Mengenal Allah Swt (Ma'rifatullah) merupakan fondasi utama dalam bangunan keimanan seorang Muslim. Para ulama tauhid menegaskan bahwa awal mula agama adalah mengenal Pencipta dengan segala kesempurnaan-Nya. Dalam tradisi keilmuan Asy'ariyah dan Maturidiyah, pemahaman mengenai sifat-sifat wajib bagi Allah bukan sekadar hafalan dogmatis, melainkan sebuah pencapaian intelektual dan spiritual untuk membedakan antara Sang Khaliq yang Maha Absolut dengan makhluk yang bersifat kontingen. Kajian ini akan membedah secara komprehensif klasifikasi sifat-sifat tersebut, mulai dari Sifat Nafsiyah, Salbiyah, Ma'ani, hingga Ma'nawiyah, guna memperkokoh pilar tauhid dalam sanubari setiap mukmin.
Sifat pertama yang menjadi titik berangkat adalah Wujud. Secara ontologis, eksistensi Allah adalah niscaya (Wajib al-Wujud), yang berarti keberadaan-Nya tidak membutuhkan penyebab eksternal dan tidak didahului oleh ketiadaan. Allah adalah hakikat yang paling nyata di alam semesta ini.
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ . قَالَتْ رُسُلُهُمْ أَفِي اللَّهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ يَدْعُوكُمْ لِيَغْفِرَ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرَكُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى
Terjemahan dan Syarah Mendalam: Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. Al-Hadid: 3). Berkata rasul-rasul mereka: Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? (QS. Ibrahim: 10). Ayat-ayat ini menegaskan Sifat Nafsiyah Allah, yaitu Wujud. Syarah para mufassir menjelaskan bahwa Al-Awwal berarti keberadaan-Nya tanpa permulaan, sedangkan Al-Akhir berarti tanpa akhir. Secara aqli, mustahil alam semesta yang teratur ini ada tanpa adanya Pengada (Al-Mujid). Sifat Wujud ini menjadi dasar bagi sifat-sifat berikutnya, karena mustahil sesuatu yang tidak ada memiliki sifat kesempurnaan.
Setelah menetapkan eksistensi-Nya, kita beralih pada Sifat Salbiyah. Sifat ini berfungsi untuk meniadakan segala atribut yang tidak layak bagi keagungan Allah. Di antaranya adalah Mukhalafatu lil Hawaditsi (Berbeda dengan makhluk) dan Wahdaniyah (Maha Esa). Allah bersih dari segala bentuk penyerupaan, komposisi, maupun pembilangan.
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ . قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ . اللَّهُ الصَّمَدُ . لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ . وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ . فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْوَاجًا ۖ يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ
Terjemahan dan Syarah Mendalam: Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS. Al-Shura: 11). Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa... (QS. Al-Ikhlas: 1-4). Dalam tinjauan teologis, ayat Laisa Kamitslihi Syaiun merupakan kaidah utama dalam mensucikan Allah (Tanzih). Allah tidak dibatasi oleh ruang, waktu, bentuk, maupun arah. Wahdaniyah mencakup Esa dalam Dzat (tidak tersusun dari bagian-bagian), Esa dalam Sifat (tidak ada yang menyamai kualitas sifat-Nya), dan Esa dalam Af'al (tidak ada pencipta selain Dia). Ini membatalkan segala bentuk syirik, baik syirik jali (nyata) maupun syirik khafi (tersembunyi).
Selanjutnya adalah Sifat Ma'ani, yaitu sifat-sifat yang berdiri pada Dzat Allah yang memberikan pengaruh pada ciptaan-Nya. Sifat ini meliputi Qudrah (Kuasa), Iradah (Kehendak), Ilmu (Mengetahui), Hayat (Hidup), Sama' (Mendengar), Bashar (Melihat), dan Kalam (Berfirman). Fokus utama di sini adalah bagaimana kekuasaan dan kehendak Allah mengatur seluruh mekanisme alam semesta.
إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ . اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ

