Ibadah puasa atau as-shiyam bukan sekadar menahan lapar dan dahaga secara mekanistik, melainkan sebuah manifestasi ketundukan ontologis seorang hamba kepada Khaliq-nya. Dalam diskursus hukum Islam (tasyri), para fukaha dari madzhab Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali telah merumuskan kodifikasi yang sangat rigid mengenai apa yang membangun keabsahan ibadah ini. Perbedaan pandangan di antara mereka bukanlah sebuah kontradiksi yang melemahkan, melainkan sebuah kekayaan metodologis dalam proses istinbat hukum. Memahami syarat dan rukun puasa memerlukan ketelitian dalam membedah teks-teks klasik yang menjadi fondasi utama dalam setiap mazhab, guna memastikan bahwa ibadah yang dijalankan selaras dengan koridor syariat yang muktabar.
الصَّوْمُ فِي اللُّغَةِ هُوَ الْإِمْسَاكُ عَنِ الشَّيْءِ وَالتَّرْكُ لَهُ، وَفِي الشَّرْعِ عِبَارَةٌ عَنْ إِمْسَاكٍ مَخْصُوصٍ، وَهُوَ الْإِمْسَاكُ عَنِ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ وَالْجِمَاعِ مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ مَعَ النِّيَّةِ، وَهَذَا التَّعْرِيفُ يَتَضَمَّنُ الرُّكْنَيْنِ الْأَسَاسِيَّيْنِ لِلصَّوْمِ عِنْدَ جُمْهُورِ الْفُقَهَاءِ، وَهُمَا النِّيَّةُ وَالْإِمْسَاكُ عَنِ الْمُفْطِرَاتِ.
Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 1:
Puasa secara etimologis bermakna al-imsak atau menahan diri dari sesuatu dan meninggalkannya. Secara terminologi syariat, ia merupakan bentuk penahanan diri yang spesifik, yaitu menahan diri dari makan, minum, dan hubungan seksual mulai dari terbitnya fajar shadiq hingga terbenamnya matahari yang disertai dengan niat. Definisi ini mencakup dua rukun fundamental puasa menurut mayoritas fukaha (jumhur), yakni niat dan imsak (menahan diri dari hal-hal yang membatalkan). Ulama Syafi'iyah menambahkan rukun ketiga yaitu as-shoim (orang yang berpuasa), namun secara substansial, esensi puasa terletak pada dialektika antara niat yang bersifat batiniah dan imsak yang bersifat lahiriah. Tanpa niat, menahan lapar hanyalah aktivitas biologis biasa, dan tanpa imsak, niat hanyalah sebuah angan-angan tanpa realisasi ibadah.
اخْتَلَفَ الْأَئِمَّةُ فِي وَقْتِ النِّيَّةِ وَاشْتِرَاطِ التَّبْيِيتِ، فَعِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ وَالْمَالِكِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ لَا يَصِحُّ صَوْمُ رَمَضَانَ إِلَّا بِنِيَّةٍ مِنَ اللَّيْلِ لِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ، بَيْنَمَا ذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ إِلَى جَوَازِ النِّيَّةِ فِي صَوْمِ رَمَضَانَ وَالنَّفْلِ إِلَى مَا قَبْلَ نِصْفِ النَّهَارِ الشَّرْعِيِّ.
Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 2:
Para imam madzhab berbeda pendapat mengenai waktu niat dan syarat tabyit (menginapkan niat di malam hari). Menurut madzhab Syafi'i, Maliki, dan Hanbali, puasa Ramadhan tidak sah kecuali dengan niat yang dilakukan pada malam hari sebelum fajar, berdasarkan hadits Nabi SAW: Barangsiapa yang tidak menginapkan niat puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya. Sebaliknya, madzhab Hanafi memberikan rukhshah (keringanan) dengan membolehkan niat puasa Ramadhan, puasa nadzar mu'ayyan, dan puasa sunnah dilakukan hingga sebelum masuk waktu zawal (tengah hari syar'i), asalkan orang tersebut belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa sejak fajar. Perbedaan ini berakar pada klasifikasi puasa; apakah ia merupakan ibadah yang memerlukan penentuan (ta'yin) sejak awal ataukah waktu itu sendiri sudah menjadi penentu bagi jenis ibadah tersebut.
أَمَّا شُرُوطُ وُجُوبِ الصَّوْمِ فَهِيَ الْإِسْلَامُ وَالْبُلُوغُ وَالْعَقْلُ وَالْقُدْرَةُ عَلَى الصَّيَامِ، وَأَمَّا شُرُوطُ صِحَّتِهِ فَمِنْهَا النِّيَّةُ وَالتَّمْيِيزُ وَالنَّقَاءُ عَنِ الْحَيْضِ وَالنِّفَاسِ وَالْعِلْمُ بِكَوْنِ الْوَقْتِ قَابِلًا لِلصَّوْمِ، فَلَا يَصِحُّ صَوْمُ الْحَائِضِ وَالنُّفَسَاءِ وَإِنْ كَانَ يَجِبُ عَلَيْهِمَا الْقَضَاءُ تَعَبُّدًا وَامْتِثَالًا لِأَمْرِ الشَّارِعِ.
Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 3:

