Kajian mengenai akidah merupakan fondasi paling fundamental dalam struktur keislaman, di mana Ma'rifatullah atau mengenal Allah menjadi titik berangkat bagi setiap mukallaf. Para ulama dari kalangan Mutakallimin, khususnya dalam madzhab Asy'ariyah dan Maturidiyah, telah merumuskan sistematika pemahaman sifat-sifat Allah melalui pendekatan dalil naqli (teks wahyu) dan dalil aqli (logika rasional). Sifat wajib bagi Allah bukanlah sekadar atribut yang melekat, melainkan sebuah keniscayaan ontologis yang jika ditiadakan secara logika, maka eksistensi alam semesta ini akan runtuh. Sistematika ini dibagi menjadi empat kategori utama: Nafsiyah, Salbiyah, Ma'ani, dan Ma'nawiyah. Pemahaman mendalam terhadap sifat-sifat ini menghindarkan seorang mukmin dari paham tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk) dan ta'thil (meniadakan sifat Allah).
Sifat pertama yang menjadi pembuka dalam diskursus ini adalah Sifat Nafsiyah, yaitu Wujud. Eksistensi Allah adalah wujud yang bersifat dzati, bukan wujud yang diadakan oleh sebab lain. Berikut adalah penjelasan fundamental dari Imam Muhammad bin Yusuf al-Sanusi dalam kitab monumentalnya:
فَمِمَّا يَجِبُ لِمَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ عِشْرُونَ صِفَةً وَهِيَ الْوُجُودُ وَالْقِدَمُ وَالْبَقَاءُ وَمُخَالَفَتُهُ تَعَالَى لِلْحَوَادِثِ وَقِيَامُهُ تَعَالَى بِنَفْسِهِ فَالْوُجُودُ صِفَةٌ نَفْسِيَّةٌ وَهِيَ الْحَالُ الْوَاجِبَةُ لِلذَّاتِ مَا دَامَتِ الذَّاتُ غَيْرَ مُعَلَّلَةٍ بِعِلَّةٍ وَدَلِيلُ وُجُودِهِ تَعَالَى حُدُوثُ الْعَالَمِ لِأَنَّهُ لَوْ لَمْ يَكُنْ لَهُ مُوجِدٌ لَزِمَ تَرَجُّحُ أَحَدِ الطَّرَفَيْنِ الْمُسَاوِيَيْنِ عَلَى الْآخَرِ بِلَا مُرَجِّحٍ وَهُوَ مُحَالٌ
Terjemahan dan Syarah: Maka di antara sifat yang wajib bagi Tuhan kita yang Maha Agung dan Mulia adalah dua puluh sifat. Yang pertama adalah al-Wujud (Ada). Sifat Nafsiyah ini didefinisikan sebagai kondisi yang pasti ada pada dzat selama dzat itu ada, tanpa disebabkan oleh suatu sebab (illat). Dalil akan wujud-Nya Allah adalah kebaharuan alam semesta (huduth al-alam). Secara logika, alam ini bersifat mungkin (mungkinul wujud), yang berarti ia bisa ada atau tidak ada. Jika alam ini ada, maka pasti ada faktor penguat (murajjih) yang memenangkan sisi ada di atas sisi tidak ada. Tanpa adanya Pencipta yang wajib wujud-Nya, maka akan terjadi tarajjuh bila murajjih (adanya sesuatu tanpa sebab), dan hal tersebut adalah mustahil secara akal.
Setelah menetapkan wujud, para ulama beralih pada Sifat Salbiyah, yaitu sifat yang meniadakan segala hal yang tidak layak bagi keagungan Allah. Salah satu yang paling krusial adalah Wahdaniyah (Keesaan). Sifat ini menafikan adanya bilangan pada dzat, sifat, maupun perbuatan Allah. Hal ini dijelaskan secara mendalam melalui argumentasi Burhan at-Tamanu' yang berakar pada teks Al-Quran berikut:
لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ أَمِ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ هَذَا ذِكْرُ مَنْ مَعِيَ وَذِكْرُ مَنْ قَبْلِي بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ الْحَقَّ فَهُمْ مُعْرِضُونَ
Terjemahan dan Tafsir: Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai Arsy daripada apa yang mereka sifatkan (Surah Al-Anbiya: 22). Ayat ini mengandung argumentasi logis yang disebut para mutakallimin sebagai dalil saling menghalangi. Jika ada dua tuhan, dan satu tuhan ingin menggerakkan suatu benda sementara tuhan lainnya ingin mendiamkannya, maka ada tiga kemungkinan: keduanya berhasil (mustahil karena kontradiksi), keduanya gagal (mustahil karena berarti keduanya lemah), atau salah satu berhasil (maka yang gagal bukanlah tuhan). Oleh karena itu, ketertarikan dan keteraturan alam semesta ini merupakan bukti absolut bahwa Pengaturnya adalah Esa dalam segala aspek-Nya.
Kategori ketiga adalah Sifat Ma'ani, yaitu sifat-sifat eksistensial yang berdiri pada dzat Allah yang memberikan pengaruh pada alam semesta, seperti Qudrah (Kuasa), Iradah (Kehendak), Ilmu (Pengetahuan), dan Kalam (Berfirman). Dalam kitab Jawharat al-Tawhid, Imam Ibrahim al-Laqqani menegaskan posisi sifat-sifat ini sebagai berikut:
ثُمَّ الْعِلْمُ وَالْقُدْرَةُ وَالْإِرَادَةُ وَسَمْعٌ بَصَرٌ كَلَامٌ ذِي اسْتِقَامَةٍ فَإِنَّهَا قَدِيمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى وَلَا نَقُولُ هِيَ الذَّاتُ وَلَا غَيْرُ الذَّاتِ بَلْ هِيَ صِفَاتٌ أَزَلِيَّةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى تَتَعَلَّقُ بِالْمُمْكِنَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ وَالْمُسْتَحِيلَاتِ عَلَى حَسَبِ مَا يَقْتَضِيهِ كُلُّ صِفَةٍ مِنْهَا

