Mengenal Allah Swt (Ma'rifatullah) merupakan kewajiban pertama bagi setiap mukallaf sebelum melangkah pada ranah syariat lainnya. Dalam diskursus teologi Islam, khususnya manhaj Ahlussunnah wal Jama'ah yang dipelopori oleh Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari dan Imam Abu Manshur al-Maturidi, pemahaman mengenai sifat-sifat wajib bagi Allah disusun secara sistematis untuk menjaga kemurnian tauhid dari paham tasybih (penyerupaan) dan ta'thil (peniadaan sifat). Sifat-sifat ini bukan sekadar hafalan, melainkan pondasi logika iman yang dibangun di atas argumentasi al-Qur'an dan akal sehat yang jernih. Memahami sifat-sifat ini berarti mengakui keagungan Sang Pencipta dan menyadari keterbatasan makhluk di hadapan-Nya.

Pembahasan pertama dimulai dari sifat Nafsiyah, yaitu sifat yang berhubungan dengan Dzat Allah itu sendiri, yakni sifat Wujud. Keberadaan Allah adalah sebuah keniscayaan yang tidak membutuhkan penyebab lain, berbeda dengan keberadaan makhluk yang bersifat mungkin (jaiz). Dalil mengenai keberadaan Allah terpampang nyata dalam harmoni alam semesta yang mustahil ada tanpa adanya Pencipta yang Maha Bijaksana.

Dalam Artikel

أَفِي اللهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَدْعُوكُمْ لِيَغْفِرَ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرَكُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى قَالُوا إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُنَا تُرِيدُونَ أَنْ تَصُدُّونَا عَمَّا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُنَا فَأْتُونَا بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ

Terjemahan dan Syarah Mendalam: Apakah ada keraguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? Dia menyeru kamu untuk mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu sampai batas waktu yang ditentukan (QS. Ibrahim: 10). Ayat ini menggunakan istifham inkari (pertanyaan retoris yang mengandung pengingkaran) untuk menegaskan bahwa keraguan akan adanya Allah adalah sesuatu yang tidak masuk akal. Secara filosofis, alam semesta adalah hadits (sesuatu yang baru), dan setiap yang baru pasti membutuhkan muhdits (pencipta). Sifat Wujud bagi Allah adalah wujud yang dzati, bukan wujud yang didahului oleh tiada. Ini adalah basis utama dari seluruh bangunan akidah.

Selanjutnya, kita memasuki ranah sifat Salbiyah. Sifat Salbiyah adalah sifat yang berfungsi meniadakan hal-hal yang tidak layak bagi keagungan Allah Swt. Sifat ini mencakup Qidam (Dahulu tanpa awal), Baqa (Kekal tanpa akhir), Mukhalafatu lil Hawaditsi (Berbeda dengan makhluk), Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri sendiri), dan Wahdaniyah (Esa). Fokus utama pada sifat Salbiyah adalah menyucikan Allah dari segala bentuk kekurangan dan keterbatasan ruang serta waktu.

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ . لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ . قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ . اللهُ الصَّمَدُ . لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ . وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Terjemahan dan Syarah Mendalam: Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. Al-Hadid: 3). Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat (QS. Asy-Syura: 11). Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia (QS. Al-Ikhlas: 1-4). Rangkaian ayat ini menegaskan sifat Qidam dan Baqa melalui nama Al-Awwal dan Al-Akhir. Sementara itu, Laysa kamitslihi shay-un adalah kaidah emas dalam teologi Islam untuk menolak segala bentuk antropomorfisme. Allah tidak bertempat, tidak berarah, dan tidak tersusun dari bagian-bagian, karena hal tersebut adalah ciri khas makhluk yang lemah.

Setelah memahami penyucian Dzat, para ulama menjelaskan tentang sifat Ma'ani. Sifat Ma'ani adalah sifat-sifat yang ada pada Dzat Allah yang memberikan pengaruh pada ciptaan-Nya. Sifat ini terdiri dari Qudrah (Kuasa), Iradah (Kehendak), Ilmu (Mengetahui), Hayat (Hidup), Sama' (Mendengar), Bashar (Melihat), dan Kalam (Berfirman). Sifat-sifat ini menunjukkan bahwa Allah adalah Tuhan yang aktif, memiliki otoritas mutlak, dan tidak terikat oleh apapun dalam mengatur semesta.

اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ