Shalat merupakan tiang agama sekaligus sarana komunikasi vertikal antara hamba dengan Sang Khaliq. Namun, shalat yang sekadar menggugurkan kewajiban lahiriah tanpa melibatkan kehadiran hati seringkali kehilangan esensinya. Khusyu bukan sekadar pelengkap, melainkan ruh dari shalat itu sendiri. Secara etimologi, khusyu bermakna ketundukan, ketenangan, dan kerendahan hati. Dalam diskursus keilmuan Islam, para ulama membagi khusyu menjadi dua dimensi, yakni khusyu al-qalb (kekhusyuan hati) dan khusyu al-jawarih (kekhusyuan anggota badan). Tanpa keterpaduan keduanya, shalat akan terasa hambar dan tidak memberikan dampak transformatif bagi perilaku mushalli atau orang yang mendirikannya.
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ
Terjemahan dan Syarah Tafsir: Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu dalam shalatnya. Ayat ini merupakan pembuka dari Surah Al-Mu'minun yang menegaskan bahwa kunci keberuntungan (al-falah) bukan sekadar pada kuantitas shalat, melainkan pada kualitas khusyu. Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa khusyu dalam shalat hanya dapat dicapai oleh mereka yang mengosongkan hatinya dari segala urusan duniawi dan lebih mengutamakan perjumpaan dengan Allah di atas segalanya. Khusyu di sini mencakup rasa takut kepada Allah (al-khauf) dan ketenangan jiwa (as-sakinah) yang terpancar dari gerak-gerik fisik yang tenang.
إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا
Terjemahan dan Syarah Hadits: Jika engkau hendak shalat, maka bertakbirlah. Kemudian bacalah ayat Al-Quran yang mudah bagimu. Lalu ruku-lah hingga engkau thuma'ninah dalam ruku. Kemudian bangkitlah hingga engkau berdiri tegak. Lalu sujudlah hingga engkau thuma'ninah dalam sujud. Kemudian bangkitlah hingga engkau thuma'ninah dalam duduk. Lalu sujudlah kembali hingga engkau thuma'ninah dalam sujud. Lakukanlah hal itu dalam seluruh shalatmu. Hadits ini dikenal sebagai hadits al-musi'u shalatahu (orang yang buruk shalatnya). Rasulullah SAW menekankan pentingnya thuma'ninah, yaitu diam sejenak setelah anggota badan berada pada posisi sempurna. Thuma'ninah adalah syarat fisik mutlak untuk meraih khusyu. Tanpa thuma'ninah, shalat dianggap tidak sah secara fiqih, dan secara spiritual, hati tidak akan sempat meresapi makna setiap bacaan.
أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
Terjemahan dan Syarah Akidah: Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, maka jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu. Potongan hadits Jibril ini mendefinisikan maqam Ihsan. Dalam konteks shalat khusyu, seorang hamba harus membangun kesadaran muraqabah (merasa diawasi). Jika seseorang menyadari bahwa Sang Pencipta alam semesta sedang memperhatikannya secara langsung, maka secara otomatis seluruh panca indera dan pikirannya akan tertuju hanya kepada-Nya. Khusyu adalah buah dari keyakinan yang mendalam bahwa shalat adalah saat di mana hijab antara hamba dan Tuhan disingkapkan secara maknawi.
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ
Terjemahan dan Syarah Tafsir: Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu. Allah SWT mengisyaratkan bahwa shalat bisa menjadi beban yang berat jika dilakukan tanpa kekhusyuan. Mengapa berat? Karena pikiran yang melayang ke mana-mana membuat waktu shalat terasa lama dan membosankan. Namun, bagi al-khashi'un, shalat adalah istirahat. Sebagaimana Rasulullah SAW sering berkata kepada Bilal bin Rabah, "Arihna bish-shalah ya Bilal" (Istirahatkanlah kami dengan shalat, wahai Bilal). Shalat yang khusyu menjadi solusi atas problematika hidup dan sumber kekuatan mental.

