Memahami hakikat ketuhanan merupakan puncak dari segala ilmu pengetahuan dalam Islam. Ma'rifatullah atau mengenal Allah bukan sekadar pengakuan lisan, melainkan sebuah pencapaian intelektual dan spiritual yang didasarkan pada dalil-dalil yang qath'i (pasti). Dalam tradisi teologi Ahlussunnah wal Jama'ah, khususnya madrasah Asy'ariyah dan Maturidiyah, para ulama telah merumuskan sistematika pemahaman sifat-sifat Allah guna menjaga kemurnian tauhid dari paham tasybih (penyerupaan) dan ta'thil (peniadaan). Sifat-sifat wajib bagi Allah diklasifikasikan menjadi empat kategori utama: Nafsiyyah, Salbiyyah, Ma'ani, dan Ma'nawiyyah. Kajian ini akan membedah secara komprehensif bagaimana sifat-sifat tersebut menjadi pilar utama dalam membangun struktur keimanan yang kokoh di tengah arus pemikiran modern.
فَأَوَّلُ وَاجِبٍ عَلَى مَنْ كُلِّفَا ۞ مَعْرِفَةُ اللهِ بِتَحْقِيْقٍ عُرِفَا
وَيَجِبُ لِلَّهِ تَعَالَى عِشْرُوْنَ صِفَةً وَهِيَ الْوُجُوْدُ وَالْقِدَمُ وَالْبَقَاءُ وَمُخَالَفَتُهُ لِلْحَوَادِثِ وَقِيَامُهُ بِنَفْسِهِ وَالْوَحْدَانِيَّةُ. فَهَذِهِ سِتَّةُ صِفَاتٍ، الْأُولَى نَفْسِيَّةٌ وَهِيَ الْوُجُوْدُ، وَالْخَمْسَةُ بَعْدَهَا سَلْبِيَّةٌ. ثُمَّ يَجِبُ لَهُ تَعَالَى سَبْعُ صِفَاتٍ تُسَمَّى صِفَاتِ الْمَعَانِي وَهِيَ الْقُدْرَةُ وَالْإِرَادَةُ وَالْعِلْمُ وَالْحَيَاةُ وَالسَّمْعُ وَالْبَصَرُ وَالْكَلَامُ. ثُمَّ سَبْعُ صِفَاتٍ تُسَمَّى صِفَاتٍ مَعْنَوِيَّةً وَهِيَ كَوْنُهُ قَادِرًا وَمُرِيْدًا وَعَالِمًا وَحَيًّا وَسَمِيْعًا وَبَصِيْرًا وَمُتَكَلِّمًا.
Terjemahan & Tafsir Mendalam:
Maka kewajiban pertama bagi setiap mukallaf (orang yang terbebani syariat) adalah mengenal Allah dengan pengenalan yang hakiki. Wajib bagi Allah Ta'ala dua puluh sifat, yaitu: Wujud (Ada), Qidam (Dahulu), Baqa (Kekal), Mukhalafatu lil Hawaditsi (Berbeda dengan makhluk), Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri sendiri), dan Wahdaniyyah (Esa). Enam sifat ini terdiri dari satu sifat Nafsiyyah (Wujud) dan lima sifat Salbiyyah. Kemudian wajib bagi-Nya tujuh sifat Ma'ani yaitu: Qudrah (Kuasa), Iradah (Kehendak), 'Ilmu (Ilmu), Hayat (Hidup), Sama' (Mendengar), Bashar (Melihat), dan Kalam (Berfirman). Serta tujuh sifat Ma'nawiyyah yang merupakan konsekuensi dari sifat Ma'ani tersebut.
Tafsir teologis atas teks di atas menegaskan bahwa pengenalan terhadap sifat-sifat ini bukanlah bid'ah, melainkan metodologi (manhaj) untuk memahami wahyu. Sifat Nafsiyyah merujuk pada ketetapan adanya Dzat Allah yang tidak mungkin ditiadakan oleh akal. Sementara Sifat Salbiyyah berfungsi untuk meniadakan segala sifat kekurangan yang tidak layak bagi keagungan Tuhan. Misalnya, Qidam meniadakan adanya permulaan bagi Allah, dan Baqa meniadakan adanya akhir bagi-Nya. Ini adalah benteng pertama dalam menjaga transendensi Tuhan dari keterbatasan ruang dan waktu.
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ. فَالْمُخَالَفَةُ لِلْحَوَادِثِ مَعْنَاهَا عَدَمُ الْمُمَاثَلَةِ لِشَيْءٍ مِنَ الْمَخْلُوْقَاتِ لَا فِي الذَّاتِ وَلَا فِي الصِّفَاتِ وَلَا فِي الْأَفْعَالِ. فَلَيْسَ ذَاتُهُ كَالذَّوَاتِ وَلَا صِفَاتُهُ كَالصِّفَاتِ، سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يَقُوْلُ الظَّالِمُوْنَ عُلُوًّا كَبِيْرًا. وَقِيَامُهُ بِنَفْسِهِ يَعْنِي أَنَّهُ غَنِيٌّ عَنِ الْمَحَلِّ وَعَنِ الْمُخَصِّصِ، فَاللَّهُ تَعَالَى لَا يَفْتَقِرُ إِلَى شَيْءٍ بَلْ كُلُّ مَا سِوَاهُ مُفْتَقِرٌ إِلَيْهِ.
Terjemahan & Tafsir Mendalam:
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Maka Mukhalafatu lil Hawaditsi bermakna ketiadaan keserupaan Allah dengan segala sesuatu dari makhluk-Nya, baik dalam Dzat, Sifat, maupun Perbuatan. Maka Dzat-Nya tidaklah seperti dzat-dzat makhluk, dan Sifat-Nya tidaklah seperti sifat-sifat makhluk. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi Dia dari apa yang dikatakan oleh orang-orang zalim dengan ketinggian yang sebesar-besarnya. Dan Qiyamuhu Binafsihi berarti bahwa Allah Maha Kaya (tidak butuh) kepada tempat maupun kepada pencipta/penentu. Maka Allah Ta'ala tidak membutuhkan sesuatu pun, melainkan segala sesuatu selain-Nya lah yang membutuhkan-Nya.

