Pernah nggak sih kamu lagi asyik scrolling media sosial, terus tiba-tiba dada ngerasa sesak? Ngelihat temen sebaya udah pada lulus cepat, dapet kerjaan di SCBD, jalan-jalan ke luar negeri, atau bahkan udah posting foto lamaran pakai hashtag halal circle. Seketika langsung muncul perasaan insecure, cemas, dan ngerasa jadi manusia paling gagal sedunia. Fenomena ini biasa kita sebut FOMO alias Fear of Missing Out. Di era digital ini, FOMO bener-bener jadi musuh utama mental health anak muda. Tapi tenang, Islam punya jawaban super estetik dan menenangkan buat ngatasin badai kecemasan ini.
Poin pertama yang harus kita pahami adalah konsep takdir dan porsi hidup masing-masing. Allah SWT menciptakan setiap manusia dengan timeline hidup yang berbeda-beda. Jadi, membandingkan bab pertama hidupmu dengan bab pertengahan hidup orang lain itu nggak adil banget buat kesehatan mentalmu. Ketika kecemasan mulai melanda karena merasa tertinggal, cobalah untuk membaca doa yang diajarkan Rasulullah SAW untuk menenangkan hati yang gelisah:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ
Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari rasa cemas dan sedih, dari rasa lemah dan malas.
Doa ini adalah self-healing terbaik untuk mengembalikan fokus kita ke masa kini, bukan mencemaskan masa depan yang belum terjadi atau meratapi masa lalu yang sudah lewat.
Selanjutnya, poin kedua adalah melatih rasa syukur atau yang dalam Islam dikenal dengan istilah Qana'ah. Qana'ah itu adalah seni merasa cukup dengan apa yang kita miliki sekarang tanpa terus-menerus melihat ke atas. Di media sosial, orang-orang hanya menampilkan highlight terbaik dari hidup mereka, bukan proses jatuh bangun di balik layarnya. Biar kita nggak gampang kufur nikmat dan selalu merasa kurang, Allah SWT memberikan janji manis-Nya dalam Al-Quran:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Artinya: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.
Dengan bersyukur, kita sedang melakukan detoksifikasi hati dari racun-racun iri dan dengki akibat terlalu sering membanding-bandingkan diri dengan pencapaian orang lain.

