Ibadah puasa atau ash-shiyam merupakan salah satu pilar fundamental dalam struktur keislaman yang menuntut pemahaman mendalam melampaui sekadar menahan lapar dan dahaga. Secara epistemologis, puasa adalah bentuk ketaatan yang bersifat imsakiyah (menahan diri) yang diatur oleh koridor syariat yang sangat ketat. Para ulama dari kalangan empat madzhab, yakni Al-Hanafiyyah, Al-Malikiyyah, Ash-Shafi'iyyah, dan Al-Hanabilah, telah merumuskan kodifikasi hukum yang sistematis mengenai apa yang menjadi prasyarat (syuruth) dan apa yang menjadi pilar inti (arkan) agar ibadah ini diterima di sisi Allah SWT. Pemahaman yang parsial terhadap elemen-elemen ini berisiko mendegradasi nilai ibadah puasa menjadi sekadar rutinitas fisik tanpa nilai legal-formal yang sah dalam timbangan fiqih.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ. وَالصَّوْمُ فِي الشَّرْعِ هُوَ الْإِمْسَاكُ عَنِ الْمُفْطِرَاتِ جَمِيعِ الْيَوْمِ، مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ الصَّادِقِ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ، مَعَ النِّيَّةِ لِلتَّقَرُّبِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى. وَهُوَ فَرِيضَةٌ مُحْكَمَةٌ بِكِتَابِ اللَّهِ وَسُنَّةِ رَسُولِهِ وَإِجْمَاعِ الْأُمَّةِ.

Dalam Artikel

Terjemahan dan Syarah: Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. Secara syar'i, puasa diartikan sebagai tindakan menahan diri dari segala hal yang membatalkan (al-mufthirat) sepanjang hari, mulai dari terbitnya fajar shadiq hingga terbenamnya matahari, yang disertai dengan niat tulus untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala. Kewajiban ini merupakan ketetapan yang bersifat absolut (muhkam) yang didasarkan pada Al-Quran, Sunnah Rasulullah, serta konsensus para ulama (ijma'). Definisi ini menjadi fondasi awal dalam memahami bahwa puasa bukan sekadar aksi pasif, melainkan aksi aktif dalam mengendalikan eksistensi diri di hadapan Sang Khaliq.

Sebelum melangkah pada rukun, para fukaha membagi syarat puasa menjadi dua kategori utama: syarat wajib dan syarat sah. Syarat wajib berkaitan dengan siapa yang dibebani kewajiban (mukallaf), sedangkan syarat sah berkaitan dengan keabsahan ibadah tersebut secara hukum.

شُرُوطُ وُجُوبِ الصَّوْمِ عِنْدَ الْأَئِمَّةِ الْأَرْبَعَةِ تَشْتَمِلُ عَلَى الْإِسْلَامِ، وَالْبُلُوغِ، وَالْعَقْلِ، وَالْقُدْرَةِ عَلَى الصِّيَامِ، وَالْإِقَامَةِ. فَلَا يَجِبُ الصَّوْمُ عَلَى الْكَافِرِ وُجُوبَ مُطَالَبَةٍ فِي الدُّنْيَا، وَلَا عَلَى الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ، وَلَا عَلَى الْمَجْنُونِ حَتَّى يُفِيقَ، وَلَا عَلَى الْمَرِيضِ الَّذِي يَعْجِزُ عَنْهُ، وَلَا عَلَى الْمُسَافِرِ سَفَرًا قَصْرِيًّا.

Terjemahan dan Syarah: Syarat-syarat wajib puasa menurut empat imam madzhab mencakup Islam, baligh (dewasa), berakal sehat, memiliki kemampuan fisik (al-qudrah), serta berada dalam kondisi mukim (tidak sedang safar). Secara detail, puasa tidak diwajibkan atas orang kafir dalam konteks tuntutan hukum di dunia, tidak pula bagi anak kecil hingga ia mengalami mimpi basah, tidak bagi orang yang hilang ingatan hingga ia sadar kembali, tidak bagi orang sakit yang tidak mampu menanggung beban puasa, serta tidak wajib bagi musafir yang menempuh perjalanan jauh yang membolehkan qashar shalat. Namun, bagi musafir dan orang sakit, mereka diwajibkan menggantinya (qadha) di hari yang lain sesuai dengan prinsip kemudahan dalam syariat.

Setelah syarat wajib terpenuhi, maka aspek syarat sah menjadi krusial. Tanpa terpenuhinya syarat sah, maka puasa seseorang dianggap batal secara hukum meskipun ia telah menahan lapar seharian penuh. Di sinilah letak ketelitian para ulama dalam menjaga batas-batas suci ibadah.

وَأَمَّا شُرُوطُ صِحَّةِ الصَّوْمِ فَهِيَ: النِّيَّةُ، وَالتَّمْيِيزُ، وَالطَّهَارَةُ مِنَ الْحَيْضِ وَالنِّفَاسِ لِلنِّسَاءِ، وَقَبُولُ الزَّمَانِ لِلصَّوْمِ. فَلَا يَصِحُّ صَوْمُ الْحَائِضِ وَالنُّفَسَاءِ بِإِجْمَاعِ الْعُلَمَاءِ، وَيَحْرُمُ عَلَيْهِمَا، وَيَجِبُ الْقَضَاءُ. وَكَذَلِكَ لَا يَصِحُّ الصَّوْمُ فِي الْأَيَّامِ الْمَنْهِيِّ عَنْهَا كَعِيدِ الْفِطْرِ وَعِيدِ الْأَضْحَى وَأَيَّامِ التَّشْرِيقِ.

Terjemahan dan Syarah: Adapun syarat-syarat sahnya puasa adalah: niat, tamyiz (kemampuan membedakan baik dan buruk), suci dari haid dan nifas bagi wanita, serta waktu yang diperbolehkan untuk berpuasa. Berdasarkan kesepakatan ulama, puasa tidak sah bagi wanita yang sedang haid atau nifas; bahkan haram bagi mereka untuk melakukannya, namun mereka wajib meng-qadha-nya. Demikian pula, puasa tidak sah dilakukan pada hari-hari yang dilarang oleh syariat, seperti pada hari raya Idul Fitri, Idul Adha, serta hari-hari Tasyriq (11, 12, dan 13 Dzulhijjah), karena pada hari-hari tersebut Allah sedang menjamu hamba-Nya.