Ilmu akidah merupakan pilar utama dalam bangunan syariat Islam yang berfungsi sebagai penentu keabsahan iman seorang hamba. Dalam diskursus teologi Islam, khususnya dalam madzhab Asy’ariyah dan Maturidiyah, pengenalan terhadap sifat-sifat Allah Swt diklasifikasikan menjadi sifat wajib, mustahil, dan jaiz. Sifat wajib bagi Allah bukanlah sifat yang baru muncul, melainkan sifat-sifat kesempurnaan yang azali dan abadi yang wajib ada pada dzat Allah Swt secara akal dan syarak. Memahami sifat-sifat ini menuntut kedalaman nalar aqliyah yang diselaraskan dengan otoritas naqliyah agar terhindar dari pemahaman tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk) maupun ta’thil (meniadakan sifat Allah). Kajian ini akan membedah secara ontologis mengenai hakikat sifat-sifat tersebut melalui lima blok analisis utama yang merepresentasikan pembagian sifat Nafsiyah, Salbiyah, Ma’ani, dan Ma’nawiyah.

PENJELASAN BLOK KESATU: SIFAT NAFSIYAH DAN EKSISTENSI DZAT ALLAH

Dalam Artikel

Sifat Nafsiyah adalah sifat yang berhubungan dengan dzat Allah itu sendiri, yaitu Wujud (Ada). Keberadaan Allah adalah sebuah keniscayaan absolut yang tidak didahului oleh tiada dan tidak akan diakhiri oleh tiada. Secara logika formal, alam semesta yang bersifat baru (hadits) ini membutuhkan pencipta (mujid) yang bersifat qadim. Tanpa adanya wujud yang hakiki bagi Allah, maka mustahil segala fenomena kosmik ini dapat teraktualisasi. Berikut adalah landasan fundamental mengenai wujud Allah dalam Al-Quran:

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

TERJEMAHAN DAN TAFSIR MENDALAM BLOK KESATU:

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam. (QS. Al-A’raf: 54). Ayat ini menegaskan bahwa eksistensi Allah dibuktikan melalui af’al (perbuatan) Nya yang menciptakan ruang dan waktu. Frasa Al-Khalqu wal Amru menunjukkan kedaulatan wujud-Nya yang tidak terbatas pada dimensi material. Dalam pandangan ulama mutakallimin, wujud Allah adalah Wujud Hakiki, sedangkan wujud makhluk adalah Wujud Majazi yang bergantung sepenuhnya pada kehendak-Nya.

PENJELASAN BLOK KEDUA: SIFAT SALBIYAH DAN TRANSEDENSI TUHAN

Sifat Salbiyah adalah sifat yang berfungsi untuk meniadakan segala sesuatu yang tidak layak bagi keagungan Allah Swt. Kelompok sifat ini meliputi Qidam (Dahulu), Baqa (Kekal), Mukhalafatu lil Hawaditsi (Berbeda dengan makhluk), Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri sendiri), dan Wahdaniyah (Esa). Fokus utama dalam kategori ini adalah penegasan bahwa Allah tidak menyerupai apapun dalam dimensi ruang, waktu, substansi, maupun aksidensi. Allah terbebas dari batasan fisik dan komposisi materi yang menjadi ciri khas makhluk ciptaan-Nya.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ . فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْوَاجًا يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ