Pernah nggak sih kamu ngerasa kalau hidup ini kayak kompetisi yang nggak ada garis finish-nya? Buka TikTok isinya orang sukses di usia 20-an, buka LinkedIn isinya pencapaian karir temen yang makin melesat, terus buka Instagram isinya orang healing ke luar negeri terus. Fenomena hustle culture dan FOMO ini sering banget bikin kesehatan mental kita keganggu. Kita jadi gampang cemas, ngerasa kurang terus, sampai akhirnya kena burnout yang bikin burnout fisik maupun batin.
Poin pertama yang perlu kita pahami adalah belajar melepaskan kontrol atas hal-hal yang di luar kendali kita. Kita sering stres karena pengen semua rencana berjalan sempurna sesuai kemauan kita. Padahal, sebagai Muslim, kita punya konsep keren namanya Tawakkal. Saat dunia terasa terlalu berisik dan ekspektasi orang lain mulai mencekik, cobalah untuk tarik napas dalam-dalam dan ucapkan dalam hati:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِٱللَّٰهِ
Artinya: Tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah.
Kalimat ini bukan cuma dzikir biasa, tapi booster buat mental kita bahwa kita nggak sendirian mikul beban dunia ini. Ada kekuatan besar yang selalu backup kita. Jadi, kalau rencana A gagal, itu bukan akhir dunia, tapi sinyal kalau Allah lagi nyiapin skenario yang lebih plot twist dan lebih baik buat kita.
Selanjutnya, jangan lupa buat kasih nutrisi ke jiwa kita. Di tengah gempuran tren self-healing yang identik dengan staycation mahal atau belanja barang branded, Islam punya cara self-healing yang low budget tapi impact-nya high level. Caranya adalah dengan koneksi ulang sama Sang Pencipta. Kadang kita burnout karena hati kita terlalu penuh sama urusan duniawi sampai lupa kasih ruang buat ketenangan yang spiritual. Allah Subhanahu wa Ta'ala sudah kasih bocoran rahasia tenang di dalam Al-Qur'an:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Artinya: Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.
Mengingat Allah bisa lewat apa aja, mulai dari shalat yang nggak buru-buru, dengerin murottal pas lagi macet, atau sekadar curhat lewat doa di sujud terakhir. Kalau hati sudah tenang, masalah yang tadinya kelihatan segede gunung bakal terasa lebih manageable. Kita jadi punya perspektif baru kalau hidup ini bukan cuma soal pencapaian materi, tapi soal gimana kita bisa bermanfaat dan tetap waras di tengah hiruk-pikuk zaman.

