Ilmu Tauhid merupakan fondasi utama dalam bangunan syariat Islam yang menuntut setiap mukallaf untuk mengenal Allah Swt dengan keyakinan yang pasti berdasarkan dalil-dalil akli maupun nakli. Mengenal sifat-sifat wajib bagi Allah bukan sekadar hafalan dogmatis, melainkan sebuah perjalanan intelektual dan spiritual untuk memahami hakikat ketuhanan yang transenden. Para ulama mutakallimin, khususnya dalam tradisi Ahlussunnah wal Jamaah, telah merumuskan sistematika sifat dua puluh sebagai metodologi untuk membentengi akidah umat dari pemahaman yang menyimpang seperti tasybih (penyerupaan) dan ta’thil (peniadaan sifat). Kedalaman pemahaman ini dimulai dengan menetapkan sifat Wujud sebagai induk dari segala sifat, yang kemudian diikuti oleh sifat-sifat salbiyyah untuk meniadakan segala kekurangan yang tidak layak bagi keagungan Dzat-Nya.

Sifat pertama yang wajib diyakini adalah Wujud, yang berarti Allah itu ada. Keberadaan Allah bersifat dzati, artinya keberadaan-Nya tidak disebabkan oleh sesuatu yang lain dan tidak didahului oleh ketiadaan. Hal ini berbeda dengan keberadaan makhluk yang bersifat mungkin (mungkinul wujud) dan bergantung pada pencipta-Nya. Allah adalah Wajibul Wujud, yang eksistensi-Nya merupakan keharusan mutlak bagi adanya alam semesta ini.

Dalam Artikel

اللَّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى يُدَبِّرُ الْأَمْرَ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ بِلِقَاءِ رَبِّكُمْ تُوقِنُونَ . وَهُوَ الَّذِي مَدَّ الْأَرْضَ وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْهَارًا وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ جَعَلَ فِيهَا زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Terjemahan dan Syarah Mendalam: Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan(mu) dengan Tuhanmu. Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai di atasnya. (Surah Ar-Ra'd: 2-3). Dalam ayat ini, Allah Swt menyajikan argumentasi kosmologis mengenai keberadaan-Nya. Struktur alam yang kokoh dan keteraturan benda-benda langit merupakan bukti empiris akan adanya Sang Pengatur yang Maha Wujud. Penjelasan ini menekankan bahwa akal manusia mampu mencapai kesimpulan tentang adanya Tuhan melalui observasi terhadap ciptaan-Nya yang sangat presisi.

Setelah menetapkan Wujud, kita wajib memahami sifat Qidam (Terdahulu) dan Baqa (Kekal). Allah tidak memiliki permulaan waktu dan tidak akan mengalami kepunahan. Sifat ini mengukuhkan bahwa Allah berada di luar dimensi waktu yang diciptakan-Nya sendiri. Jika Allah memiliki permulaan, maka Dia membutuhkan pencipta lain, dan hal ini akan menyebabkan mata rantai penciptaan yang tak berujung (tasalsul) atau lingkaran logika yang mustahil (daur), yang keduanya ditolak secara rasional dalam ilmu logika formal.

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ . هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Terjemahan dan Syarah Mendalam: Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; Kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Surah Al-Hadid: 3-4). Ayat ini secara eksplisit menjelaskan sifat Qidam melalui asma Al-Awwal dan sifat Baqa melalui asma Al-Akhir. Makna Al-Awwal di sini adalah keberadaan yang tidak didahului oleh ketiadaan, sedangkan Al-Akhir adalah keberadaan yang tidak diakhiri oleh kefanaan. Ini adalah pondasi tanzih yang memisahkan antara Dzat Sang Khaliq yang absolut dengan makhluk yang bersifat temporal (hadits).

Prinsip teologis selanjutnya yang sangat krusial adalah Mukhalafatuhu lil Hawaditsi, yaitu ketidaksamaan Allah dengan segala sesuatu yang baru (makhluk). Allah tidak menyerupai makhluk-Nya dalam dzat, sifat, maupun perbuatan. Sifat ini merupakan antitesis dari antropomorfisme (tajsim). Allah tidak berjasad, tidak beranggota badan, tidak menempati ruang, dan tidak terikat oleh arah. Pemahaman ini sangat penting untuk menjaga kemurnian tauhid agar tidak terjerumus dalam imajinasi yang membatasi keagungan Tuhan.

فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْوَاجًا يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ . لَهُ مَقَالِيدُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ