Diskursus mengenai ketuhanan merupakan fondasi paling fundamental dalam bangunan keislaman. Memahami sifat-sifat wajib bagi Allah Swt bukan sekadar aktivitas kognitif untuk menghafal daftar istilah, melainkan sebuah upaya dekonstruksi terhadap pemahaman yang keliru dan rekonstruksi keyakinan yang berlandaskan pada integrasi antara wahyu (naql) dan akal sehat (aql). Para ulama mutakallimin, khususnya dari madrasah Asy'ariyah dan Maturidiyah, telah mensistematikkan pemahaman ini ke dalam dua puluh sifat wajib yang secara garis besar terbagi menjadi empat kategori: Nafsiyah, Salbiyah, Ma'ani, dan Ma'nawiyah. Pendekatan ini bertujuan untuk memurnikan tauhid dari noda tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk) dan ta'thil (meniadakan sifat-sifat Allah).
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي. وَقَالَ الْإِمَامُ السَّنُوسِيُّ فِي مُقَدِّمَاتِهِ: فَأَمَّا الصِّفَاتُ الْوَاجِبَةُ لِمَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ فَعِشْرُونَ صِفَةً، وَهِيَ: الْوُجُودُ، وَالْقِدَمُ، وَالْبَقَاءُ، وَمُخَالَفَتُهُ لِلْحَوَادِثِ، وَقِيَامُهُ بِنَفْسِهِ، وَالْوَحْدَانِيَّةُ. فَهَذِهِ سِتَّةٌ، الْأُولَى نَفْسِيَّةٌ وَهِيَ الْوُجُودُ، وَالْخَمْسَةُ بَعْدَهَا سَلْبِيَّةٌ.
Terjemahan & Tafsir Mendalam: Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku (QS. Thaha: 14). Imam al-Sanusi dalam kitab Umm al-Barahin menegaskan bahwa sifat wajib bagi Allah berjumlah dua puluh. Sifat yang pertama adalah al-Wujud (Ada), yang dikategorikan sebagai sifat Nafsiyah, yakni sifat yang berhubungan dengan zat Allah itu sendiri tanpa adanya tambahan makna pada zat tersebut. Eksistensi Allah bersifat absolut (Wajib al-Wujud), berbeda dengan eksistensi makhluk yang bersifat kontingen (Mumkin al-Wujud). Dalil aqli menunjukkan bahwa alam semesta yang baru ini mustahil ada tanpa adanya Pencipta yang bersifat qadim (dahulu).
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ. وَالْمُخَالَفَةُ لِلْحَوَادِثِ مَعْنَاهُ أَنَّهُ تَعَالَى لَيْسَ بِجِرْمٍ وَلَا عَرَضٍ، وَلَا فِي جِهَةٍ، وَلَا لَهُ مَكَانٌ، وَلَا يَجْرِي عَلَيْهِ زَمَانٌ. سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يَقُولُ الظَّالِمُونَ عُلُوًّا كَبِيرًا. هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ.
Terjemahan & Tafsir Mendalam: Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS. Asy-Syura: 11). Ayat ini merupakan landasan utama sifat Mukhalafatu lil Hawaditsi (Berbeda dengan makhluk). Secara epistemologis, sifat ini meniadakan segala bentuk antropomorfisme. Allah bukanlah jirim (materi yang mengambil ruang), bukan pula 'aradh (sifat yang menempel pada materi). Allah tidak terikat oleh dimensi ruang (makan) maupun waktu (zaman), karena ruang dan waktu adalah makhluk yang diciptakan-Nya. Sifat Salbiyah seperti Qidam (Terdahulu tanpa awal) dan Baqa (Kekal tanpa akhir) mempertegas bahwa Allah adalah al-Awwal dan al-Akhir secara mutlak.
لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ. وَالْوَحْدَانِيَّةُ فِي الذَّاتِ وَالصِّفَاتِ وَالْأَفْعَالِ مَعْنَاهَا نَفْيُ الْكَمِّ الْمُتَّصِلِ وَالْمُنْفَصِلِ. فَلَا شَرِيكَ لَهُ فِي مَلْكِهِ وَلَا مُعِينَ لَهُ فِي صُنْعِهِ، بَلْ هُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ الَّذِي خَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا.
Terjemahan & Tafsir Mendalam: Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa (QS. Al-Anbiya: 22). Ini adalah dalil burhan al-tamanu' yang membuktikan sifat Wahdaniyah (Keesaan). Keesaan Allah mencakup tiga aspek: Esa pada Zat (tidak tersusun dari bagian-bagian), Esa pada Sifat (tidak ada yang menyamai kesempurnaan sifat-Nya), dan Esa pada Af'al atau perbuatan (tidak ada pencipta selain Allah). Sifat ini membatalkan segala bentuk politeisme dan dualisme, serta menegaskan bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini adalah murni atas kehendak dan ciptaan Allah tanpa campur tangan kekuatan lain.
إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ. وَلَهُ صِفَاتُ الْمَعَانِي وَهِيَ: الْقُدْرَةُ، وَالْإِرَادَةُ، وَالْعِلْمُ، وَالْحَيَاةُ، وَالسَّمْعُ، وَالْبَصَرُ، وَالْكَلَامُ. وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا. هَذِهِ الصِّفَاتُ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى، قَدِيمَةٌ بِقِدَمِهِ، لَا تُشْبِهُ صِفَاتِ الْمَخْلُوقِينَ فِي كَيْفِيَّتِهَا وَلَا فِي تَعَلُّقَاتِهَا.
Terjemahan & Tafsir Mendalam: Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia (QS. Yasin: 82). Ayat ini berkaitan dengan sifat Qudrah (Kuasa) dan Iradah (Kehendak) yang termasuk dalam Sifat Ma'ani. Sifat Ma'ani adalah sifat-sifat eksistensial yang berdiri pada Zat Allah. Allah memiliki Ilmu yang meliputi segala sesuatu, Hayat (Hidup) yang tidak diawali kematian, serta Sama' (Mendengar) dan Bashar (Melihat) yang tidak memerlukan indra fisik. Khusus mengenai sifat Kalam, Allah berbicara kepada Nabi Musa secara langsung sebagaimana firman-Nya dalam QS. An-Nisa: 164. Kalam Allah bersifat qadim, bukan berupa suara, huruf, maupun bahasa manusia yang baru.

