Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya al-Khusyu' fi as-Salah menjelaskan bahwa khusyu pada dasarnya adalah kelembutan hati, kerendahan, ketundukan, serta kepasrahan total kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Ketika hati telah meraih kekhusyuan, seluruh anggota badan akan mengikutinya secara alamiah. Namun, fenomena yang kerap terjadi pada mayoritas kaum muslimin adalah formalitas gerakan tanpa diiringi kehadiran jiwa (hudhur al-qalb). Kajian ini akan membedah secara komprehensif landasan teks-teks otentik dari Al-Quran, As-Sunnah, serta syarah ulama mu'tabar untuk memandu rekonstruksi shalat kita menuju tingkatan khusyu yang sempurna.
Keutamaan kekhusyuan merupakan pembeda utama antara keberhasilan spiritual seorang mukmin dan rutinitas tanpa makna. Allah Subhanahu wa Ta'ala menetapkan khusyu sebagai sifat pertama yang memverifikasi keimanan yang haqiqi sebagaimana termaktub dalam firman-Nya:
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ﴿١﴾ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ ﴿٢﴾
Terjemahan & Syarah/Tafsir:
Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu dalam shalatnya. (QS

