Ilmu Akidah atau yang sering disebut sebagai Ilmu Ushuluddin merupakan fondasi utama dalam bangunan keislaman seorang hamba. Tanpa pemahaman yang mapan mengenai hakikat ketuhanan, ibadah seseorang berisiko kehilangan arah dan esensinya. Para ulama mutakallimin, khususnya dari kalangan Asya’irah dan Maturidiyyah, telah merumuskan metodologi yang sangat ketat dalam mengklasifikasikan sifat-sifat Allah Swt ke dalam kategori yang rasional namun tetap berpijak pada wahyu. Mengenal sifat wajib bagi Allah bukan sekadar menghafal deretan kata, melainkan sebuah upaya intelektual dan spiritual untuk memahami batasan antara Sang Khaliq dan makhluk. Sifat-sifat ini dibagi menjadi empat kategori besar: Nafsiyah, Salbiyah, Ma’ani, dan Ma’nawiyah. Analisis ini akan membedah bagaimana setiap sifat tersebut berdiri di atas argumen logika yang tak terbantahkan (dalil aqli) dan diperkuat oleh teks-teks suci (dalil naqli).

[TEKS ARAB BLOK 1]

Dalam Artikel

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ. هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ. وَقَالَ فِي سُورَةِ الْإِخْلَاصِ: قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ. اللَّهُ الصَّمَدُ. لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ. وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ.

[Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 1]

Allah Swt berfirman dalam kitab-Nya yang mulia: Dialah Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Menjaga Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Dia memiliki nama-nama yang paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS. Al-Hasyr: 23-24). Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia (QS. Al-Ikhlas: 1-4).

Syarah: Ayat-ayat di atas merupakan landasan utama bagi Sifat Nafsiyah (Wujud) dan Sifat Salbiyah. Wujud Allah adalah wujud yang hakiki, yang tidak didahului oleh tiada dan tidak akan diakhiri oleh ketiadaan. Dalam logika tauhid, keberadaan alam semesta yang bersifat baru (hadits) meniscayakan adanya Pencipta yang bersifat terdahulu (Qadim). Sifat Wahdaniyyah (Esa) yang termaktub dalam Surah Al-Ikhlas menegaskan bahwa Allah tidak tersusun dari bagian-bagian (kam muttashil) dan tidak ada zat lain yang menyerupai-Nya (kam munfashil). Ini adalah penafian total terhadap segala bentuk antropomorfisme dan dualisme dalam ketuhanan.

[TEKS ARAB BLOK 2]

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ. هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ. وَقَالَ الْعُلَمَاءُ فِي تَعْرِيفِ الْقِدَمِ وَالْبَقَاءِ: الْقِدَمُ هُوَ عَدَمُ افْتِتَاحِ الْوُجُودِ، وَالْبَقَاءُ هُوَ عَدَمُ اخْتِتَامِ الْوُجُودِ. فَكُلُّ مَا سِوَى اللَّهِ حَادِثٌ مُفْتَقِرٌ إِلَى مُوجِدٍ، وَاللَّهُ سُبْحَانَهُ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ، لَا يَحْتَاجُ إِلَى مَحَلٍّ وَلَا إِلَى مُخَصِّصٍ.

[Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 2]