Dalam diskursus teologi Islam, pembahasan mengenai sifat-sifat Allah (Sifatullah) merupakan salah satu pilar paling fundamental sekaligus sensitif. Para ulama salaf dan khalaf telah merumuskan berbagai metodologi epistemologis untuk memahami teks-teks wahyu yang secara zahir mengindikasikan adanya keserupaan antara Pencipta dan makhluk (ayat-ayat mutasyabihat). Pendekatan ilmiah yang lurus menuntut kita untuk berdiri di atas manhaj yang moderat, yaitu menetapkan apa yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya (itsbat) tanpa melakukan penyerupaan (tashbih), penyamaan (tamsil), pengosongan makna (ta'thil), maupun rekonstruksi bentuk (takyif). Artikel ilmiah ini akan membedah secara komprehensif teks-teks kunci dalam Al-Quran dan As-Sunnah guna menyingkap hakikat keluhuran zat Allah serta kedekatan ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu.
Penjelasan Teologis Blok 1:
Penetapan sifat keluhuran Allah di atas Arsy-Nya merupakan salah satu fondasi utama dalam memahami konsep Al-Uluww (ketinggian). Ayat ini menjadi poros perdebatan ilmiah antar-mazhab teologi, di mana Ahlus Sunnah menetapkannya sebagai sifat khabariyyah yang wajib diyakini kebenarannya secara hakiki tanpa membayangkan bentuk fisik atau batasan material yang lazim bagi makhluk hidup.
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
Terjemahan & Syarah Mendalam Blok 1:
Maha Pengasih, yang bersemayam di atas Arsy. (Surah Thaha Ayat 5).
Syarah Ilmiah: Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menegaskan bahwa dalam memahami ayat ini, kita wajib mengikuti mazhab Salafus Shalih seperti Malik, Al-Auza'i, As-Syafi'i, Ahmad, dan Ishaq bin Rahawayh. Mereka menerima ayat ini sebagaimana adanya tanpa takyif (menanyakan bagaimana), tanpa tamsil (menyerupakan), dan tanpa ta'thil (menolak). Arsy secara bahasa adalah makhluk terbesar yang menjadi atap seluruh makhluk, sedangkan Istawa secara bahasa memiliki makna tinggi dan menetap. Namun, ketika disandarkan kepada Allah, sifat Istawa ini tidak boleh dipahami sebagai duduknya makhluk di atas kursi yang membutuhkan penopang, melainkan sebuah keluhuran yang layak bagi keagungan zat-Nya yang suci dari segala kekurangan fisik.
Penjelasan Teologis Blok 2:
Untuk mengimbangi pemahaman tentang keluhuran zat Allah di atas Arsy, Al-Quran secara simultan menyajikan konsep Ma'iyyah (kebersamaan) Allah dengan makhluk-Nya. Hal ini penting agar manusia tidak membayangkan bahwa Allah berada jauh terpisah hingga tidak mengetahui keadaan hamba-Nya. Konsep ini menegaskan kemahatahuan Allah yang absolut dan pengawasan-Nya yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu.

