Memahami hakikat ketuhanan merupakan puncak dari segala cabang keilmuan dalam Islam. Para ulama mutakallimin, khususnya dari madrasah Asy'ariyah dan Maturidiyah, telah merumuskan metodologi yang sangat rigid dalam memetakan sifat-sifat yang wajib bagi Allah Swt. Hal ini bukan sekadar hafalan teologis, melainkan sebuah benteng epistemologis untuk menjaga kemurnian tauhid dari rongrongan tasybih (penyerupaan) dan ta'thil (peniadaan sifat). Sifat wajib bagi Allah adalah sifat-sifat yang secara akal tidak mungkin tidak ada pada zat Allah Swt. Penstrukturan ini dimulai dari sifat Nafsiyah, Salbiyah, Ma'ani, hingga Ma'nawiyah, yang semuanya berakar kuat pada teks-teks otoritatif wahyu.
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَجَبَ لَهُ الْوُجُودُ وَالْقِدَمُ وَالْبَقَاءُ، وَتَنَزَّهَ عَنِ الشَّرِيكِ وَالْأَشْبَاهِ وَالْأَعْضَاءِ، نَحْمَدُهُ عَلَى مَا أَوْضَحَ مِنْ دَلَائِلِ تَوْحِيدِهِ، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، الْمُتَّصِفُ بِكُلِّ كَمَالٍ، الْمُنَزَّهُ عَنْ كُلِّ نُقْصَانٍ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمَبْعُوثُ بِإِتْمَامِ مَكَارِمِ الْإِيمَانِ.
Segala puji bagi Allah yang wajib bagi-Nya sifat Wujud (Ada), Qidam (Terdahulu), dan Baqa (Kekal), serta Maha Suci dari sekutu, penyerupaan, dan bagian-bagian tubuh. Kami memuji-Nya atas penjelasan dalil-dalil tauhid-Nya, dan kami bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, yang bersifat dengan segala kesempurnaan dan suci dari segala kekurangan. Sifat pertama yang menjadi fondasi adalah Wujud. Secara ontologis, wujud Allah adalah Wajib al-Wujud, yakni keberadaan yang bersifat niscaya dan tidak didahului oleh ketiadaan. Berbeda dengan makhluk yang bersifat Mumkin al-Wujud, keberadaan kita bergantung pada kehendak sang Pencipta. Dalil aqli menegaskan bahwa keteraturan alam semesta ini mustahil terjadi tanpa adanya penggerak pertama yang ada dengan sendirinya.
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْعَزِيزِ: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ. وَقَالَ الْإِمَامُ السَّنُوسِيُّ فِي أُمِّ الْبَرَاهِينِ: فَأَمَّا الصِّفَاتُ السَّلْبِيَّةُ فَهِيَ خَمْسَةٌ: الْقِدَمُ، وَالْبَقَاءُ، وَمُخَالَفَتُهُ تَعَالَى لِلْحَوَادِثِ، وَقِيَامُهُ تَعَالَى بِنَفْسِهِ، وَالْوَحْدَانِيَّةُ. وَمَعْنَى السَّلْبِيَّةِ أَنَّهَا تَسْلُبُ عَنِ اللَّهِ تَعَالَى مَا لَا يَلِيقُ بِهِ مِنْ صِفَاتِ النَّقْصِ.
Allah Swt berfirman dalam kitab-Nya yang mulia: Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Imam al-Sanusi dalam kitab Umm al-Barahin menjelaskan bahwa sifat Salbiyah terdiri dari lima sifat: Qidam (Dahulu), Baqa (Kekal), Mukhalafatu lil Hawaditsi (Berbeda dengan makhluk), Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri sendiri), dan Wahdaniyah (Esa). Makna dari sifat Salbiyah adalah sifat-sifat yang berfungsi untuk meniadakan atau menafikan segala hal yang tidak layak bagi keagungan Allah Swt. Misalnya, sifat Mukhalafatu lil Hawaditsi menafikan adanya keserupaan Allah dengan makhluk dalam hal zat, sifat, maupun perbuatan. Allah tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, karena ruang dan waktu adalah makhluk (ciptaan), dan Sang Pencipta tidak mungkin terpenjara dalam ciptaan-Nya sendiri.
إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، وَإِنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا. فَالْقُدْرَةُ صِفَةٌ أَزَلِيَّةٌ يَتَأَتَّى بِهَا إِيجَادُ كُلِّ مُمْكِنٍ وَإِعْدَامُهُ عَلَى وَفْقِ الْإِرَادَةِ. وَالْإِرَادَةُ صِفَةٌ أَزَلِيَّةٌ تُخَصِّصُ الْمُمْكِنَ بِبَعْضِ مَا يَجُوزُ عَلَيْهِ. وَالْعِلْمُ صِفَةٌ أَزَلِيَّةٌ تَنْكَشِفُ بِهَا الْمَعْلُومَاتُ عَلَى مَا هِيَ عَلَيْهِ انْكِشَافًا لَا يَحْتَمِلُ النَّقِيضَ.
Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya ilmu Allah meliputi segala sesuatu. Di sini kita memasuki pembahasan Sifat Ma'ani, yaitu sifat-sifat yang secara substansial ada pada zat Allah. Qudrah (Kuasa) adalah sifat azali yang dengannya Allah mewujudkan atau meniadakan segala kemungkinan sesuai dengan Iradah (Kehendak). Iradah sendiri adalah sifat yang menentukan spesifikasi dari setiap makhluk, seperti menentukan ukuran, waktu, dan tempat. Sementara itu, Ilmu adalah sifat yang menyingkap segala sesuatu secara mutlak, baik yang sudah terjadi, sedang terjadi, maupun yang akan terjadi, bahkan hal-hal yang tidak terjadi seandainya terjadi maka bagaimana terjadinya. Ketiga sifat ini—Qudrah, Iradah, dan Ilmu—merupakan pilar utama dalam memahami bagaimana Allah mengatur alam semesta ini dengan presisi yang sempurna tanpa ada cacat sedikit pun.
وَتَمَامُ الْعِشْرِينَ صِفَةً هِيَ الصِّفَاتُ الْمَعْنَوِيَّةُ، وَهِيَ كَوْنُهُ تَعَالَى قَادِرًا، وَمُرِيدًا، وَعَالِمًا، وَحَيًّا، وَسَمِيعًا، وَبَصِيرًا، وَمُتَكَلِّمًا. وَهِيَ تَلَازُمُ الصِّفَاتِ الْمَعَانِي، فَلَمَّا ثَبَتَ لَهُ الْعِلْمُ وَجَبَ أَنْ يَكُونَ عَالِمًا، وَلَمَّا ثَبَتَتْ لَهُ الْقُدْرَةُ وَجَبَ أَنْ يَكُونَ قَادِرًا. فَاللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى هُوَ الْحَيُّ الَّذِي لَا يَمُوتُ، وَالْقَيُّومُ الَّذِي لَا يَنَامُ.
Penyempurna dari dua puluh sifat tersebut adalah Sifat Ma'nawiyah, yaitu keadaan Allah yang Maha Kuasa, Maha Berkehendak, Maha Mengetahui, Maha Hidup, Maha Mendengar, Maha Melihat, dan Maha Berfirman. Sifat-sifat ini merupakan konsekuensi logis dari Sifat Ma'ani. Ketika secara substansial Allah memiliki sifat Ilmu, maka secara otomatis Allah adalah Zat yang Maha Mengetahui (Aliman). Sifat-sifat ini menegaskan bahwa Allah Swt senantiasa berada dalam kesempurnaan mutlak. Sifat Hayat (Hidup) menjadi syarat bagi tegaknya sifat-sifat lainnya, karena mustahil zat yang tidak hidup memiliki kekuasaan atau pengetahuan. Hidupnya Allah tidak membutuhkan ruh atau aliran darah, melainkan hidup yang bersifat azali dan abadi, yang menjadi sumber kehidupan bagi seluruh makhluk di jagat raya ini.

