Peradaban modern dengan segala ekses disrupsi teknologi, materialisme yang menggurita, serta sekularisasi pemikiran telah menggeser fondasi eksistensial manusia dari pusat ketuhanan menuju pusat kemanusiaan yang terasing. Dalam lanskap sosio-spiritual yang kian kompleks ini, tauhid bukan sekadar dogma teologis stagnan yang dihafalkan dalam bait-bait matan ilmu akidah, melainkan sebuah epistemologi hidup dan banteng eksistensial yang memerdekakan jiwa dari segala bentuk perbudakan modern. Ketika ideologi secular-humanism dan konsumerisme mencoba menggantikan posisi Tuhan dengan materi, popularitas, serta rasionalisme mutlak, maka pembacaan ulang terhadap teks-teks Al-Quran dan As-Sunnah menjadi sebuah keniscayaan akademis dan spiritual guna merekonstruksi kesadaran tauhid yang murni.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
Terjemahan: Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).
Syarah dan Analisis Tafsir: Dalam Mfatih al-Ghaib karya Imam Fakhruddin ar-Razi dan Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an karya Imam al-Qurtubi, penegasan lam al-ilal pada kata liya'buduni menunjukkan bahwa causa finalis dari penciptaan makhluk adalah tauhidullah (mengesakan Allah dalam ibadah). Dalam konteks modernitas, ayat ini membongkar kekeliruan fatal masyarakat kontemporer yang menjadikan akumulasi materi sebagai tujuan utama kehidupan. Penggabungan Surah Az-Zariyat ayat 56-58 dengan Surah Al-An'am ayat 162-163 menegaskan integralitas Tauhid Uluhiyyah dan Rububiyyah. Ibadah tidak boleh disempitkan hanya pada ritual formalis di dalam masjid, melainkan mencakup seluruh dimensi eksistensi manusia: politik, ekonomi, sosial, hingga orientasi hidup dan mati. Sekularisme yang berusaha memisahkan agama dari ruang publik secara eksplisit dibantah oleh frasa mahyaya wa mamati lillahi rabbil 'alamin, yang mewajibkan penyerahan totalitas ruang dan waktu hanya kepada Allah semata.
Ancaman terbesar bagi tauhid di era modern sering kali tidak hadir dalam bentuk penyembahan berhala fisik seperti latta dan uzza, melainkan dalam bentuk penyimpangan terselubung (al-syirk al-khafi) yang menggerogoti keikhlasan hati melalui perburuan validasi publik di media sosial dan ketergantungan mutlak pada sebab-sebab material.
عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ أَنَّ رَسُولَ

