Pernah nggak sih kamu merasa kayak lagi lari di treadmill tapi nggak sampai-sampai? Lihat postingan teman di LinkedIn atau Instagram isinya pencapaian semua, sementara kita masih berkutat sama tumpukan tugas atau revisi yang nggak kelar-kelar. Fenomena hustle culture ini sering banget bikin mental kita kena mental breakdown atau minimal ngerasa FOMO parah. Kita dipaksa buat selalu produktif 24/7 sampai lupa kalau diri kita juga butuh napas dan jeda.

Langkah pertama buat ngadepin tekanan ini adalah dengan sadar kalau kontrol hasil itu bukan di tangan kita. Kita boleh berencana dan kerja keras, tapi jangan sampai bikin hati kita keropos karena terlalu ambisius. Di saat hati mulai nggak tenang karena urusan dunia yang makin riuh, coba deh buat kembali ke pegangan utama kita. Ingat kalimat ini:

Dalam Artikel

حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

Artinya: Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia adalah sebaik-baik pelindung.

Kalimat ini sakti banget buat ngingetin kalau kita punya sandaran yang super kuat. Jadi, kalau deadline lagi numpuk atau rencana masa depan terasa blur, serahin aja ke Allah setelah kita usaha maksimal. Tawakal itu bukan berarti pasrah tanpa gerak, tapi kerja keras dengan hati yang tenang karena tahu ada Allah yang bakal ngatur hasil terbaik buat kita.

Selain itu, di tengah gempuran tren pop culture yang serba cepat, kita butuh momen buat healing yang beneran healing, bukan cuma sekadar scrolling media sosial yang malah bikin makin stres. Healing terbaik dalam Islam itu adalah saat kita bisa connect lagi sama Sang Pencipta. Saat dunia lagi berisik banget, coba cari pojokan yang sepi, ambil wudhu, dan rasain ketenangan yang masuk ke hati. Allah sudah janji dalam Al-Qur'an:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Artinya: Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.

Kalau kamu merasa sesak atau cemas berlebihan, coba deh baca doa yang sering dibaca Nabi Musa ini supaya hati lebih plong: