Ilmu Tauhid merupakan fondasi utama dalam bangunan keislaman seorang hamba, di mana pengenalan terhadap Sang Khalik atau Ma’rifatullah menjadi titik awal pendakian spiritual dan intelektual. Para ulama mutakallimin, khususnya dari madrasah Asy’ariyah dan Maturidiyah, telah merumuskan sistematika pemahaman sifat-sifat Allah guna memagari akidah umat dari pemahaman antropomorfisme (tasybih) maupun peniadaan sifat (ta’thil). Memahami sifat-sifat wajib bagi Allah bukan sekadar hafalan teologis, melainkan sebuah upaya memahami hakikat eksistensi yang absolut di tengah kefanaan alam semesta. Sifat-sifat ini diklasifikasikan ke dalam empat kategori utama: Nafsiyyah, Salbiyyah, Ma’ani, dan Ma’nawiyyah, yang keseluruhannya berjumlah dua puluh sifat yang wajib diyakini secara pasti (jazm).

الْقَوْلُ فِي صِفَةِ الْوُجُودِ: وَاعْلَمْ أَنَّ الْوُجُودَ فِي حَقِّهِ تَعَالَى هُوَ عَيْنُ ذَاتِهِ الْمُقَدَّسَةِ عِنْدَ الْأَشْعَرِيِّ، فَاللَّهُ تَعَالَى مَوْجُودٌ لَا بِإِيجَادِ مُوجِدٍ، بَلْ وُجُودُهُ ذَاتِيٌّ لَا يَقْبَلُ الْعَدَمَ أَزَلًا وَلَا أَبَدًا، وَالدَّلِيلُ عَلَيْهِ حُدُوثُ الْعَالَمِ، فَإِنَّ كُلَّ حَادِثٍ لَا بُدَّ لَهُ مِنْ مُحْدِثٍ وَاجِبِ الْوُجُودِ.

Dalam Artikel

Terjemahan & Tafsir Mendalam:

Penjelasan mengenai sifat Wujud (Ada). Ketahuilah bahwa wujud pada hak Allah Ta’ala adalah substansi dari Zat-Nya yang suci menurut Imam Al-Asy’ari. Allah Ta’ala ada bukan karena diciptakan oleh pencipta lain, melainkan keberadaan-Nya bersifat esensial (dzati) yang tidak menerima ketiadaan, baik di masa azali (tanpa awal) maupun abadi (tanpa akhir). Secara rasional, bukti keberadaan Allah adalah kebaruan alam semesta (hudutsul alam). Setiap sesuatu yang baru pasti membutuhkan pencipta yang bersifat Wajib al-Wujud (Wajib Adanya). Hal ini sejalan dengan isyarat dalam firman-Nya bahwa Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, yang keberadaan-Nya tidak didahului oleh tiada.

وَأَمَّا الصِّفَاتُ السَّلْبِيَّةُ فَهِيَ تَنْزِيهُ اللَّهِ تَعَالَى عَنْ كُلِّ مَا لَا يَلِيقُ بِجَلَالِهِ، وَمِنْهَا الْقِدَمُ وَالْبَقَاءُ وَمُخَالَفَتُهُ لِلْحَوَادِثِ، فَاللَّهُ تَعَالَى هُوَ الْأَوَّلُ الَّذِي لَيْسَ قَبْلَهُ شَيْءٌ، وَالْآخِرُ الَّذِي لَيْسَ بَعْدَهُ شَيْءٌ، وَلَا يُشْبِهُهُ شَيْءٌ مِنْ مَخْلُوقَاتِهِ فِي الذَّاتِ وَلَا فِي الصِّفَاتِ وَلَا فِي الْأَفْعَالِ.

Terjemahan & Tafsir Mendalam:

Adapun Sifat Salbiyyah adalah sifat-sifat yang berfungsi meniadakan segala sesuatu yang tidak layak bagi keagungan Allah Ta’ala. Di antaranya adalah Qidam (Dahulu tanpa awal), Baqa (Kekal tanpa akhir), dan Mukhalafatuhu lil Hawaditsi (Berbeda dengan makhluk). Allah Ta’ala adalah Sang Awal yang tidak ada sesuatu pun sebelum-Nya, dan Sang Akhir yang tidak ada sesuatu pun setelah-Nya. Tidak ada satu pun dari makhluk-Nya yang menyerupai-Nya, baik dalam hakikat Zat, sifat-sifat-Nya, maupun perbuatan-Nya. Penafian keserupaan ini merupakan pilar tanzih (pensucian) agar manusia tidak terjebak dalam visualisasi jasmani terhadap Sang Pencipta.

ثُمَّ صِفَاتُ الْمَعَانِي وَهِيَ صِفَاتٌ وُجُودِيَّةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى، كَالْقُدْرَةِ وَالْإِرَادَةِ وَالْعِلْمِ وَالْحَيَاةِ، فَبِقُدْرَتِهِ أَوْجَدَ الْمَوْجُودَاتِ عَلَى وَفْقِ إِرَادَتِهِ، وَبِإِرَادَتِهِ خَصَّصَ الْمُمْكِنَاتِ بِمَا يَجُوزُ عَلَيْهَا، وَعِلْمُهُ مُحِيطٌ بِكُلِّ شَيْءٍ جُمْلَةً وَتَفْصِيلًا، وَحَيَاتُهُ صِفَةٌ تُصَحِّحُ لَهُ الِاتِّصَافَ بِالْعِلْمِ وَغَيْرِهِ.

Terjemahan & Tafsir Mendalam: