Mengenal Allah Swt atau ma’rifatullah merupakan kewajiban pertama bagi setiap mukallaf sebelum melangkah pada ranah syariat lainnya. Dalam tradisi keilmuan Islam, khususnya melalui metodologi yang dirumuskan oleh para imam Asy’ariyyah dan Maturidiyyah, sifat-sifat Allah diklasifikasikan secara sistematis untuk menjaga kemurnian tauhid dari syubhah tasybih (penyerupaan) dan ta’thil (peniadaan sifat). Sifat wajib bagi Allah bukanlah batasan bagi keagungan-Nya, melainkan atribut kesempurnaan yang secara akal dan wahyu mutlak ada pada Zat Yang Maha Pencipta. Tanpa memahami sifat-sifat ini, seorang hamba berisiko terjatuh dalam pemahaman yang antropomorfis atau justru kehilangan arah dalam bertauhid.

Pondasi utama dalam memahami ketuhanan dimulai dari sifat Wujud. Wujud Allah adalah wujud yang dzati, bukan wujud yang diadakan oleh pihak lain. Para ulama menyebutnya sebagai Wajib al-Wujud, yakni Zat yang ketiadaan-Nya tidak dapat diterima oleh akal sehat. Alam semesta yang bersifat baru (hadits) ini menjadi dalil burhani yang tak terbantahkan atas eksistensi Sang Pencipta yang Maha Ada.

Dalam Artikel

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Terjemahan dan Syarah Mendalam: Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan melainkan Dia; yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu juga menyatakan demikian. Tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS. Ali Imran: 18). Ayat ini merupakan proklamasi ketuhanan yang paling otentik. Syarah keilmuan menjelaskan bahwa kesaksian Allah atas diri-Nya sendiri adalah puncak kebenaran. Pengaitan antara tauhid dan para ulama menunjukkan bahwa pengenalan terhadap sifat Wujud Allah harus didasari atas ilmu yang mendalam, bukan sekadar taklid buta. Sifat Wujud ini dikategorikan sebagai Sifat Nafsiyyah, yang menunjukkan pada hakikat Zat tanpa ada tambahan makna lain.

Setelah menetapkan Wujud, maka akal secara otomatis menuntut adanya sifat Qidam (Dahulu) dan Baqa (Kekal). Allah Swt tidak didahului oleh ketiadaan dan tidak akan diakhiri oleh kepunahan. Jika Allah memiliki permulaan, maka Dia membutuhkan pencipta lain, dan hal ini akan menyebabkan tasalsul (rantai penciptaan tanpa akhir) yang mustahil secara logika. Oleh karena itu, Allah adalah Al-Awwal tanpa permulaan dan Al-Akhir tanpa penghabisan.

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Terjemahan dan Syarah Mendalam: Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. Al-Hadid: 3). Dalam tinjauan tafsir isyari dan kalam, Al-Awwal bermakna bahwa keberadaan-Nya mendahului segala sesuatu yang bersifat temporal. Al-Akhir bermakna bahwa ketika seluruh alam semesta fana, Zat-Nya tetap kekal abadi. Sifat ini masuk dalam kategori Sifat Salbiyyah, yaitu sifat yang berfungsi untuk meniadakan hal-hal yang tidak layak bagi Allah, seperti sifat baru, perubahan, atau kepunahan yang merupakan karakteristik makhluk.

Karakteristik ketuhanan yang paling krusial dalam menjaga kemurnian akidah adalah Mukhalafatuhu lil Hawadits, yakni Allah berbeda secara mutlak dengan segala sesuatu yang baru (makhluk). Allah bukan jisim (materi), tidak bertempat, tidak berarah, dan tidak terikat oleh ruang dan waktu. Segala bayangan yang terlintas dalam benak manusia tentang bentuk Allah, maka Allah tidaklah demikian, karena akal manusia hanya mampu menangkap hal-hal yang bersifat terbatas.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ