Ilmu tauhid merupakan pilar penyangga utama dalam bangunan keislaman seorang hamba. Tanpa fondasi akidah yang kokoh, seluruh amal ibadah laksana debu yang beterbangan ditiup angin. Para ulama mutakallimin, khususnya dari kalangan Asy’ariyah dan Maturidiyah, telah merumuskan sistematika pengenalan terhadap Allah Swt melalui klasifikasi sifat-sifat wajib, mustahil, dan jaiz. Upaya ini bukanlah sebuah bid’ah dalam agama, melainkan sebuah metodologi (manhaj) untuk mempermudah umat dalam memahami hakikat ketuhanan di tengah gempuran pemikiran filsafat yang menyesatkan. Mengenal Allah atau Marifatullah adalah kewajiban pertama bagi setiap mukalaf. Hal ini didasarkan pada premis bahwa menyembah zat yang tidak dikenal adalah sebuah kemustahilan logis. Oleh karena itu, pendalaman terhadap Sifat Dua Puluh menjadi keniscayaan intelektual dan spiritual bagi setiap muslim yang mendambakan kemurnian tauhid.
TEKS ARAB BLOK 1
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ، الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ، مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ . وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ ، الْوَاجِبُ الْوُجُودِ ، الْقَدِيمُ بِلَا ابْتِدَاءٍ ، الدَّائِمُ بِلَا انْتِهَاءٍ . قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ : إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي . فَالْوُجُودُ هُوَ أَوَّلُ الصِّفَاتِ الْوَاجِبَةِ لِلَّهِ تَعَالَى ، وَهُوَ صِفَةٌ نَفْسِيَّةٌ يَدُلُّ عَلَى ذَاتِهِ الْعَلِيَّةِ مِنْ غَيْرِ اعْتِبَارِ مَعْنًى زَائِدٍ عَلَيْهَا .
Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 1:
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Pemilik hari pembalasan. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, Yang Wajib Wujud-Nya, Yang Dahulu tanpa permulaan, Yang Kekal tanpa akhir. Allah Swt berfirman dalam kitab-Nya yang mulia: Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku (QS. Thaha: 14). Sifat Wujud (Ada) adalah sifat wajib pertama bagi Allah Ta’ala. Dalam diskursus teologi, Wujud dikategorikan sebagai Sifat Nafsiyah, yaitu sifat yang menunjukkan eksistensi Zat itu sendiri tanpa adanya tambahan makna lain. Wujud Allah bersifat Dzati, artinya keberadaan-Nya tidak disebabkan oleh faktor eksternal atau pencipta lain. Secara aqli (logika), keberadaan alam semesta yang bersifat baru (hadits) ini mustahil terjadi tanpa adanya Pencipta yang Wajib Wujud-Nya (Wajibul Wujud). Jika Allah tidak ada, maka alam semesta ini pun tidak akan pernah ada.
TEKS ARAB BLOK 2
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ . وَمَعْنَى الْقِدَمِ فِي حَقِّهِ تَعَالَى هُوَ سَلْبُ الْعَدَمِ السَّابِقِ عَلَى الْوُجُودِ ، وَمَعْنَى الْبَقَاءِ هُوَ سَلْبُ الْعَدَمِ اللَّاحِقِ لِلْوُجُودِ . فَهُوَ سُبْحَانَهُ مَوْجُودٌ لَا بِزَمَانٍ وَلَا مَكَانٍ ، لِأَنَّ الزَّمَانَ وَالْمَكَانَ مَخْلُوقَانِ ، وَالْخَالِقُ لَا يَفْتَقِرُ إِلَى مَخْلُوقِهِ . كَمَا قَالَ الْإِمَامُ الطَّحَاوِيُّ : قَدِيمٌ بِلَا ابْتِدَاءٍ ، دَائِمٌ بِلَا انْتِهَاءٍ ، لَا يَفْنَى وَلَا يَبِيدُ ، وَلَا يَكُونُ إِلَّا مَا يُرِيدُ .
Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 2:
Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. Al-Hadid: 3). Makna Qidam (Terdahulu) bagi Allah Ta’ala adalah ketiadaan permulaan bagi keberadaan-Nya, sedangkan makna Baqa (Kekal) adalah ketiadaan akhir bagi keberadaan-Nya. Allah Swt ada tanpa terikat oleh ruang dan waktu, karena ruang dan waktu adalah makhluk (ciptaan), dan Sang Pencipta tidak membutuhkan ciptaan-Nya. Sebagaimana dinyatakan oleh Imam At-Thahawi dalam risalah akidahnya: Dia Maha Dahulu tanpa permulaan, Maha Kekal tanpa akhir, tidak akan punah dan tidak akan binasa, serta tidak akan terjadi kecuali apa yang Dia kehendaki. Secara epistemologis, sifat Qidam dan Baqa termasuk dalam kategori Sifat Salbiyah, yaitu sifat yang berfungsi untuk meniadakan hal-hal yang tidak layak bagi Allah. Qidam meniadakan sifat baru (huduts), dan Baqa meniadakan sifat fana (binasa). Hal ini menegaskan bahwa Allah adalah Tuhan yang mutlak dalam keabadian-Nya.

