Ibadah puasa merupakan salah satu manifestasi ketaatan hamba yang paling sublim dalam Islam. Secara ontologis, puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah proses transendental untuk mencapai derajat ketaqwaan yang hakiki. Dalam diskursus fiqih, para ulama dari empat madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali) telah merumuskan kodifikasi hukum yang sangat detail mengenai apa yang menjadi penyangga (rukun) dan apa yang menjadi prasyarat (syarat) agar ibadah ini diterima secara legal-formal di hadapan syariat. Pemahaman yang parsial terhadap elemen-elemen ini berisiko mengurangi kualitas ibadah atau bahkan membatalkannya secara hukum. Oleh karena itu, diperlukan bedah teks yang otoritatif untuk memetakan perbedaan dan persamaan pandangan di antara para mujtahid tersebut.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ. وَالصَّوْمُ فِي اللُّغَةِ هُوَ الْإِمْسَاكُ وَفِي الشَّرْعِ عِبَارَةٌ عَنْ إِمْسَاكٍ مَخْصُوصٍ فِي وَقْتٍ مَخْصُوصٍ مِنْ شَخْصٍ مَخْصُوصٍ بِشَرَائِطَ مَخْصُوصَةٍ. وَقَدْ أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّ الصَّوْمَ رُكْنٌ مِنْ أَرْكَانِ الْإِسْلَامِ الْخَمْسَةِ الَّتِي بُنِيَ الدِّينُ عَلَيْهَا لِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ
Terjemahan & Tafsir Mendalam:
Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. Secara etimologi, puasa berarti al-imsak (menahan). Namun, secara terminologi syariat, puasa adalah penahanan diri yang khusus, pada waktu yang khusus, oleh individu yang khusus, dengan syarat-syarat yang khusus pula. Para ulama telah mencapai konsensus (ijma) bahwa puasa adalah pilar keempat dari rukun Islam. Penggunaan kata Kutiba dalam ayat di atas menunjukkan kewajiban yang bersifat mengikat (fardhu ain), di mana pengingkarannya dapat menyebabkan seseorang keluar dari koridor iman. Definisi syariat ini menekankan bahwa tidak semua tindakan menahan diri dapat disebut puasa kecuali jika memenuhi batasan-batasan hukum yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
الرُّكْنُ الْأَوَّلُ مِنَ أَرْكَانِ الصَّوْمِ هُوَ النِّيَّةُ لِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ. وَاشْتَرَطَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ مِنَ الْمَالِكِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ تَبْيِيتَ النِّيَّةِ فِي صَوْمِ الْفَرْضِ مِنَ اللَّيْلِ لِحَدِيثِ مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ. أَمَّا الْحَنَفِيَّةُ فَقَدْ جَوَّزُوا النِّيَّةَ فِي صَوْمِ رَمَضَانَ إِلَى مَا قَبْلَ نِصْفِ النَّهَارِ لِأَنَّ وَقْتَ الصَّوْمِ مُتَعَيِّنٌ لَا يَقْبَلُ غَيْرَهُ
Terjemahan & Tafsir Mendalam:
Rukun pertama dari puasa adalah niat, berdasarkan sabda Nabi SAW bahwa sesungguhnya setiap amal bergantung pada niatnya. Mayoritas ulama (Jumhur) dari kalangan Maliki, Syafi'i, dan Hanbali mensyaratkan tabyit (menginapkan niat) di malam hari sebelum fajar menyingsing untuk puasa fardhu. Hal ini didasarkan pada hadits: Barangsiapa yang tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya. Namun, madzhab Hanafi memberikan rukhshah (keringanan) bahwa niat puasa Ramadhan dianggap sah meskipun diucapkan pada pagi hari hingga sebelum waktu zawal (tengah hari), dengan argumentasi bahwa waktu Ramadhan sudah ditentukan secara khusus untuk puasa wajib sehingga tidak mungkin tertukar dengan ibadah lainnya. Perbedaan ini memberikan ruang bagi umat Islam dalam situasi darurat, meskipun mengikuti pendapat Jumhur dianggap lebih berhati-hati (ihtiyat).
الرُّكْنُ الثَّانِي هُوَ الْإِمْسَاكُ عَنِ الْمُفْطِرَاتِ مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ الصَّادِقِ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ. وَالْمُفْطِرَاتُ هِيَ الْأَكْلُ وَالشُّرْبُ وَالْجِمَاعُ وَالِاسْتِقَاءَةُ عَمْدًا. وَيَشْتَرِطُ الشَّافِعِيَّةُ أَنْ يَكُونَ الْإِمْسَاكُ مَعَ ذِكْرِ الصَّوْمِ وَالْعِلْمِ بِالتَّحْرِيمِ وَعَدَمِ الْإِكْرَاهِ. فَمَنْ أَكَلَ نَاسِيًا فَلَا قَضَاءَ عَلَيْهِ وَلَا كَفَّارَةَ عِنْدَ أَكْثَرِ الْأَئِمَّةِ لِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللهُ وَسَقَاهُ
Terjemahan & Tafsir Mendalam:

