Ilmu Tauhid atau yang sering disebut sebagai Ilmu Kalam merupakan pilar utama dalam bangunan keislaman seorang mukmin. Memahami sifat-sifat wajib bagi Allah Swt bukan sekadar hafalan dogmatis, melainkan sebuah proses dialektika intelektual dan spiritual untuk mengenal Sang Pencipta melalui metode yang disusun secara sistematis oleh para ulama salafush shalih, khususnya Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari dan Imam Abu Manshur al-Maturidi. Dalam diskursus akidah Ahlussunnah wal Jama'ah, pengenalan terhadap sifat-sifat Allah dibagi menjadi empat kategori utama: Nafsiyah, Salbiyah, Ma'ani, dan Ma'nawiyah. Pendekatan ini bertujuan untuk menjaga kemurnian tauhid dari syubhat tasybih (penyerupaan) dan ta'thil (peniadaan sifat). Pengetahuan ini menjadi wajib secara syariat bagi setiap mukallaf agar iman yang dimiliki tidak sekadar taklid, melainkan berdiri di atas hujah yang kokoh.

يَجِبُ عَلَى كُلِّ مُكَلَّفٍ شَرْعًا أَنْ يَعْرِفَ مَا يَجِبُ فِي حَقِّ اللَّهِ تَعَالَى وَمَا يَسْتَحِيلُ وَمَا يَجُوزُ، فَأَوَّلُ مَا يَجِبُ عَلَيْهِ مَعْرِفَةُ صِفَةِ الْوُجُودِ، وَهِيَ صِفَةٌ نَفْسِيَّةٌ لاَ يَتَصَوَّرُ الْعَقْلُ عَدَمَهَا، وَدَلِيلُهَا وُجُودُ هَذَا الْعَالَمِ بِمَا فِيهِ مِنَ التَّغَيُّرِ وَالْإِحْدَاثِ، فَكُلُّ حَادِثٍ لاَ بُدَّ لَهُ مِنْ مُحْدِثٍ وَاجِبِ الْوُجُودِ لِذَاتِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.

Dalam Artikel

Terjemahan & Tafsir Mendalam:

Wajib bagi setiap mukallaf secara syariat untuk mengetahui apa yang wajib bagi hak Allah Ta'ala, apa yang mustahil, dan apa yang jaiz (mungkin). Sifat pertama yang wajib diketahui adalah al-Wujud (Ada). Wujud dikategorikan sebagai Sifat Nafsiyah, yaitu sifat yang menunjukkan keberadaan Zat Allah itu sendiri tanpa adanya tambahan makna pada Zat-Nya. Secara rasional (aqli), akal tidak dapat menerima ketiadaan Allah karena alam semesta yang bersifat hadits (baru/berubah) ini mustahil ada tanpa adanya al-Muhdits (Pencipta). Dalam kaidah logika, eksistensi alam yang bersifat mungkin (mumkinul wujud) memerlukan penyebab yang keberadaannya bersifat niscaya (wajibul wujud). Tanpa sifat wujud ini, seluruh rangkaian sifat lainnya menjadi tidak relevan. Oleh karena itu, pengakuan atas eksistensi Allah adalah pintu gerbang utama dalam makrifatullah yang membedakan antara mukmin dan ateis.

ثُمَّ يَلِي ذَلِكَ الصِّفَاتُ السَّلْبِيَّةُ وَهِيَ خَمْسُ صِفَاتٍ: الْقِدَمُ وَالْبَقَاءُ وَمُخَالَفَتُهُ لِلْحَوَادِثِ وَقِيَامُهُ بِنَفْسِهِ وَالْوَحْدَانِيَّةُ. وَمَعْنَى الصِّفَةِ السَّلْبِيَّةِ هِيَ كُلُّ صِفَةٍ دَلَّتْ عَلَى سَلْبِ مَا لاَ يَلِيقُ بِاللَّهِ تَعَالَى، فَالْقِدَمُ يَسْلِبُ الْعَدَمَ السَّابِقَ عَلَى الْوُجُودِ، وَالْبَقَاءُ يَسْلِبُ الْعَدَمَ الَّذِي يَلْحَقُ الْوُجُودَ، وَمُخَالَفَتُهُ لِلْحَوَادِثِ تَنْفِي عَنْهُ الْمُمَاثَلَةَ لِلْمَخْلُوقَاتِ جُمْلَةً وَتَفْصِيلاً.

Terjemahan & Tafsir Mendalam:

Setelah Sifat Nafsiyah, terdapat Sifat Salbiyah yang berjumlah lima: al-Qidam (Dahulu), al-Baqa (Kekal), Mukhalafatu lil Hawadits (Berbeda dengan makhluk), Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri sendiri), dan al-Wahdaniyah (Esa). Definisi Sifat Salbiyah adalah sifat yang berfungsi meniadakan segala sesuatu yang tidak layak bagi keagungan Allah. Al-Qidam meniadakan adanya permulaan bagi keberadaan Allah; artinya, tidak ada kekosongan sebelum Allah ada. Al-Baqa meniadakan adanya akhir bagi keberadaan-Nya. Mukhalafatu lil Hawadits merupakan prinsip tanzih (penyucian) total, di mana Allah tidak serupa dengan makhluk dalam zat, sifat, maupun perbuatan. Allah bukan jism (materi), tidak bertempat, dan tidak terikat ruang serta waktu. Sifat-sifat ini adalah benteng akidah agar manusia tidak terjatuh dalam antropomorfisme (memanusiakan Tuhan) yang dapat merusak esensi ketuhanan.

وَأَمَّا صِفَاتُ الْمَعَانِي فَهِيَ صِفَاتٌ وُجُودِيَّةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِ اللَّهِ تَعَالَى تُوجِبُ لَهُ حُكْمًا، وَهِيَ سَبْعٌ: الْقُدْرَةُ وَالْإِرَادَةُ وَالْعِلْمُ وَالْحَيَاةُ وَالسَّمْعُ وَالْبَصَرُ وَالْكَلَامُ. فَالْقُدْرَةُ صِفَةٌ أَزَلِيَّةٌ يَتَأَتَّى بِهَا إِيجَادُ كُلِّ مُمْكِنٍ وَإِعْدَامُهُ عَلَى وَفْقِ الْإِرَادَةِ، وَالْعِلْمُ صِفَةٌ تَنْكَشِفُ بِهَا الْمَعْلُومَاتُ عَلَى مَا هِيَ عَلَيْهِ انْكِشَافًا لَا يَحْتَمِلُ النَّقِيضَ، وَالْكَلَامُ صِفَةٌ لَيْسَتْ بِحَرْفٍ وَلَا صَوْتٍ مُنَزَّهَةٌ عَنِ التَّقَدُّمِ وَالتَّأَخُّرِ.

Terjemahan & Tafsir Mendalam: