Dalam diskursus teologi Islam atau ilmu kalam, mengenal Allah Swt (makrifatullah) merupakan kewajiban fundamental bagi setiap mukalaf. Para ulama, khususnya dari madrasah Asy-ariyyah dan Maturidiyyah, telah menyusun sistematika pemahaman mengenai sifat-sifat Allah guna menjaga kemurnian tauhid dari syubhat tasybih (penyerupaan) dan tathil (peniadaan). Sifat wajib bagi Allah bukanlah pembatasan terhadap kesempurnaan-Nya yang tidak terbatas, melainkan sebuah akomodasi intelektual bagi manusia untuk memahami keagungan Sang Pencipta melalui dalil naqli yang bersumber dari Al-Quran dan Sunnah, serta dalil aqli yang selaras dengan logika sehat. Kajian ini akan membedah secara mendalam klasifikasi sifat-sifat tersebut, mulai dari sifat nafsiyyah, salbiyyah, maani, hingga manawiyyah, sebagai sarana memperkokoh pilar keimanan di tengah arus pemikiran modern.
TEKS ARAB BLOK 1
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ . فَأَمَّا الصِّفَةُ النَّفْسِيَّةُ فَهِيَ الْوُجُودُ ، وَهُوَ صِفَةٌ دَالَّةٌ عَلَى نَفْسِ الذَّاتِ دُونَ مَعْنًى زَائِدٍ عَلَيْهَا. وَالدَّلِيلُ الْعَقْلِيُّ عَلَى وُجُودِهِ تَعَالَى هُوَ حُدُوثُ الْعَالَمِ ، إِذْ لَا بُدَّ لِكُلِّ حَادِثٍ مِنْ مُحْدِثٍ ، وَلَا بُدَّ لِكُلِّ مَصْنُوعٍ مِنْ صَانِعٍ قَدِيمٍ وَاجِبِ الْوُجُودِ لِذَاتِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 1:
Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Adapun sifat Nafsiyyah adalah Al-Wujud (Ada). Secara epistemologis, Wujud adalah sifat yang menunjukkan pada hakikat Zat Allah itu sendiri tanpa adanya tambahan makna pada Zat-Nya. Dalam kacamata ilmu kalam, keberadaan Allah bersifat Wajib al-Wujud (Wajib adanya), yang berarti akal tidak dapat menerima ketiadaan-Nya. Argumen kosmologis yang diajukan para mufassir dan mutakallimun menegaskan bahwa adanya alam semesta yang bersifat barru (baru/berubah) secara niscaya memerlukan adanya Muhdith (Pencipta) yang tidak berawal. Keberadaan Allah adalah basis dari seluruh eksistensi; tanpa Wujud-Nya, maka ketiadaan adalah mutlak. Oleh karena itu, sifat Wujud menjadi pembuka dalam mengenal Allah sebelum memasuki ranah pensucian sifat-sifat lainnya.
TEKS ARAB BLOK 2
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ . وَهَذَا يَتَضَمَّنُ صِفَاتِ السَّلْبِيَّةِ وَهِيَ الْقِدَمُ وَالْبَقَاءُ وَالْمُخَالَفَةُ لِلْحَوَادِثِ وَالْقِيَامُ بِالنَّفْسِ وَالْوَحْدَانِيَّةُ . فَمَعْنَى الْمُخَالَفَةِ لِلْحَوَادِثِ أَنَّهُ تَعَالَى لَيْسَ بِجِرْمٍ وَلَا عَرَضٍ وَلَا فِي جِهَةٍ وَلَا مَكَانٍ ، بَلْ هُوَ الْمُنَزَّهُ عَنْ كُلِّ مَا يَتَصَوَّرُهُ الْعَقْلُ مِنَ النَّقْصِ وَالتَّشْبِيهِ بِالْمَخْلُوقَاتِ
Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 2:
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Ayat ini merupakan fondasi bagi Sifat Salbiyyah, yaitu sifat yang meniadakan hal-hal yang tidak layak bagi keagungan Allah. Sifat-sifat ini meliputi Qidam (Terdahulu tanpa awal), Baqa (Kekal tanpa akhir), Mukhalafatu lil Hawaditsi (Berbeda dengan makhluk), Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri sendiri), dan Wahdaniyyah (Esa). Penekanan pada Mukhalafatu lil Hawaditsi sangat krusial dalam tafsir tauhid; Allah tidak berbentuk materi (jirm), tidak menempati ruang, tidak dibatasi waktu, dan tidak memiliki anggota tubuh sebagaimana makhluk. Segala sesuatu yang terlintas dalam benak manusia mengenai bentuk atau rupa Allah, maka Allah tidaklah demikian. Ini adalah bentuk tanzih (penyucian) mutlak yang memisahkan antara Khaliq yang absolut dengan makhluk yang relatif.

