Ilmu tauhid merupakan fondasi utama dalam bangunan syariat Islam yang menuntut setiap mukallaf untuk mengenal Tuhannya dengan keyakinan yang pasti. Dalam tradisi keilmuan Asy’ariyyah dan Maturidiyyah, para ulama telah merumuskan sistematika pengenalan sifat-sifat Allah yang wajib diketahui sebagai bentuk penjagaan terhadap kemurnian akidah dari syubhat tasybih (penyerupaan) dan ta’thil (peniadaan). Mengenal sifat wajib bagi Allah bukan sekadar menghafal deretan kata, melainkan upaya intelektual dan spiritual untuk memahami hakikat ketuhanan melalui dalil-dalil yang qath’i. Sifat-sifat ini terbagi ke dalam empat kategori utama, yakni nafsiyyah, salbiyyah, ma’ani, dan ma’nawiyyah, yang keseluruhannya menggambarkan kesempurnaan mutlak milik Allah Swt.

Tahap pertama dalam mengenal Allah adalah meyakini keberadaan-Nya sebagai Wajib al-Wujud, yakni Zat yang keberadaan-Nya bersifat niscaya dan tidak didahului oleh ketiadaan.

Dalam Artikel

اِعْلَمْ أَنَّ أَوَّلَ مَا يَجِبُ عَلَى الْمُكَلَّفِ شَرْعًا هُوَ مَعْرِفَةُ اللهِ تَعَالَى، وَمِنْ صِفَاتِهِ الْوَاجِبَةِ لَهُ تَعَالَى الصِّفَةُ النَّفْسِيَّةُ وَهِيَ الْوُجُودُ، فَاللهُ تَعَالَى مَوْجُودٌ لَا بِعِلَّةٍ، وَدَلِيلُ وُجُودِهِ هَذَا الْعَالَمُ بِأَسْرِهِ، إِذْ لَا يُعْقَلُ وُجُودُ مَصْنُوعٍ مِنْ غَيْرِ صَانِعٍ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَفِي اللهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ.

Terjemahan dan Syarah: Ketahuilah bahwa kewajiban pertama bagi seorang mukallaf secara syariat adalah mengenal Allah Ta’ala. Di antara sifat-sifat yang wajib bagi-Nya adalah sifat Nafsiyyah, yaitu Al-Wujud (Ada). Allah Ta’ala ada tanpa sebab atau perantara, dan dalil keberadaan-Nya adalah seluruh alam semesta ini. Secara akal, tidak mungkin ada sebuah ciptaan tanpa adanya pencipta. Allah Swt berfirman dalam Surah Ibrahim ayat 10 yang menegaskan: Apakah ada keraguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? Penjelasan ini meruntuhkan argumentasi nihilisme dan ateisme dengan menetapkan bahwa alam yang bersifat baru (hadits) ini pasti membutuhkan pencipta yang bersifat qadim (dahulu).

Setelah menetapkan sifat Wujud, para ulama menjelaskan sifat Salbiyyah yang berfungsi meniadakan segala sifat yang tidak layak bagi keagungan Allah, seperti adanya permulaan atau akhir bagi keberadaan-Nya.

وَيَجِبُ فِي حَقِّهِ تَعَالَى الْقِدَمُ وَالْبَقَاءُ، فَالْقِدَمُ مَعْنَاهُ عَدَمُ الِافْتِتَاحِ لِوُجُودِهِ، وَالْبَقَاءُ مَعْنَاهُ عَدَمُ الِانْتِهَاءِ لِوُجُودِهِ، فَهُوَ سُبْحَانَهُ الْأَوَّلُ الَّذِي لَيْسَ قَبْلَهُ شَيْءٌ، وَالْآخِرُ الَّذِي لَيْسَ بَعْدَهُ شَيْءٌ، كَمَا قَالَ عَزَّ وَجَلَّ: هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ.

Terjemahan dan Syarah: Dan wajib bagi hak Allah Ta’ala sifat Qidam (Dahulu) dan Baqa (Kekal). Qidam bermakna tidak adanya permulaan bagi keberadaan-Nya, sedangkan Baqa bermakna tidak adanya akhir bagi keberadaan-Nya. Dia Maha Suci, Dialah Yang Awal yang tidak ada sesuatu pun sebelum-Nya, dan Yang Akhir yang tidak ada sesuatu pun setelah-Nya. Sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Hadid ayat 3: Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Sifat ini memberikan jaminan ketenangan bagi hamba bahwa Tuhan yang mereka sembah tidak akan pernah lenyap dan tidak terikat oleh dimensi waktu yang merupakan makhluk-Nya sendiri.

Karakteristik fundamental lainnya dalam akidah Islam adalah Tanzih, yaitu mensucikan Allah dari segala keserupaan dengan makhluk-Nya, baik dalam zat, sifat, maupun perbuatan.

وَمِنْ صِفَاتِهِ الْوَاجِبَةِ مُخَالَفَتُهُ تَعَالَى لِلْحَوَادِثِ، أَيْ أَنَّهُ سُبْحَانَهُ لَا يُشْبِهُ شَيْئًا مِنَ الْمَخْلُوقَاتِ لَا فِي الذَّاتِ وَلَا فِي الصِّفَاتِ وَلَا فِي الْأَفْعَالِ، فَلَيْسَ لَهُ جِسْمٌ وَلَا صُورَةٌ وَلَا مَكَانٌ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ، فَمَا خَطَرَ بِبَالِكَ فَاللهُ بِخِلَافِ ذَلِكَ.