Ibadah puasa atau ash-shiyam merupakan salah satu manifestasi penghambaan yang paling primordial dalam Islam. Secara ontologis, puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah mekanisme pensucian jiwa (tazkiyatun nafs) yang memiliki kerangka hukum formal dalam diskursus fiqih. Para ulama dari empat madzhab besar—Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hanbali—telah merumuskan parameter legalitas puasa agar ibadah tersebut tidak hanya bernilai spiritual, tetapi juga sah secara hukum syariat. Memahami perbedaan dan persamaan di antara madzhab-madzhab ini sangat krusial untuk memperluas cakrawala keilmuan kita dalam menjalankan rukun Islam yang ketiga ini.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ . الصَّوْمُ فِي اللُّغَةِ هُوَ الْإِمْسَاكُ عَنِ الشَّيْءِ وَالتَّرْكُ لَهُ، وَفِي الشَّرْعِ عِبَارَةٌ عَنْ إِمْسَاكٍ مَخْصُوصٍ، وَهُوَ الْإِمْسَاكُ عَنِ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ وَالْجِمَاعِ مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ مَعَ النِّيَّةِ لِتَحْصِيلِ الْقُرْبَةِ إِلَى اللهِ تَعَالَى
Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 1:
Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. Secara etimologi, puasa berarti menahan diri dari sesuatu dan meninggalkannya. Namun secara terminologi syariat, ia adalah menahan diri secara khusus, yaitu menahan dari makan, minum, dan hubungan seksual, mulai dari terbitnya fajar shadiq hingga terbenamnya matahari, disertai niat untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala. Definisi ini menjadi fondasi bagi seluruh madzhab. Kata Kutiba dalam ayat di atas menunjukkan sebuah kewajiban absolut (fardhu) yang tidak dapat ditawar. Para mufassir menekankan bahwa tujuan akhir dari puasa adalah La'allakum Tattaqun, yang berarti puasa adalah sarana (wasilah) menuju derajat takwa yang merupakan puncak dari penghambaan.
أَرْكَانُ الصَّوْمِ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ ثَلَاثَةٌ: النِّيَّةُ، وَتَعْيِينُهَا فِي الْفَرْضِ، وَالْإِمْسَاكُ عَنِ الْمُفْطِرَاتِ، وَالصَّائِمُ. أَمَّا عِنْدَ الْجُمْهُورِ فَالرُّكْنُ هُوَ النِّيَّةُ وَالْإِمْسَاكُ. وَالنِّيَّةُ مَحَلُّهَا الْقَلْبُ وَلَا يُشْتَرَطُ التَّلَفُّظُ بِهَا، وَيَجِبُ فِي صَوْمِ الْفَرْضِ التَّبْيِيتُ وَهُوَ إِيقَاعُ النِّيَّةِ لَيْلًا قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ لِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ
Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 2:
Rukun puasa menurut madzhab Syafii ada tiga: niat, menentukan jenis puasa (ta'yin) dalam puasa fardhu, menahan diri dari hal-hal yang membatalkan, dan adanya orang yang berpuasa. Namun menurut mayoritas ulama (Jumhur), rukun puasa hanya dua: niat dan imsak (menahan diri). Niat bertempat di dalam hati dan tidak disyaratkan melafalkannya. Dalam puasa fardhu, wajib melakukan tabyit, yaitu menetapkan niat pada malam hari sebelum terbit fajar, berdasarkan sabda Nabi SAW: Barangsiapa yang tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya. Madzhab Syafii dan Hanbali sangat ketat dalam hal tabyit ini untuk puasa Ramadhan, sedangkan madzhab Hanafi memberikan kelonggaran dalam kondisi tertentu di mana niat bisa dilakukan setelah fajar hingga sebelum waktu zawal (tengah hari) jika belum makan apa-apa.
شُرُوطُ وُجُوبِ الصِّيَامِ تَنْقَسِمُ إِلَى شُرُوطِ وُجُوبٍ وَشُرُوطِ صِحَّةٍ. فَشُرُوطُ الْوُجُوبِ هِيَ الْإِسْلَامُ وَالْبُلُوغُ وَالْعَقْلُ وَالْقُدْرَةُ عَلَى الصَّوْمِ وَالْإِقَامَةُ. فَلَا يَجِبُ عَلَى الْكَافِرِ وُجُوبَ مُطَالَبَةٍ فِي الدُّنْيَا، وَلَا عَلَى الصَّبِيِّ وَالْمَجْنُونِ لِعَدَمِ التَّكْلِيفِ، وَلَا عَلَى الْمَرِيضِ وَالْمُسَافِرِ لِلْعُذْرِ الشَّرْعِيِّ، لَكِنْ يَجِبُ عَلَيْهِمَا الْقَضَاءُ بَعْدَ زَوَالِ الْعُذْرِ
Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 3:

