Dalam diskursus keilmuan Islam, shalat bukan sekadar rangkaian gerakan fisik yang bersifat mekanis, melainkan sebuah mi'raj ruhani bagi seorang mukmin. Khusyu secara etimologi bermakna ketundukan (al-khudu) dan ketenangan (al-sukun). Secara terminologi syariat, para ulama mendefinisikannya sebagai kehadiran hati di hadapan Allah SWT dengan penuh rasa pengagungan dan perendahan diri. Tanpa khusyu, shalat kehilangan ruhnya, menyisakan kerangka tanpa nyawa. Untuk mencapai derajat ini, seorang hamba harus memahami landasan tekstual yang kuat serta mekanisme batiniah yang diajarkan oleh para salafus shalih.
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ
Terjemahan: Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu dalam shalatnya. (QS. Al-Mu'minun: 1-2).
Syarah dan Tafsir: Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa al-falah atau keberuntungan yang hakiki dalam ayat ini dikaitkan erat dengan sifat khusyu. Khusyu di sini mencakup ketenangan anggota badan dan konsentrasi hati. Ketika seseorang menyadari bahwa ia sedang berdiri di hadapan Sang Pencipta semesta alam, maka secara otomatis seluruh panca inderanya akan tertunduk. Ayat ini memposisikan khusyu bukan sebagai pelengkap, melainkan sebagai indikator utama keimanan yang membuahkan kemenangan di akhirat.
ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا
Terjemahan: Kembalilah dan shalatlah, karena sesungguhnya engkau belum shalat... kemudian ruku-lah hingga engkau tenang (tuma'ninah) dalam ruku, kemudian bangkitlah hingga engkau tegak berdiri, kemudian sujudlah hingga engkau tenang dalam sujud. (HR. Bukhari dan Muslim).
Syarah dan Tafsir: Hadits ini dikenal sebagai hadits al-musi’u shalatahu (orang yang buruk shalatnya). Rasulullah SAW memerintahkan orang tersebut mengulang shalatnya berkali-kali karena ketiadaan tuma'ninah. Tuma'ninah adalah rukun fiqih yang menjadi pintu masuk menuju khusyu. Secara teknis, tuma'ninah berarti berhentinya sejenak seluruh anggota badan setelah gerakan sebelumnya. Secara esensial, ketenangan fisik ini memberikan ruang bagi hati untuk menghayati setiap bacaan dan dzikir yang dilafalkan. Tanpa tuma'ninah, khusyu mustahil dapat dicapai.
أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاك
Terjemahan: Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, maka jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu. (HR. Muslim).

