Ibadah doa merupakan inti dari penghambaan seorang manusia kepada Penciptanya. Dalam diskursus teologi Islam, doa bukan sekadar permohonan atas kebutuhan materi atau duniawi, melainkan sebuah manifestasi dari pengakuan atas kefakiran makhluk di hadapan kekayaan absolut Allah Subhanahu wa Ta'ala. Secara ontologis, doa memposisikan manusia pada titik nadir kerendahan hati, sementara Allah berada pada puncak kemuliaan-Nya. Para ulama salaf menekankan bahwa efektivitas sebuah doa tidak hanya bergantung pada redaksi yang diucapkan, namun juga sangat dipengaruhi oleh momentum waktu dan keadaan batin sang pendoa. Memahami waktu-waktu mustajab adalah bagian dari fiqih doa yang sangat krusial bagi setiap Muslim yang mengharapkan respons ilahiah atas segala keluh kesahnya.
Pola komunikasi transendental ini telah diatur dalam syariat melalui berbagai nash, baik Al-Quran maupun As-Sunnah, yang mengarahkan kita untuk mencari saat-saat di mana pintu langit dibuka lebar. Berikut adalah bedah mendalam mengenai waktu-waktu tersebut disertai teks otoritatif dari sumber aslinya.
Landasan pertama dalam memahami urgensi doa adalah perintah langsung dari Allah dalam Al-Quran yang menegaskan bahwa setiap permohonan akan mendapatkan jawaban, selama syarat dan adabnya terpenuhi.
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
Terjemahan dan Tafsir Mendalam:
Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina. (QS. Ghafir: 60).
Dalam tinjauan tafsir, ayat ini menggunakan kata Astajib yang merupakan bentuk janji pasti dari Allah. Para mufassir menjelaskan bahwa doa dalam ayat ini disandingkan dengan kata ibadah (an ibadati), yang menunjukkan bahwa berdoa itu sendiri adalah aktivitas penyembahan. Imam Ibnu Katsir menekankan bahwa Allah sangat murka kepada hamba-Nya yang meninggalkan doa karena hal itu dianggap sebagai bentuk kesombongan. Secara semantik, perintah Ud'uni (berdoalah kepada-Ku) bersifat mutlak, namun dalam implementasinya, para ulama menjelaskan adanya korelasi antara ketaatan hamba dengan kecepatan respons dari Allah. Ayat ini menjadi fondasi teologis bahwa komunikasi antara hamba dan Tuhan bersifat dua arah dan aktif.
Salah satu waktu yang paling diagungkan dalam tradisi Islam untuk memohon adalah pada sepertiga malam terakhir. Ini adalah waktu di mana dimensi malakut mendekat ke dimensi bumi dengan cara yang hanya diketahui oleh Allah.
يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

