Ilmu Tauhid merupakan diskursus paling fundamental dalam struktur keislaman karena ia menjadi penentu keabsahan seluruh amal ibadah. Memahami sifat-sifat Allah Swt bukan sekadar hafalan dogmatis, melainkan sebuah pencapaian intelektual dan spiritual untuk mengenal Sang Khaliq melalui metodologi yang telah dirumuskan oleh para ulama mutakallimin, khususnya dari madrasah Al-Asy’ariyah dan Al-Maturidiyah. Para ulama membagi sifat-sifat ini ke dalam empat kategori utama: Nafsiyah, Salbiyah, Ma’ani, dan Ma’nawiyah. Pendekatan ini bertujuan untuk memberikan batasan yang jelas antara sifat ketuhanan yang mutlak dengan sifat makhluk yang nisbi, sehingga seorang mukmin terhindar dari pemahaman tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk) maupun ta’thil (meniadakan sifat Allah).
TEKS ARAB BLOK 1
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ . فَصِفَةُ الْوُجُودِ هِيَ صِفَةٌ نَفْسِيَّةٌ لَا يَتَصَوَّرُ الْعَقْلُ الذَّاتَ بِدُونِهَا ، وَالدَّلِيلُ الْعَقْلِيُّ عَلَى وُجُودِهِ تَعَالَى هُوَ حُدُوثُ الْعَالَمِ ، فَكُلُّ مُحْدَثٍ لَا بُدَّ لَهُ مِنْ مُحْدِثٍ وَاجِبِ الْوُجُودِ لِذَاتِهِ
Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 1:
Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir, dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. Al-Hadid: 3). Dalam sistematika ilmu kalam, sifat pertama yang wajib bagi Allah adalah Wujud (Ada). Sifat ini dikategorikan sebagai Sifat Nafsiyah, yaitu sifat yang merujuk pada zat itu sendiri tanpa adanya tambahan makna lain. Secara rasional, keberadaan alam semesta yang bersifat baru (hadits) dan berubah-ubah merupakan bukti tak terbantahkan akan adanya Pencipta yang bersifat Wajibul Wujud (Wajib Adanya). Jika alam ini ada tanpa pencipta, maka akan terjadi kontradiksi logika yang disebut tasalsul (rangkaian tanpa akhir) atau dawr (lingkaran setan), yang keduanya mustahil secara akal. Oleh karena itu, wujud Allah adalah hakiki dan mendahului segala sesuatu yang ada.
TEKS ARAB BLOK 2
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ . وَهَذَا يَتَضَمَّنُ صِفَاتِ السَّلْبِيَّةِ وَهِيَ الْقِدَمُ وَالْبَقَاءُ وَمُخَالَفَتُهُ تَعَالَى لِلْحَوَادِثِ وَقِيَامُهُ بِنَفْسِهِ وَالْوَحْدَانِيَّةُ . فَالْقِدَمُ يَعْنِي عَدَمُ افْتِتَاحِ وُجُودِهِ ، وَالْبَقَاءُ يَعْنِي عَدَمُ اخْتِتَامِ وُجُودِهِ ، فَاللَّهُ سُبْحَانَهُ مُنَزَّهٌ عَنِ الزَّمَانِ وَالْمَكَانِ وَالْجِهَةِ
Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 2:
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS. Ash-Shura: 11). Ayat ini merupakan fondasi bagi Sifat Salbiyah, yaitu sifat-sifat yang berfungsi untuk meniadakan segala sesuatu yang tidak layak bagi keagungan Allah. Sifat-sifat tersebut meliputi Qidam (Terdahulu tanpa permulaan), Baqa (Kekal tanpa akhir), Mukhalafatu lil Hawaditsi (Berbeda dengan makhluk), Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri sendiri), dan Wahdaniyah (Esa). Melalui sifat Salbiyah, kita memahami bahwa Allah tidak terikat oleh dimensi ruang dan waktu karena Dialah pencipta ruang dan waktu tersebut. Allah tidak membutuhkan tempat (makan) atau arah (jihah), karena keterikatan pada hal-hal tersebut menunjukkan kelemahan dan ketergantungan, sedangkan Allah Maha Kaya (Al-Ghani) dari segala alam.

