Ilmu Tauhid merupakan fondasi utama dalam bangunan keislaman yang menuntut setiap mukalaf untuk mengenal Tuhannya dengan pengenalan yang pasti berlandaskan dalil-dalil yang kuat. Para ulama Ahlussunnah wal Jama'ah, khususnya dalam madrasah Al-Asy'ariyah dan Al-Maturidiyah, telah merumuskan sistematisasi pengenalan sifat-sifat Allah ke dalam kategori Sifat Dua Puluh. Rumusan ini bukanlah sebuah inovasi yang mengada-ada, melainkan sebuah metode pedagogis untuk memetakan kesempurnaan mutlak milik Allah Swt yang tercantum dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Memahami sifat-sifat ini bukan sekadar menghafal terminologi, melainkan menyelami hakikat ketuhanan secara ontologis agar terhindar dari pemahaman tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk) maupun ta'thil (meniadakan sifat-sifat Allah).
Sifat pertama yang menjadi asas dari segala sifat adalah Wujud. Secara akal, keberadaan alam semesta yang teratur ini mustahil terjadi tanpa adanya Sang Pencipta yang bersifat Wajib al-Wujud. Keberadaan Allah adalah hakiki dan tidak didahului oleh ketiadaan, berbeda dengan keberadaan makhluk yang bersifat mungkin (mumkin al-wujud).
الْوَاجِبُ لِلّٰهِ تَعَالَى عِشْرُوْنَ صِفَةً وَهِيَ الْوُجُوْدُ وَالْقِدَمُ وَالْبَقَاءُ وَمُخَالَفَتُهُ لِلْحَوَادِثِ وَقِيَامُهُ بِنَفْسِهِ وَالْوَحْدَانِيَّةُ فَهٰذِهِ سِتَّةُ صِفَاتٍ أَوْلَاهَا نَفْسِيَّةٌ وَهِيَ الْوُجُوْدُ وَالْخَمْسَةُ بَعْدَهَا سَلْبِيَّةٌ
Terjemahan dan Syarah: Sifat yang wajib bagi Allah Ta'ala ada dua puluh sifat, yaitu: Wujud (Ada), Qidam (Terdahulu), Baqa (Kekal), Mukhalafatuhu lil Hawaditsi (Berbeda dengan makhluk), Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri sendiri), dan Wahdaniyah (Esa). Enam sifat ini terbagi menjadi: yang pertama disebut Sifat Nafsiyah yaitu Wujud, dan lima sifat setelahnya disebut Sifat Salbiyah. Sifat Salbiyah berfungsi untuk meniadakan segala sifat yang tidak layak bagi keagungan Allah, seperti meniadakan permulaan bagi keberadaan-Nya (Qidam) dan meniadakan keserupaan dengan materi (Mukhalafah).
Setelah memahami Sifat Nafsiyah dan Salbiyah, kita beralih pada Sifat Ma'ani. Sifat-sifat ini adalah sifat-sifat yang ada pada zat Allah yang memberikan konsekuensi perbuatan dan kekuasaan-Nya di alam semesta. Di antaranya adalah Qudrah (Kuasa) dan Iradah (Kehendak) yang saling berkaitan dalam proses penciptaan segala sesuatu.
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ . إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ . فَلِلّٰهِ الْقُدْرَةُ الشَّامِلَةُ وَالْإِرَادَةُ النَّافِذَةُ الَّتِي لَا يَعْزُبُ عَنْهَا مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ
Terjemahan dan Tafsir: Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. Al-Hadid: 3). Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: Jadilah! maka terjadilah ia (QS. Yasin: 82). Maka bagi Allah-lah kekuasaan yang meliputi segala hal dan kehendak yang terlaksana, yang mana tidak ada satu pun seberat zarah pun di bumi maupun di langit yang luput dari pengetahuan dan ketentuan-Nya. Ayat-ayat ini mengukuhkan sifat Ilmu, Qudrah, dan Iradah sebagai sifat yang mutlak dan tidak terbatas oleh ruang dan waktu.
Kategori selanjutnya adalah Sifat Ma'nawiyah, yang merupakan kondisi yang menyertai zat Allah karena adanya Sifat Ma'ani. Jika Allah memiliki sifat Ilmu, maka secara otomatis Allah adalah Dzat Yang Maha Mengetahui (Kaunuhu 'Aliman). Hal ini menegaskan bahwa sifat-sifat Allah bukanlah entitas yang terpisah dari zat-Nya secara dualistik, melainkan satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam keesaan-Nya.
ثُمَّ صِفَاتُ الْمَعَانِي سَبْعٌ وَهِيَ الْقُدْرَةُ وَالْإِرَادَةُ وَالْعِلْمُ وَالْحَيَاةُ وَالسَّمْعُ وَالْبَصَرُ وَالْكَلَامُ . فَالْقُدْرَةُ صِفَةٌ أَزَلِيَّةٌ يَتَأَتَّى بِهَا إِيْجَادُ كُلِّ مُمْكِنٍ وَإِعْدَامُهُ عَلَى وَفْقِ الْإِرَادَةِ . وَالْعِلْمُ صِفَةٌ تَنْكَشِفُ بِهَا الْمَعْلُوْمَاتُ عَلَى مَا هِيَ عَلَيْهِ انْكِشَافًا لَا يَحْتَمِلُ النَّقِيْضَ

