Ilmu akidah merupakan fondasi utama dalam bangunan syariat Islam yang menuntut pemahaman mendalam melampaui sekadar hafalan tekstual. Dalam tradisi pemikiran Islam, khususnya madzhab Asy-ariyah dan Maturidiyah, pengenalan terhadap sifat-sifat Allah Swt diklasifikasikan ke dalam sifat-sifat wajib yang secara rasional (aqli) dan tekstual (naqli) harus ada pada Dzat Yang Maha Kuasa. Pemahaman ini bukan sekadar dialektika teologis, melainkan upaya memurnikan tauhid dari noda tasybih (penyerupaan) dan ta'thil (peniadaan). Secara ontologis, Allah adalah Wajibul Wujud, Dzat yang keberadaan-Nya bersifat niscaya dan menjadi sebab bagi segala eksistensi di alam semesta ini. Berikut adalah bedah mendalam mengenai sifat-sifat tersebut yang bersumber dari nash Al-Quran dan penjelasan para ulama salaf.
Sifat yang pertama dan paling fundamental adalah Al-Wujud (Keberadaan). Keberadaan Allah bukanlah keberadaan yang didahului oleh tiada, melainkan keberadaan mutlak yang menjadi sumber segala realitas. Para ulama menjelaskan bahwa wujud Allah adalah wujud dzati, bukan wujud yang bergantung pada faktor eksternal. Hal ini ditegaskan dalam banyak ayat yang memerintahkan manusia untuk merenungi penciptaan sebagai bukti nyata akan eksistensi Sang Pencipta yang Maha Bijaksana.
هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ . هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Terjemahan & Tafsir Mendalam: Dialah Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dialah Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, Maharaja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Menjaga Keamanan, Pemelihara Keselamatan, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan (QS. Al-Hasyr: 22-23). Dalam tafsirnya, Imam Al-Qurthubi menekankan bahwa penyebutan rentetan asmaul husna ini adalah penegasan atas Wajibul Wujud yang memiliki kesempurnaan mutlak. Sifat-sifat ini mustahil terhimpun kecuali pada Dzat yang keberadaan-Nya bersifat azali dan abadi. Kalimat Subhanallahi amma yusyrikun menunjukkan tanzih (penyucian) bahwa wujud Allah bersih dari segala bentuk kekurangan dan persekutuan yang dibayangkan oleh kaum musyrik.
Setelah memahami wujud-Nya, kita harus memahami sifat Al-Qidam (Dahulu tanpa permulaan) dan Al-Baqa (Kekal tanpa akhir). Allah tidak terikat oleh dimensi waktu, karena waktu adalah makhluk yang diciptakan-Nya. Jika Allah terikat waktu, maka Dia akan mengalami perubahan, dan perubahan adalah ciri makhluk yang lemah. Allah adalah Sang Awal yang tidak didahului oleh ketiadaan, dan Sang Akhir yang tidak akan pernah sirna.
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Terjemahan & Tafsir Mendalam: Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. Al-Hadid: 3). Rasulullah Saw dalam hadits riwayat Imam Muslim menjelaskan ayat ini dengan doa: Ya Allah, Engkau adalah Al-Awwal maka tidak ada sesuatu pun sebelum-Mu, dan Engkau adalah Al-Akhir maka tidak ada sesuatu pun setelah-Mu. Secara filosofis, sifat Qidam membatalkan teori tasalsul (mata rantai tanpa ujung) dan dawar (putaran sebab-akibat yang mustahil). Allah adalah penyebab pertama (Al-Illah al-Ula) yang tidak membutuhkan penyebab lain. Sifat Baqa memberikan keyakinan kepada mukmin bahwa sandaran hidup yang sejati hanyalah Dzat yang tidak akan pernah fana, berbeda dengan dunia yang bersifat temporal dan menipu.
Aspek krusial dalam akidah adalah Mukhalafatuhu lil Hawaditsi, yaitu Allah berbeda dengan segala sesuatu yang baru (makhluk). Sifat ini merupakan pilar tanzih yang menjaga seorang hamba agar tidak jatuh ke dalam antropomorfisme (tajsim). Allah tidak bertempat, tidak berarah, tidak beranggota badan, dan tidak memiliki substansi material. Segala gambaran yang terlintas dalam benak manusia mengenai bentuk Allah, maka Allah tidaklah demikian, karena akal manusia terbatas sementara Allah tidak terbatas.
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

