Ilmu Tauhid merupakan fondasi utama dalam bangunan keislaman seorang hamba, di mana pengenalan terhadap Sang Khalik atau Ma rifatullah menjadi titik awal dari segala bentuk peribadatan. Dalam tradisi intelektual Islam, para ulama Ahlussunnah wal Jama ah, khususnya madrasah Al-Asy ariyah dan Al-Maturidiyah, telah merumuskan metodologi sistematis untuk memahami hakikat ketuhanan melalui klasifikasi sifat-sifat wajib bagi Allah SWT. Sifat-sifat ini bukanlah tambahan atas Dzat-Nya dalam pengertian fisik, melainkan atribut kesempurnaan yang mutlak ada dan mustahil ditiadakan secara akal maupun syariat. Mempelajari sifat-sifat ini bukan sekadar aktivitas kognitif, melainkan upaya mentransendensikan pemahaman manusia dari keterbatasan makhluk menuju keagungan Sang Pencipta yang tidak terbatas.
Pola pertama dalam memahami sifat Allah dimulai dengan Sifat Nafsiyah, yaitu sifat yang berhubungan dengan Dzat Allah itu sendiri, yang mana tanpa sifat ini, keberadaan Dzat tidak dapat dibayangkan. Sifat tersebut adalah Al-Wujud. Keberadaan Allah adalah sebuah keniscayaan (Wajib al-Wujud), yang berarti secara rasional, akal tidak dapat menerima ketiadaan-Nya karena alam semesta ini merupakan jejak nyata dari eksistensi-Nya.
اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
Terjemahan dan Tafsir Mendalam: Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya; tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. Al-Baqarah: 255). Ayat ini merupakan landasan ontologis tentang sifat Al-Wujud dan Al-Qayyumiyah. Allah berdiri sendiri tanpa membutuhkan ruang, waktu, atau pencipta lain. Eksistensi-Nya bersifat absolut, berbeda dengan eksistensi makhluk yang bersifat kontingen (mumkin al-wujud). Penafian sifat kantuk dan tidur menegaskan kesempurnaan eksistensi yang tidak tersentuh oleh kekurangan biologis.
Selanjutnya, kita memasuki ranah Sifat Salbiyah, yaitu sifat-sifat yang berfungsi untuk meniadakan segala sesuatu yang tidak layak bagi keagungan Allah. Di antaranya adalah Al-Qidam (Dahulu tanpa awal) dan Al-Baqa (Kekal tanpa akhir). Secara epistemologis, jika Allah memiliki titik awal, maka Dia membutuhkan pencipta, dan hal ini akan menyebabkan rantai penciptaan yang tak berujung (tasalsul) yang secara logika mustahil terjadi.
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ . هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Terjemahan dan Tafsir Mendalam: Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hadid: 3-4). Dalam tafsir para ulama, Al-Awwal bermakna Qadim, yakni keberadaan-Nya mendahului segala sesuatu tanpa ada permulaan waktu. Al-Akhir bermakna Baqa, yakni Dia tetap ada setelah hancurnya seluruh makhluk. Sifat ini memberikan jaminan bagi kaum mukmin bahwa sandaran hidup mereka adalah Dzat yang tidak akan pernah sirna, berbeda dengan dunia yang fana.
Aspek krusial lainnya dalam akidah adalah Mukhalafatuhu lil Hawaditsi, yaitu perbedaan Allah dengan segala sesuatu yang baru (makhluk). Allah tidak menyerupai makhluk-Nya baik dalam Dzat, Sifat, maupun Perbuatan. Jika Allah menyerupai makhluk dalam satu sisi saja, maka Allah akan memiliki sifat kekurangan yang dimiliki makhluk tersebut, dan hal ini mustahil bagi Tuhan.
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ . اللَّهُ الصَّمَدُ . لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ . وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ . لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ . فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْوَاجًا يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

