Mengenal Allah Swt (Ma'rifatullah) merupakan fondasi utama dalam bangunan keislaman seorang hamba. Tanpa pengenalan yang benar terhadap Sang Pencipta, ibadah seseorang akan kehilangan ruh dan arahnya. Para ulama kalam, khususnya dari madrasah Asy-Sya'irah dan Al-Maturidiyyah, telah merumuskan sistematika pengenalan sifat-sifat Allah yang wajib diketahui oleh setiap mukalaf. Sistematika ini bukan sekadar hafalan, melainkan sebuah perangkat metodologis untuk menjaga kemurnian tauhid dari syubhat tasybih (penyerupaan) dan ta'thil (peniadaan). Sifat wajib bagi Allah adalah sifat yang secara akal tidak mungkin tidak ada pada zat-Nya. Mempelajari sifat-sifat ini melibatkan perpaduan antara dalil naqli yang bersumber dari Al-Quran dan Sunnah, serta dalil aqli yang memuaskan logika manusia yang sehat.
PONDASI AWAL: KEWAJIBAN MA'RIFATULLAH DAN SIFAT NAFSIYAH
Langkah pertama dalam kajian akidah adalah memahami bahwa mengenal Allah adalah kewajiban syar'i yang paling mendasar. Sifat pertama yang dibahas adalah Sifat Nafsiyah, yaitu Al-Wujud (Ada). Keberadaan Allah adalah kepastian absolut yang menjadi titik berangkat seluruh eksistensi alam semesta.
فَيَجِبُ عَلَى كُلِّ مُكَلَّفٍ شَرْعًا أَنْ يَعْرِفَ مَا يَجِبُ فِي حَقِّهِ تَعَالَى وَمَا يَسْتَحِيْلُ وَمَا يَجُوْزُ. فَأَمَّا مَا يَجِبُ فِي حَقِّهِ تَعَالَى فَأَوَّلُهَا الْوُجُوْدُ وَهُوَ صِفَةٌ نَفْسِيَّةٌ لَا تُعَلَّلُ بِعِلَّةٍ. وَالدَّلِيْلُ عَلَى وُجُوْدِهِ تَعَالَى هُوَ وُجُوْدُ هَذِهِ الْمَخْلُوْقَاتِ وَتَغَيُّرُهَا مِنْ حَالٍ إِلَى حَالٍ، فَإِنَّ كُلَّ حَادِثٍ لَا بُدَّ لَهُ مِنْ مُحْدِثٍ وَاجِبِ الْوُجُوْدِ لِذَاتِهِ مُنَزَّهٍ عَنِ الْعَدَمِ.
Terjemahan dan Syarah: Maka wajib bagi setiap mukalaf secara syariat untuk mengetahui apa yang wajib bagi Allah, apa yang mustahil, dan apa yang jaiz (mungkin). Adapun yang pertama dari sifat wajib adalah Al-Wujud (Ada). Sifat ini disebut Sifat Nafsiyah, yaitu sifat yang menunjukkan pada Zat itu sendiri tanpa ada tambahan makna lainnya. Dalil atas keberadaan Allah adalah adanya makhluk-makhluk ini dan perubahannya dari satu kondisi ke kondisi lain. Secara logika, setiap hal yang baru (hadits) pasti membutuhkan pencipta (muhdits) yang wajib keberadaannya secara zat dan suci dari ketiadaan. Syarah ini menegaskan bahwa alam semesta adalah saksi bisu yang paling nyata atas eksistensi Sang Khaliq.
MENYUCIKAN ZAT ALLAH MELALUI SIFAT SALBIYAH
Setelah menetapkan keberadaan-Nya, kita beralih pada Sifat Salbiyah. Sifat ini berfungsi untuk meniadakan segala sifat kekurangan yang tidak layak bagi keagungan Allah. Sifat tersebut meliputi Al-Qidam (Dahulu tanpa awal), Al-Baqa (Kekal tanpa akhir), Mukhalafatuhu lil Hawaditsi (Berbeda dengan makhluk), Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri sendiri), dan Al-Wahdaniyyah (Esa).
وَالصِّفَاتُ السَّلْبِيَّةُ خَمْسٌ وَهِيَ الْقِدَمُ وَالْبَقَاءُ وَمُخَالَفَتُهُ لِلْحَوَادِثِ وَقِيَامُهُ بِنَفْسِهِ وَالْوَحْدَانِيَّةُ. فَمَعْنَى الْقِدَمِ سَلْبُ الْعَدَمِ السَّابِقِ عَلَى الْوُجُوْدِ، وَمَعْنَى الْبَقَاءِ سَلْبُ الْعَدَمِ اللَّاحِقِ لِلْوُجُوْدِ. وَأَمَّا مُخَالَفَتُهُ لِلْحَوَادِثِ فَهِيَ تَنْزِيْهُهُ عَنِ الْجِرْمِيَّةِ وَالْعَرَضِيَّةِ وَالْكَمِّيَّةِ وَالْكَيْفِيَّةِ، فَلَيْسَ لَهُ جِهَةٌ وَلَا مَكَانٌ وَلَا زَمَانٌ لِأَنَّهُ خَالِقُ الزَّمَانِ وَالْمَكَانِ وَهُوَ الْآنَ عَلَى مَا عَلَيْهِ كَانَ.
Terjemahan dan Syarah: Sifat Salbiyah ada lima, yaitu Al-Qidam, Al-Baqa, Mukhalafatuhu lil Hawaditsi, Qiyamuhu Binafsihi, dan Al-Wahdaniyyah. Makna Al-Qidam adalah meniadakan ketiadaan yang mendahului keberadaan-Nya. Makna Al-Baqa adalah meniadakan ketiadaan yang menyusul setelah keberadaan-Nya. Adapun Mukhalafatuhu lil Hawaditsi adalah mensucikan Allah dari sifat kebendaan (jirmiyyah), sifat-sifat benda (aradhiyyah), kuantitas, dan kualitas. Maka bagi Allah tidak ada arah, tidak ada tempat, dan tidak terikat waktu, karena Dialah pencipta waktu dan tempat, dan Dia sekarang tetap sebagaimana adanya sebelum penciptaan alam tanpa berubah sedikit pun.

