Ma’rifatullah atau mengenal Allah Swt merupakan kewajiban pertama bagi setiap mukalaf sebelum melangkah pada syariat lainnya. Dalam diskursus teologi Islam, khususnya dalam madzhab Asy’ariyah dan Maturidiyah, pengenalan terhadap sifat-sifat Allah disusun secara sistematis untuk menjaga kemurnian tauhid dari paham antropomorfisme (tasybih) maupun ateisme (ta’thil). Sifat-sifat wajib ini bukanlah zat itu sendiri, namun ia adalah sifat yang melekat pada Zat Yang Maha Agung, yang secara akal tidak mungkin tidak ada. Memahami sifat-sifat ini menuntut ketajaman nalar (aqli) yang bersandar penuh pada otoritas wahyu (naqli). Penataan 20 sifat wajib ini diklasifikasikan ke dalam empat kategori utama: Nafsiyyah, Salbiyyah, Ma’ani, dan Ma’nawiyyah, yang masing-masing memiliki implikasi teologis yang sangat fundamental dalam membangun kerangka berpikir seorang mukmin.

فَأَوَّلُ وَاجِبٍ عَلَى مَنْ كُلِّفَا مُـمَكَّـنًا أَنْ يَعْرِفَ اللهَ بِـفَا

Dalam Artikel

فَاللَّهُ مَوْجُودٌ قَدِيمٌ بَاقِي مُخَالِفٌ لِلْخَلْقِ بِالْإِطْلَاقِ

وَقَائِمٌ لِذَاتِهِ وَوَاحِدُ وَعَالِمٌ وَقَادِرٌ وَمُرِيدُ

وَسَامِعٌ بَصِيرٌ الْمُتَكَلِّمُ لَهُ صِفَاتٌ سَبْعَةٌ تَنْتَظِمُ

Terjemahan dan Tafsir Mendalam:

Teks di atas merupakan bait-bait fundamental dari kitab Jauharatut Tauhid karya Imam Ibrahim al-Laqqani. Beliau menegaskan bahwa kewajiban pertama bagi seorang mukalaf adalah mengenal Allah. Sifat pertama yang dibahas adalah Wujud (Ada). Secara ontologis, keberadaan Allah adalah Wajib al-Wujud (keberadaan yang niscaya), berbeda dengan makhluk yang bersifat Mumkin al-Wujud (mungkin ada dan mungkin tidak ada). Sifat Wujud dikategorikan sebagai Sifat Nafsiyyah, yaitu sifat yang menunjukkan adanya zat itu sendiri tanpa tambahan makna lain. Dalil aqli bagi sifat Wujud adalah adanya alam semesta ini (al-kainat). Secara logika, mustahil sebuah bangunan ada tanpa pembangun, dan mustahil keteraturan kosmos ini terjadi tanpa adanya Pengatur yang Maha Ada. Keberadaan Allah tidak didahului oleh tiada dan tidak akan diakhiri oleh tiada, yang membawa kita pada pembahasan sifat Salbiyyah.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ