Pondasi utama dalam bangunan keislaman seorang hamba adalah makrifatullah atau mengenal Allah Swt secara mendalam melalui sifat-sifat-Nya. Para ulama mutakallimin, khususnya dari kalangan Asy-ariyah dan Maturidiyah, telah merumuskan sistematika pemahaman akidah yang sangat rigid untuk menjaga kemurnian tauhid dari syubhat tasybih (penyerupaan) dan tathil (peniadaan). Mengenal sifat wajib bagi Allah bukan sekadar menghafal deretan kata, melainkan sebuah proses dialektika intelektual dan spiritual untuk memahami hakikat ketuhanan yang absolut. Sifat-sifat ini terbagi dalam empat kategori utama, yakni Nafsiyah, Salbiyah, Maani, dan Manawiyah, yang semuanya bersumber dari dalil naqli yang qath’i dan dalil aqli yang logis.
Eksistensi Allah Swt merupakan keniscayaan mutlak yang menjadi titik awal dari segala sesuatu. Sifat Wujud sebagai sifat Nafsiyah menegaskan bahwa Allah itu ada tanpa didahului oleh tiada. Secara ontologis, keberadaan alam semesta yang bersifat mungkin (mungkinul wujud) menuntut adanya Sang Pencipta yang bersifat wajib (wajibul wujud).
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ . فَوُجُودُ اللهِ تَعَالَى ثَابِتٌ بِالذَّاتِ لَا بِعِلَّةٍ خَارِجِيَّةٍ وَهُوَ نَفْسُ الذَّاتِ الْمُقَدَّسَةِ الَّتِي لَا تَقْبَلُ الْعَدَمَ أَزَلًا وَأَبَدًا . فَالْوُجُودُ صِفَةٌ نَفْسِيَّةٌ لَا يُعْقَلُ الذَّاتُ بِدُونِهَا وَهِيَ أَصْلُ جَمِيعِ الصِّفَاتِ الْكَمَالِيَّةِ الَّتِي يَجِبُ اعْتِقَادُهَا فِي حَقِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
Terjemahan & Tafsir Mendalam: Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Eksistensi Allah Ta’ala adalah tetap secara Zat-Nya sendiri, bukan karena sebab eksternal. Wujud merupakan sifat Nafsiyah, di mana akal tidak dapat membayangkan Zat tanpa adanya sifat tersebut. Dalam kajian mufassir, ayat ini menunjukkan bahwa Allah melampaui batasan waktu dan ruang. Sifat Wujud ini membedakan antara Sang Khalik yang bersifat Qadim dengan makhluk yang bersifat Hadits (baru). Tanpa menetapkan sifat Wujud, maka seluruh bangunan teologi akan runtuh, karena mustahil menyematkan sifat kesempurnaan pada sesuatu yang tidak ada.
Setelah menetapkan keberadaan-Nya, akal dan wahyu menuntun kita untuk meniadakan segala bentuk kekurangan yang tidak layak bagi keagungan Tuhan. Inilah yang disebut dengan Sifat Salbiyah. Salah satu yang paling fundamental adalah Mukhalafatuhu lil Hawadits, yakni perbedaan Allah secara totalitas dari segala sesuatu yang baru (makhluk). Allah tidak menyerupai makhluk-Nya dalam hal zat, sifat, maupun perbuatan.
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ . وَهَذِهِ الصِّفَةُ تَنْفِي عَنِ اللهِ تَعَالَى الْجِسْمِيَّةَ وَالْعَرَضِيَّةَ وَالْكُلِّيَّةَ وَالْجُزْئِيَّةَ وَالْجِهَةَ وَالْمَكَانَ . فَسُبْحَانَ مَنْ تَنَزَّهَ عَنْ مُشَابَهَةِ الْمَخْلُوقَاتِ وَتَقَدَّسَ عَنْ سِمَاتِ الْمُحْدَثَاتِ فَلَا يُقَالُ أَيْنَ وَلَا كَيْفَ لِأَنَّهُ خَالِقُ الْأَيْنِ وَالْكَيْفِ
Terjemahan & Tafsir Mendalam: Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Sifat ini secara tegas menafikan dari Allah Ta’ala sifat-sifat kebendaan (jismiyah), sifat-sifat aksidental (aradhiyah), serta batasan ruang dan arah. Secara hermeneutika teologis, para ulama menekankan bahwa setiap bayangan yang terlintas dalam pikiran manusia tentang Allah, maka Allah tidaklah seperti itu. Penafian ini penting untuk menjaga kesucian tauhid agar tidak terjerumus dalam paham antropomorfisme (tajsim) yang memvisualisasikan Tuhan dalam bentuk materi atau dimensi fisik tertentu.
Selanjutnya adalah Sifat Ma’ani, yaitu sifat-sifat kesempurnaan yang berdiri pada Zat Allah. Di antaranya yang paling krusial dalam mengatur alam semesta adalah Qudrat (Kuasa) dan Iradat (Kehendak). Segala sesuatu yang terjadi di jagat raya ini merupakan manifestasi dari kekuasaan Allah yang mutlak dan kehendak-Nya yang tidak terbatas oleh apa pun.
إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ . فَالْقُدْرَةُ صِفَةٌ قَدِيمَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى يَتَأَتَّى بِهَا إِيجَادُ كُلِّ مُمْكِنٍ وَإِعْدَامُهُ عَلَى وَفْقِ الْإِرَادَةِ . وَالْإِرَادَةُ هِيَ الصِّفَةُ الَّتِي تُخَصِّصُ الْمُمْكِنَ بِبَعْضِ مَا يَجُوزُ عَلَيْهِ مِنَ الْأُمُورِ الْمُتَقَابِلَةِ كَالْوُجُودِ بَدَلًا عَنِ الْعَدَمِ

