Mengenal Allah Swt (Makrifatullah) merupakan kewajiban fundamental bagi setiap mukalaf. Dalam tradisi keilmuan Islam, khususnya dalam madzhab Asy’ariyah dan Maturidiyah, para ulama telah merumuskan sistematika pemahaman terhadap sifat-sifat Allah untuk menjaga kesucian tauhid dari paham tasybih (penyerupaan) dan ta’thil (peniadaan). Pemahaman ini bukan sekadar hafalan dogmatis, melainkan sebuah perjalanan intelektual dan spiritual untuk memahami hakikat Wujud yang Mutlak. Sifat-sifat wajib ini diklasifikasikan menjadi empat kategori utama: Nafsiyyah, Salbiyyah, Ma’ani, dan Ma’nawiyah. Setiap kategori memberikan dimensi pemahaman yang berbeda mengenai keagungan Sang Pencipta.
Pembahasan dimulai dengan sifat Nafsiyyah, yaitu Wujud. Sifat ini berkaitan dengan zat Allah itu sendiri, di mana keberadaan-Nya adalah sebuah keniscayaan yang tidak didahului oleh ketiadaan. Allah adalah Al-Wajibul Wujud, Zat yang keberadaannya bersifat esensial dan menjadi sebab bagi keberadaan seluruh alam semesta. Tanpa adanya Wujud yang Qadim, maka rantai penciptaan tidak akan pernah dimulai. Hal ini ditegaskan dalam wahyu-Nya yang menunjukkan bahwa Dialah yang Awal dan yang Akhir tanpa batasan ruang dan waktu.
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ . هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۚ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا ۖ وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Terjemahan: Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; Kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hadid: 3-4).
Syarah: Ayat ini merupakan fondasi sifat Nafsiyyah dan Salbiyyah secara simultan. Kata Al-Awwal menunjukkan sifat Qidam (terdahulu tanpa permulaan), sedangkan Al-Akhir menunjukkan sifat Baqa (kekal tanpa akhir). Penjelasan mengenai Allah yang mengetahui segala sesuatu yang masuk dan keluar dari bumi menunjukkan sifat Ilmu yang mutlak. Secara epistemologis, ayat ini mematahkan argumen kaum materialis yang menganggap alam semesta ada dengan sendirinya. Allah menegaskan eksistensi-Nya sebagai subjek utama dalam penciptaan dan pengawasan, yang mengharuskan setiap hamba menyadari bahwa keberadaan dirinya hanyalah pancaran dari kehendak Sang Khaliq yang Wujud-Nya bersifat hakiki.
Selanjutnya, kita memasuki ranah sifat Salbiyyah, yaitu sifat-sifat yang meniadakan segala sesuatu yang tidak layak bagi keagungan Allah. Salah satu yang paling krusial adalah Mukhalafatu lil Hawaditsi (Berbeda dengan makhluk). Sifat ini memastikan bahwa Allah tidak memiliki materi, tidak bertempat, tidak berpihak, dan tidak tersusun dari bagian-bagian. Allah adalah Zat yang Maha Suci dari segala atribut kemakhlukan. Tanpa pemahaman ini, seseorang berisiko terjatuh dalam lubang antromorfisme yang memvisualisasikan Tuhan dalam bentuk fisik manusia atau benda lainnya.
فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْوَاجًا ۖ يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ ۚ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ . لَهُ مَقَالِيدُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ ۚ إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Terjemahan: (Dialah) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat. Kepunyaan-Nyalah perbendaharaan langit dan bumi; Dia melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan(nya). Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Asy-Syura: 11-12).
Syarah: Frasa Laisa Kamitslihi Syaiun adalah kaidah emas dalam teologi Islam. Para mufassir menjelaskan bahwa penggunaan huruf Kaf (seperti) dan Mitsl (serupa) secara bersamaan berfungsi untuk memberikan penekanan yang sangat kuat (mubalaghah) dalam meniadakan keserupaan. Hal ini berarti, apa pun yang terlintas dalam benak manusia tentang rupa Allah, maka Allah tidaklah demikian. Meskipun Allah disifati dengan As-Sami (Maha Mendengar) dan Al-Bashir (Maha Melihat), pendengaran dan penglihatan Allah tidak menggunakan indra fisik seperti telinga atau mata, melainkan merupakan sifat kesempurnaan yang hakikatnya tidak terjangkau oleh akal manusia yang terbatas.

