsiyah, Salbiyah, Ma'ani, dan Ma'nawiyah yang saling berkaitan secara logis dan teologis.

فَأَوَّلُ وَاجِبٍ عَلَى مَنْ كُلِّفَا ۞ مَعْرِفَةُ اللهِ بِتَوْحِيْدٍ عُرِفَا. وَهِيَ عِشْرُوْنَ صِفَةً وَاجِبَةً لِلَّهِ تَعَالَى، تَنْقَسِمُ إِلَى أَرْبَعَةِ أَقْسَامٍ: نَفْسِيَّةٌ، وَسَلْبِيَّةٌ، وَمَعَانِي، وَمَعْنَوِيَّةٌ. فَالنَّفْسِيَّةُ هِيَ الْوُجُوْدُ، وَالسَّلْبِيَّةُ خَمْسَةٌ: الْقِدَمُ وَالْبَقَاءُ وَمُخَالَفَتُهُ لِلْحَوَادِثِ وَقِيَامُهُ بِنَفْسِهِ وَالْوَحْدَانِيَّةُ. ثُمَّ صِفَاتُ الْمَعَانِي وَهِيَ سَبْعَةٌ: الْقُدْرَةُ وَالْإِرَادَةُ وَالْعِلْمُ وَالْحَيَاةُ وَالسَّمْعُ وَالْبَصَرُ وَالْكَلَامُ.

Dalam Artikel

Terjemahan dan Syarah Mendalam: Kewajiban pertama bagi setiap mukalaf adalah mengenal Allah dengan tauhid yang benar. Sifat wajib bagi Allah yang harus diyakini secara terperinci berjumlah dua puluh, yang terbagi dalam empat kategori utama. Pertama, Sifat Nafsiyah yakni Al-Wujud (Ada). Keberadaan Allah adalah niscaya (Wajib al-Wujud) secara esensi-Nya, bukan karena diciptakan. Kedua, Sifat Salbiyah yang berfungsi meniadakan hal-hal yang tidak layak bagi keagungan Allah, meliputi: Qidam (Dahulu tanpa awal), Baqa (Kekal tanpa akhir), Mukhalafatu lil Hawaditsi (Berbeda dengan makhluk), Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri sendiri), dan Wahdaniyah (Esa). Ketiga, Sifat Ma'ani yang merupakan sifat eksistensial pada Zat Allah, terdiri dari: Qudrat (Kuasa), Iradat (Berkehendak), Ilmu (Mengetahui), Hayat (Hidup), Sama' (Mendengar), Bashar (Melihat), dan Kalam (Berfirman). Pembagian ini memberikan struktur berpikir yang kokoh bagi seorang mukmin dalam menafsirkan realitas ketuhanan.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ. فَمُخَالَفَتُهُ تَعَالَى لِلْحَوَادِثِ تَعْنِي أَنَّهُ لَيْسَ بِجِرْمٍ وَلَا عَرَضٍ، وَلَا يَحُلُّ فِي مَكَانٍ وَلَا يَجْرِي عَلَيْهِ زَمَانٌ. سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يَقُولُ الظَّالِمُونَ عُلُوًّا كَبِيرًا. فَكُلُّ مَا خَطَرَ بِبَالِكَ فَاللهُ بِخِلَافِ ذَلِكَ، لِأَنَّ الْعَقْلَ الْبَشَرِيَّ مَحْدُوْدٌ وَالْخَالِقَ غَيْرُ مَحْدُوْدٍ.

Terjemahan dan Syarah Mendalam: Firman Allah dalam Surah Asy-Syura ayat 11 menegaskan bahwa Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Sifat Mukhalafatu lil Hawaditsi (Berbeda dengan yang baru) adalah pilar penyucian (tanzih) yang paling fundamental. Allah bukanlah materi (jirm) yang memiliki dimensi ruang, bukan pula sifat benda (aradh) yang bergantung pada yang lain. Allah tidak bertempat karena tempat adalah makhluk, dan Allah ada sebelum tempat itu diciptakan. Demikian pula, Allah tidak terikat oleh waktu karena waktu adalah ukuran perubahan, sedangkan Allah tidak berubah. Kaidah emas dalam teologi Islam menyebutkan: Apa pun yang terlintas dalam benakmu tentang rupa Allah, maka Allah tidaklah demikian. Hal ini mencegah manusia jatuh ke dalam lubang tasybih (penyerupaan) dan tajsim (pembendaan) yang menyesatkan.

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ. فَالْقُدْرَةُ صِفَةٌ قَدِيْمَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى يَتَأَتَّى بِهَا إِيْجَادُ كُلِّ مُمْكِنٍ وَإِعْدَامُهُ عَلَى وَفْقِ الْإِرَادَةِ. وَالْإِرَادَةُ صِفَةٌ تُخَصِّصُ الْمُمْكِنَ بِبَعْضِ مَا يَجُوْزُ عَلَيْهِ. فَالْعَالَمُ بِأَسْرِهِ أَثَرٌ مِنْ آثَارِ قُدْرَتِهِ وَتَخْصِيْصِ إِرَادَتِهِ، لَا يَقَعُ فِي مُلْكِهِ إِلَّا مَا يَشَاءُ.

Terjemahan dan Syarah Mendalam: Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: Jadilah! maka terjadilah ia (QS. Yasin: 82). Ayat ini menggambarkan keterkaitan antara Sifat Qudrat dan Iradat. Qudrat adalah sifat azali yang melekat pada Zat Allah yang dengannya Allah menciptakan atau meniadakan segala sesuatu yang bersifat mungkin (mumkinat). Sementara Iradat adalah sifat yang mengalokasikan atau menentukan keadaan tertentu bagi makhluk, seperti hidup atau mati, kaya atau miskin. Dalam analisis teologis, kehendak Allah bersifat mutlak dan tidak dipengaruhi oleh motif eksternal. Segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini, mulai dari pergerakan galaksi hingga jatuhnya sehelai daun, merupakan manifestasi nyata dari sinkronisasi antara ilmu, iradat, dan qudrat-Nya yang maha sempurna.

وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الْأَعْلَى وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ. فَالْوَحْدَانِيَّةُ فِي الذَّاتِ تَعْنِي عَدَمَ التَّرْكِيْبِ، وَفِي الصِّفَاتِ تَعْنِي عَدَمَ النَّظِيْرِ، وَفِي الْأَفْعَالِ تَعْنِي أَنَّهُ لَا مُؤَثِّرَ فِي الْكَوْنِ إِلَّا اللهُ. فَلَا شَرِيْكَ لَهُ فِي مُلْكِهِ، وَلَا مُعِيْنَ لَهُ فِي صُنْعِهِ، بَلْ هُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ الَّذِي خَضَعَتْ لَهُ الرِّقَابُ وَذَلَّتْ لَهُ الصِّعَابُ.

Terjemahan dan Syarah Mendalam: Dan bagi Allah-lah sifat yang Maha Tinggi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS. An-Nahl: 60). Sifat Wahdaniyah (Keesaan) mencakup tiga aspek krusial. Pertama, Esa pada Zat, artinya Zat Allah tidak tersusun dari bagian-bagian (kam muttasil) dan tidak ada zat lain yang menyamai-Nya (kam munfasil). Kedua, Esa pada Sifat, artinya Allah tidak memiliki dua sifat yang sama (misalnya dua qudrat) dan tidak ada makhluk yang memiliki sifat yang setara dengan sifat Allah. Ketiga, Esa pada Perbuatan (Af'al), yang berarti hanya Allah satu-satunya pemberi pengaruh (mu'atstsir) yang hakiki di alam semesta ini. Sebab-sebab lahiriah hanyalah perantara (asbab) yang tidak memberikan bekas secara mandiri tanpa izin-Nya. Pemahaman ini melahirkan ketauhidan yang murni, membebaskan manusia dari ketergantungan kepada selain Allah.