Ilmu tauhid merupakan fundamen paling mendasar dalam struktur bangunan keislaman. Tanpa pemahaman yang lurus mengenai hakikat ketuhanan, maka seluruh amaliah lahiriah akan kehilangan orientasi substansialnya. Para ulama mutakallimin, khususnya dari madrasah Al-Asy’ariyyah dan Al-Maturidiyyah, telah merumuskan sistematika pengenalan sifat-sifat Allah Swt guna menjaga kemurnian akidah umat dari syubhat tasybih (penyerupaan) dan ta’thil (peniadaan). Mengenal sifat wajib bagi Allah bukan sekadar hafalan dogmatis, melainkan sebuah pencapaian intelektual dan spiritual untuk memahami bagaimana Sang Khaliq berinteraksi dengan alam semesta melalui kemahakuasaan-Nya yang mutlak. Analisis ini akan membedah secara komprehensif beberapa sifat dasar yang menjadi pilar utama dalam teologi Islam.
الْأَصْلُ الْأَوَّلُ فِي مَعْرِفَةِ وُجُودِ اللهِ تَعَالَى، فَإِنَّ الْوُجُودَ صِفَةٌ نَفْسِيَّةٌ لَا يَتَصَوَّرُ الْعَقْلُ ذَاتَ اللهِ تَعَالَى بِدُونِهَا. وَالدَّلِيلُ الْعَقْلِيُّ عَلَى وُجُودِهِ هُوَ حُدُوثُ الْعَالَمِ، فَكُلُّ حَادِثٍ لَا بُدَّ لَهُ مِنْ مُحْدِثٍ، وَالْعَالَمُ حَادِثٌ لِتَغَيُّرِهِ، فَلَا بُدَّ لَهُ مِنْ مُحْدِثٍ وَاجِبِ الْوُجُودِ وَهُوَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ.
Terjemahan dan Tafsir Mendalam:
Prinsip pertama dalam mengenal Allah adalah memahami sifat Wujud (Ada). Sifat ini dikategorikan sebagai sifat Nafsiyah, yaitu sifat yang menunjukkan keberadaan Zat Allah itu sendiri yang mana akal tidak mungkin membayangkan adanya Zat tanpa adanya sifat ini. Secara argumentasi rasional (dalil aqli), keberadaan alam semesta yang bersifat temporal (hadits) dan selalu berubah-ubah menjadi bukti konklusif bahwa ada Penggerak Pertama yang keberadaannya bersifat niscaya (Wajib al-Wujud). Dalam kacamata tafsir terhadap Surah At-Thur ayat 35, Allah menantang logika manusia: Apakah mereka diciptakan tanpa ada sesuatu pun yang menciptakan, ataukah mereka menciptakan diri mereka sendiri? Secara ontologis, ketiadaan tidak mungkin melahirkan keberadaan, sehingga keberadaan Allah adalah kebenaran absolut yang mendahului segala sesuatu.
ثُمَّ يَجِبُ لِلَّهِ تَعَالَى الْقِدَمُ وَالْبَقَاءُ، فَالْقِدَمُ هُوَ عَدَمُ الِافْتِتَاحِ لِوُجُودِهِ، وَالْبَقَاءُ هُوَ عَدَمُ الِاخْتِتَامِ لِوُجُودِهِ سُبْحَانَهُ. فَهُوَ الْأَوَّلُ الَّذِي لَيْسَ قَبْلَهُ شَيْءٌ، وَالْآخِرُ الَّذِي لَيْسَ بَعْدَهُ شَيْءٌ. كَمَا قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ. وَهَذَانِ الصِّفَتَانِ مِنَ الصِّفَاتِ السَّلْبِيَّةِ الَّتِي تَنْفِي عَنْهُ تَعَالَى مَعْنَى الْعَدَمِ السَّابِقِ وَاللَّاحِقِ.
Terjemahan dan Tafsir Mendalam:
Selanjutnya, Allah wajib bersifat Qidam (Dahulu tanpa awal) dan Baqa (Kekal tanpa akhir). Qidam bermakna bahwa keberadaan Allah tidak didahului oleh ketiadaan, sedangkan Baqa bermakna keberadaan-Nya tidak akan pernah diakhiri oleh kepunahan. Kedua sifat ini masuk dalam kategori Shifat Salbiyah, yaitu sifat yang berfungsi meniadakan hal-hal yang tidak layak bagi keagungan Allah. Mengacu pada Surah Al-Hadid ayat 3, Allah menegaskan diri-Nya sebagai Al-Awwal dan Al-Akhir. Secara filosofis, jika Allah memiliki titik awal, maka Dia membutuhkan pencipta lain, yang akan menyebabkan terjadinya tasalsul (mata rantai tanpa ujung) atau dawr (lingkaran setan), yang keduanya mustahil secara akal. Oleh karena itu, Allah adalah Sang Absolut yang melampaui dimensi waktu yang diciptakan-Nya sendiri.
وَمِنْ أَعْظَمِ الصِّفَاتِ الْوَاجِبَةِ مُخَالَفَتُهُ تَعَالَى لِلْحَوَادِثِ، بِمَعْنَى أَنَّهُ سُبْحَانَهُ لَا يُشْبِهُ شَيْئًا مِنْ مَخْلُوقَاتِهِ وَلَا يُشْبِهُهُ شَيْءٌ مِنْهَا، لَا فِي الذَّاتِ وَلَا فِي الصِّفَاتِ وَلَا فِي الْأَفْعَالِ. فَلَيْسَ لَهُ جِسْمٌ وَلَا حَيِّزٌ وَلَا جِهَةٌ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ. وَهَذَا هُوَ أَصْلُ التَّنْزِيهِ الَّذِي قَامَتْ عَلَيْهِ عَقِيدَةُ أَهْلِ الْحَقِّ، حَيْثُ نَنْفِي عَنِ اللهِ كُلَّ مَا يَقْتَضِي التَّجْسِيمَ أَوِ التَّشْبِيهَ.
Terjemahan dan Tafsir Mendalam:

